Berita Terbaru

ESK-29 Bersama SM IAGI UIR: Inklusi Fluida dalam Kegiatan Eksplorasi MIneral

Selasa, 3 Oktober 2017, SM IAGI UIR mengadakan sharing knowledge dengan pembicara Agata Vanessa, ST. yang merupakan anggota FGMI dan Trisa Muliyana. Keduanya bekerja di Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi, Badan Geologi di bawah Kementrian ESDM. Mahasiswa SM yang ikut serta dalam sharing ini berjumlah 32 orang. Sebelum dimulai, acara ini dibuka oleh Ketua Program Studi Teknik Geologi UIR, Ibu Yuniati Yuskar, ST., MT. dilanjutkan oleh ketua SM IAGI UIR Zulhikmah.

Materi yang disampaikan dalam sharing knowledge kali ini mengenai Inklusi Fluida dalam kegiatan eksplorasi mineral. Dalam pemaparan ini dijelaskan bahwa analisis inklusi fluida dilakukan untuk menentukan temperatur pengendapan mineral, salinitas fluida yang berperan dalam alterasi dan mineralisasi, dan membantu mengkorelasi tahapan mineralisasi. Inklusi fluida adalah inklusi yang terperangkap dapat sebagai fasa zat padat, cair, dan gas pada suatu mineral tertentu (contoh: kuarsa, kalsit, sfalerit). Inklusi fluida memiliki beberapa fasa yaitu gas, cair, dan padat. Dalam prosesnya inklusi fluida dapat terbentuk secara primer dan sekunder. Pengukuran dari inklusi fluida adalah temperatur homogenisasi dan temperatur leleh. Temperatur Homogenisasi adalah temperatur yang diperoleh dengan cara menaikkan suhu sampai inklusi fluida, pada suhu tertentu mengalami perubahan fisik menjadi satu fasa. Temperatur homogenisasi ini merupakan temperatur pengendapan mineral. Temperatur Leleh adalah temperatur yang diperoleh dengan cara menurunkan suhu sampai pada batas tertentu inklusi fluida mengalami perubahan fisik membeku, kemudian inklusi kembali dipanaskan perlahan-lahan sampai inklusi kembali mencair seperti pada kondisi awal sebelum dibekukan. Dari temperatur leleh ini, dengan perhitungan tertentu akan mendapatkan salinitas fluida.

Sharing knowedge yang belangsung hingga 2 jam ini dilakukan secara 2 arah, beberapa mahasiswa bertanya terkait materi yang disampaikan dan juga terkait dengan peran kegeologian dalam eksplorasi mineral saat ini. Sharing knowledge kali ini diharapakan dapat membuka wawasan mahasiswa terutama dalam eksplorasi mineral.

Foto Bersama Agata Vanessa (pembicara), Trisa Muliyana (pembicara) dan peserta sharing kwowledge yang diselenggarakan oleh SM IAGI UIR.

Pelantikan SM-IAGI Trisakti dan Seminar Penginderaan Jauh untuk Mitigasi Bencana Geologi

Peresmian SM-IAGI USAKTI ditandai dengan penyerahan bendera SM-IAGI

Pada hari Sabtu, tanggal 18 September 2017, jumlah Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia (SM-IAGI) kembali bertambah. Teknik Geologi Universitas Trisakti telah resmi dilantik menjadi SM-IAGI ke 25. Peresmian SM-IAGI USAKTI ini berlangsung di kampus Universitas Trisakti. Acara peresmian ini dimulai dengan kata sambutan dari Sekretaris Jurusan Teknik Geologi Trisakti Bp. Apriandi menggantikan Pembimbing SM-IAGI USAKTI Bp. Burhanudin yang sedang sakit. Kata sambutan juga disampaikan oleh dari Bp. Afiat Anugrahadi selaku Dekan FTKE USAKTI, beliau sangat mendukung dan berterima kasih atas adanya SM-IAGI USAKTI dan berharap mahasiswa bisa berkolaborasi dengan SM-IAGI kampus lainnya dan bisa aktif mengadakan kegiatan-kegiatan untuk mengasah soft skill mahasiswa. Turut hadir pada acara peresmian ini Ketua Umum IAGI Bp. Sukmandaru yang juga memberikan sambutan dan menjelaskan keberadaan SM-IAGI dan FGMI. Acara pelantikan secara simbolis dari IAGI memberikan Surat Keputusan dan bendera SM-IAGI USAKTI kepada Bp. Afiat Anugrahadi selaku dekan FTKE dan secara simbolis penyerahan seragam organisasi SM-IAGI kepada Sekjur Teknik Geologi USAKTI.

Foto pengurus SM-IAGI Usakti yang baru dengan pengurus FGMI dan Ketua Umum IAGI

 

Acara dilanjutkan dengan seminar tentang “Penginderaan Jauh untuk Mitigasi Bencana Geologi” oleh Bp. Syarif Budhiman selaku Kepala Bidang Penginderaan Jauh LAPAN. Materi seminar diawali dengan perkenalan tentang LAPAN terutama bidang penginderaan jauh, kemudian dijelaskan definisi penginderaan jauh, kegunaan penginderaan jauh dan penggunaan penginderaan jauh untuk mitigasi bencana geologi seperti letusan gunung api, tsunami dan tanah longsor. Diskusi berjalan sangat menarik dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa dan dalam kesempatan ini juga Bp. Syarif memberikan penawaran kepada mahasiswa geologi trisakti untuk berkunjung ke LAPAN maupun jika ingin melakukan kerja praktek dan skripsi di LAPAN.

Foto bersama dengan seluruh peserta seminar “Penginderaan Jauh untuk Mitigasi Bencana Geologi” oleh Bp. Syarif Budhiman

 

Partisipasi FGMI Dalam Edukasi Konservasi Alam pada Festival Krakatau 2017

Agata Vanessa dan Setyo Wahyu mewakili FGMI dalam tour Krakatau

Festival Krakatau merupakan salah acara tahunan terbesar di Provinsi Lampung yang diselenggarakan sejak tahun 1990 dengan mengangkat nilai budaya dan tradisi lokal Provinsi Lampung. Festival dengan tema “The Glory of The Lampung Crown” ini diikuti oleh perwakilan seluruh Kabupaten dari Provinsi Lampung dengan membawakan seluruh budaya dan tradisi khas dari setiap Kabupaten yang berada di Provinsi Lampung. Dalam acara festival ini, Dinas Pariwisata Provinsi Lampung turut mengundang Blogger, Media, dan Organisasi sebagai sarana memperkenal keistimewaan Provinsi Lampung kepada masyarakat luas.

Festival Krakatau 2017 dilaksanakan tanggal 25 – 27 Agustus 2017 turut mengundang Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI)  yang diwakili oleh Agatha Vanessa (Ketua FGMI Korwil Bandung) dan Setyo Wahyu Nurdian (Anggota FGMI Korwil Bandung). Acara Festival Krakatau 2017 terbagi atas 2 sesi yaitu Tour Krakatau  yang dilaksanakan pada 25 sampai 26 Agusutus 2017 di Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau serta Pesona Kemilau Sang Bumi Ruwa Jurai pada tanggal 26 sampai 27 Agustus 2017 di Kota Bandar Lampung.  Acara Tour Krakatau dibuka di Dermaga Bom oleh perwakilan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Lampung (BKSDA) dan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung sekaligus melepas sekitar 250 perserta menggunakan kapal penumpang menuju Pulau Sebesi untuk menginap dan mengenal potensi pariwisata di Pulau Sebesi.

FGMI dan komunitas lain yang mengikuti festival Krakatau

26 Agustus 2017 dini hari, seluruh peserta berangkat menuju Gunung Anak Krakatau dalam rangka mengikuti acara edukasi konservasi alam. Di Gunung Anak Krakatau, Saturnino, perwakilan dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Lampung (BKSDA) menjelaskan pentingnya konservasi alam di daerah Cagar Alam Krakatau kepada media dan organisasi terkait. Dengan penjelasan itu, diharapkan pihak Media dan Organisasi dapat membagikan informasi agar timbul kesadaran masyarakat akan konservasi alam sehingga masyarakat mengetahui bahwa Cagar Alam Krakatau bukanlah tempat wisata saja melainkan tempat Edukasi Konservasi Alam. Pada 27 Agustus acara selanjutnya diselenggarakan di Lapangan Saburai, Bandar Lampung.

Perwakilan Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) dan SM-IAGI Universitas Lampung mendapat kesempatan untuk mengisi sebuah booth Geologi yang bertujuan untuk mengenalkan Gunung Krakatau secara geologi kepada masyarakat Provinsi Lampung. Selain dari FGMI dan SM-UNILA, penjagaan dan pengisian di booth juga diisi oleh Geotour Lampung yang juga merupakan mahasiswa UNILA yang diwakili oleh Andi.

Acara ini menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik wisatawan menikmati pesona budaya dan keindahan yang tersembunyi di Provinsi Lampung.

Booth IAGI yang dibantu oleh SM-IAGI UNILA dan Geotour Lampung

Bincang Santai FGMI dengan Penggiat Alam Harley Sastha

Tim FGMI dengan Harley Sastha

Latar Belakang Wawancara

Forum Geosaintis Muda Indonesia sejatinya harus bisa dekat dengan masyarakat, harus mulai bisa dikenal dengan baik oleh kalangan masyarakat, komunitas/organisasi lainnya dan pemangku kepentingan di negeri ini. Oleh karena itu mulai tahun 2017 ini tim media yang dibantu tim humas menggalakkan temu tokoh berbagai komunitas maupun pemimpin perusahaan. Salah satu yang dilakukan adalah bertemu dengan penggiat alam bernama Harley Bayu Sastha. Pada tanggal 20 Mei 2017 beberapa pengurus FGMI berkesempatan ngobrol bareng di salahsatu gerai Dunkin Donuts di Bogor, siapa kah dia? Simak wawancaranya berikut ini.

 

Siapa Harley Bayu Sastha?

Nama awalnya Harley, seperti salah satu pabrikan motor gede di dunia ini. Ternyata nama beliau diberikan oleh ayahanda nya karena ayahnya hobi menggunakan Harley Davidson. Pria yang berperawakan tinggi dan kurus ini ternyata berlatar belakang Teknik Sipil di salahsatu perguruan tinggi. Hobi nya dari kecil sudah berwisata alam, baik camping maupun melakukan pendakian. Pria kelahiran Bogor ini adalah penulis buku Mountain climbing for everybody dan Menuju Puncak Gunung Tambora. Serta penulis di Mountain Magazine. Aktivitas kesehariannya adalah menjadi penggiat alam bebass, menjadi narasumber di berbagai acara. Hal yang selalu dikampanyekan beliau adalah “Sadar Kawasan” dan saat ini menjadi salahsatu panitia Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati tanggal 10 Agustus 2017.

 

Sejak kapan suka dengan kegiatan alam bebas?

Dari kelas satu SMP sudah sering jalan-jalan setiap libur sekolah, ke Jogja, Bandung dll. Sejak masuk SMA mulai menyenangi kegiatan camping bersama teman-temannya.

 

Mengapa selalu mengkampanyekan pentingnya mengetahui status kawasan sebagai tempat kegiatan wisata alam?

Wisata alam saat ini bukan hanya menjadi hobi, tapi juga sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang tetapi sebagian besar hanya ingin bermain dan bersantai, tidak ingin tau bagaimana tempat wisata tersebut baik sejarahnya maupun kondisinya apakah itu termasuk taman wisata alam ataupun kawasan taman nasional atau status lainnya seperti taman hutan raya, cagar alam atau suaka margasatwa. Karena masing-masing punya aturan dan tatacara yang berbeda sesuai dengan fungsi dan tujuan kegiatan.

Ketika melakukan kegiatan di dalam kawasan konservasi pun sudah ada jalur-jalur resmi yang telah ditetapkan oleh pengelola. Nah, cukup gunakanlah jalur-jalur resmi tersebut. Jangan gunakan jakur lain diluar jalur resmj yang telah ditetapkan. Stop! jalur ilegal.

Yang juga harus diingat: baca, lihat dan pahami do and don’t atau apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika melakukan aktifitas di dalam kawasan.

 

Kontribusi apa yang telah dilakukan?

Perjalanan nya ke Gunung Tambora, yang mempunyai sejarah letusan luar biasa membuat kang sastha tersadar bahwa Gunung ini harus dilestarikan dan diangkat menjadi kawasan taman nasional. Seharusnya anak-anak muda geosaintis menyadari hal ini dari dulu, tapi nampaknya peran anak muda geosain kurang dalam hal ini. Kang sastha beserta teman-temannya mulai menulis tentang Gunung Tambora, buku ini tidak dijual namun tersimpan sebagai arsip di kementrian kehutanan Indonesia. Untuk menjadikan kawasan Gunung Tambora menjadi Taman Nasional, dibentuklah beberapa team yang berisi ahli vulkanologi dari LIPI, ahli geologi, biologi dan social. Kang sastha sendiri masuk dalam salahsatu tim tersebut.

 

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah di tempat wisata khususnya gunung?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah “riset”, riset kecil mengenai lokasi tujuan wisata kita, bagaimana kondisi disana, apakah ada warung, apakah ada mata air, berapa lama akan menjelajahi kawasan tersebut, apakah akan camping dll. Hal-hal kecil tersebut akan sangat berdampak pada bahan makanan yang akan dibawa, jumlah minum yang harus dipersiapkan dan jika dilokasi tersebut ada mata air maka kita bisa hanya membawa tumblr untuk mengurangi sampah plastik. Tidak dipungkiri bahwa gunung dan kawasan wisata lainnya penuh dengan sampah saat ini, para relawan berbagai komunitas sering melakukan pembersihan dalam waktu-waktu tertentu. Untuk itu kita harus menjadi traveler yang smart, mencintai alam karna alam yang membutuhkan kita bukan kita yang membutuhkan alam.

 

Apa harapannya untuk masyarakat dalam hal wisata?

Harapannya masyarakat tidak hanya menjadikan alam sebagai objek. Jadikanlah alam sebagi parnert.  Alam sangat penting untuk terus dijaga kelestariannya. Jelajai alam dengan bijak dan cerdas. Lihat, dengar dan rasakan. Niscaya akan kalian dapatkan bagaimana alam punya banyak cerita. Karena manusia membutuhkan alam, bukan alam yang membutuhkan manusia. Satu hal lagi yang paling penting, ketika wisatawan membeli souvenir dari suatu tempat wisata hendaknya jangan membeli souvenir yang merupakan hasil secara langsung maupun tak langsung dari flora/fauna yang dilindungi.

Geostudent Competition 2017 Akan Diikuti 18 SM IAGI

 

Setelah sukses menyelenggarakan Geostudent Competition (GEOSC) yang pertama pada tahun 2016 dalam rangkaian acara Pre-Convention GeoSea dan 54 tahun IAGI, pada tahun 2017 ini akan dilaksanakan GeoStudent Competition ke-2. Berdasarkan musyawarah antar SM-IAGI yang mengikuti GEOSC pertama di Universitas Indonesia, diputuskan UPN “Veteran” Yogyakarta akan menjadi tuan rumah untuk ajang kompetisi dan silaturahmi seluruh SM-IAGI yang ada di Indonesia. GEOSC ini akan diadakan pada tanggal 2-4 November 2017 yang terdiri dalam berbagai rangkaian acara.

Tanggal 2 November 2017 akan dilaksanakan perlombaan dengan 6 kategori, yaitu Geothermal, Analisa Log, Analisa Batuan, Mitigasi Bencana, Poster Geowisata dan Wawasan Geosaintis. Masing-masing SM-IAGI yang diwakili 3 orang akan mengikuti semua kategori lomba tersebut. Khusus untuk Geowisata, para peserta akan mempresentasikan penelitiannya dihadapan juri. Lomba akan dilakukan dari pagi sampai sore hari. Tanggal 3 November 2017, akan dilaksanakan fieldtrip GeoHeritage di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan instruktur Bapak C. Prasetyadi yang merupakan salah satu dosen geologi UPN “Veteran” Yogyakarta. Stopsite pertama akan dimulai dari Candi Ijo yang berada di Kalasan kemudian akan diteruskan ke Lava Bantal di Berbah dan stopsite ke tiga akan mengunjungi Gunung Api Purba Nglanggeran, perjalanan berikutnya menuju ke daerah Bayat untuk mengunjungi Watu Prahu. Fieldtrip ini akan sangat bermanfaat tentunya bagi mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia ini.

Acara hari terakhir, 4 November 2017 akan dilakukan diskusi SM-IAGI dengan FGMI kemudian akan diisi seminar dan ditutup malam harinya dengan pengumuman pemenang lomba dan penampilan kesenian dari masing-masing perwakilan SM-IAGI dan panitia.

Sampai bertemu di Yogyakarta calon-calon pemimpin masa depan Indonesia.

 

Salam geosaintis muda Indonesia!!!

 

 

FGMI Ikut Memeriahkan HKAN 2017

HKAN (Hari Konservasi Alam Nasional) merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati hari konservasi alam yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus 2017. Kegiatan ini telah diselenggarakan untuk ke-3 kalinya yang sebelumnya telah berlangsung di Taman Nasional Bali Barat dan kini di langsungkan di Taman Nasional Baluran.

Dalam perhelatan besar ini, Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) selaku anak organisasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut yang diwakili oleh Oka Agastya (Litbang FGMI), Arifin (Ketua SM IAGI AKPRIND) dan Rahman (SM IAGI ITS). Kegiatan HKAN 2017 berlangsung dari tanggal 7-11 Agustus 2017.

 

Foto teman-teman FGMI di acara HKAN 2017

Pada hari rabu, 9 Agustus 2017 secara resmi kegiatan jambore Hari Konservasi Alam Nasional ke 3 di Taman Nasional Baluran di buka oleh Ditjen. KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam and Ekosistem) dimana kegiatan ini di ikuti oleh Balai KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) seluruh Indonesia, pengelola Taman Nasional maupun mitranya dan komunitas penggiat konservasi. Kegiatan di hari pertama ini di awali dengan pembukaan jambore dan perkenalan antar komunitas. Diadakan juga talkshow mengenai kendala maupun pengalaman dalam konservasi maupun eco-wisata berbasis konservasi. Di sela-sela kegiatan peserta perwakilan FGMI juga berkenalan dengan berbagai macam komunitas salah satunya FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia). Momen ini dimanfaatkan untuk sharing kegiatan dan tukar pikiran mengenai konservasi dan peranan ilmu kebumian dalam konservasi teersebut.

Keadaan tempat perkemahan (kampong konservasi) HKAN 2017 (1)

Pada hari kamis, 10 Agustus 2017 yang bertepatan dengan peringatan hari konservasi alam nasional, kegiatan hari ini dibuka langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya, di tandai dengan pelepasan burung merak hijau dan burung elang. Selanjutnya para peserta jambore dan undangan menghadiri pameran HKAN 2017 yang diisi oleh berbagai Taman Nasional di Indonesia. Diadakan juga workshop travel writer. videography dan kepemanduan pariwisata dan kegiatan fieldtrip di daerah Savana Bekol, Pantai Bama, Bendungan Bajul Mati, Bird Watching, tranplantasi coral di dalam Taman Nasional dan kegiatan kerja nyata HKAN 2017.

Keadaan tempat perkemahan (kampong konservasi) HKAN 2017 (2)

Bertemu dengan berbagai macam lintas komunitas dan badan konservasi, peserta banyak mendapatkan pengalaman dan wawasan mengenai konservasi dan melihat sisi konservasi dari sudut pandang berbagai keilmuan, dan mengenal regulasi di dunia konservasi alam. Semoga dengan kegiatan ini memiliki manfaat banyak bagi FGMI sehingga kesadaran akan pentingnya peranan geosaintis muda dalam konservasi harus ditumbuhkan, baik konservasi dalam geowisata maupun konservasi singkapan yang memiliki nilai yang luar biasa bagi pembelajaran kebumian ataupun yang nantinya digunakan sebagai kegiatan wisata berbasis kebumian.

Buka Puasa Bersama FGMI dan Anak Yatim

   Dalam rangka bulan Ramadhan 1438 H ini, Forum Geosaintis Muda Indonesia mempunyai program yang dinamakan FGMI Berbagi. Pada hari Minggu 4 Juni 2017, FGMI mengadakan Buka puasa bersama anak yatim di Panti Yatim Indonesia Tebet Jakarta Selatan. Acara dihadiri oleh 20 pengurus FGMI yang ada di Jakarta. Panti Yatim Indonesia ini mempunyai beberapa jaringan di Jakarta diantaranya di Tebet, Kebayoran Baru dan mempunyai kantor pusat di kota Bandung. Jumlah anak yang ikut dalam acara buka puasa bersama tersebut sejumlah 20 orang yang berumur 4-14 tahun.

   Acara dimulai dengan sholat ashar berjamaah, kemudian dimeriahkan dengan games bersama antara teman-teman FGMI dan anak-anak panti, anak-anak panti yang bisa memenangkan games tersebut mendapat hadiah dari panitia FGMI. Kemudian acara dilanjutkan dengan tausiah dari pengurus Panti Yatim Indonesia sampai dengan waktu berbuka puasa. Pihak pengurus sangat senang dengan kehadiran kita, apalagi melihat teman-teman yang masih muda dan peduli, diharapkan silaturahmi ini tetap terjaga diluar bulan suci Ramadhan.

Pemberian bingkisan kepada semua anak panti

   Setelah sholat maghrib berjamaah, diberikan sumbangan kepada pengurus Panti Yatim Indonesia, sumbangan ini berupa uang tunai dan pakaian bekas layak pakai dari para donatur pengurus FGMI dan IAGI. Setelah makan bersama, acara diakhiri dan ditutup dengan pemberian kenang-kenangan untuk semua adik-adik panti dan foto bersama.

Pemberian donasi kepada pengurus panti

   Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada semua pengurus FGMI dan pengurus IAGI yang sudah mendonasikan sebagian rejekinya untuk adik-adik di Panti Yatim Indonesia. Semoga amalannya diterima disisi ALLAH SWT, Amin.

Foto bersama teman-teman FGMI dan adik-adik Panti Yatim Indonesia

Sinergi FGMI dengan Asosiasi Program Studi Teknik Geologi Indonesia (Asproditegi)

   Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) terus berupaya untuk berkolaborasi dengan organisasi-organisasi lainnya untuk bisa mendukung kegiatan FGMI yang lebih baik. Salahsatu rencana kegiatan FGMI di tahun 2017 adalah Geostudent Competition, kegiatan ini adalah ajang kompetisi kampus-kampus geologi di seluruh Indonesia yang diadakan selama 3 hari, ini merupakan ajang kompetisi yang kedua dimana kegiatan yang pertama dilakukan  di Universitas Indonesia dan diikuti oleh 16 SM-IAGI dari seluruh Indonesia. FGMI juga mempunyai program yaitu Down to Earth, dimana pengurus FGMI akan turun ke kampus-kampus geologi terutama yang di luar Pulau Jawa untuk berbagi ilmu dan berdiskusi dengan mahasiswa, hal ini bertujuan supaya ada pemerataan kompetensi dan memetakan kompetensi mahasiswa geologi dari seluruh kampus di Indonesia.

   Dari rencana-rencana kegiatan tersebut maka FGMI harus berkolaborasi dengan Asproditegi, Suatu badan independen yang mempunyai visi penyetaraan kompetensi lulusan mahasiswa program studi teknik geologi di Indonesia. Pada hari Rabu tanggal 5 April 2017 bertempat di Jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti, FGMI berkesempatan untuk berdiskusi dengan Bp.Burhanudin selaku ketua Asproditegi. Diskusi pertama yaitu pemaparan hasil Geostudent Competition 2016 oleh FGMI, dimana terdapat perbedaan signifikan hasil lomba antara pemenang lomba dengan universitas lainnya. FGMI yang diwakili oleh sdr. Nurcholis mempresentasikan hasil tiap sub materi lomba diantaranya Geologi Teknik, Log analysis, Eksplorasi Mineral, Deskripsi batuan dan core serta survey design GnG. Hasil lomba ini perlu di analisa karena bisa berguna untuk mengetahui kekurangan dari masing-masing universitas. Bp. Burhanudin memberi pertanyaan awal yang cukup menarik yaitu “Apa tujuan dari lomba ini?” jika hanya sekedar lomba untuk mengeluarkan pemenang, kegiatan ini sudah bagus tetapi jika tujuannya kedepan untuk melihat dan menyetarakan kompetensi mahasiswa geologi dari suatu kampus maka ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Tidak bisa membandingkan antara pemenang lomba dengan kampus yang jurusan geologi nya baru berdiri, kompetensi nya berbeda dan soal yang dibuat jangan terlalu susah karena level tiap kampus berbeda, ujar Pak Burhanudin.

Foto Bersama FGMI dan Bapak Burhanudin

   Materi yang dilombakan pada tahun 2016 juga kebanyakan migas, harus diubah karena Geologi itu banyak cabangnya apalagi kondisi harga minyak yang turun saat ini. Oleh karena itu secara bertahap demi meratakan kompetensi mahasiswa Geologi di Indonesia maka harus ada pembimbingan yang tepat ke mahasiswa, berikan buku-buku hingga paper ke mereka untuk dipelajari, materi yang dilombakan pada tahun 2017 akan bervariasi dari geoteknik, geothermal, geopreneur, migas dan tambang.

   Asproditegi akan membantu untuk pembimbingan ke mahasiswa sebelum lomba, dengan cara memberikan short course ke kampus-kampus yang membutuhkan. Bp. Burhanudin juga mempunyai banyak ide untuk membumikan ilmu bumi ini ke masyarakat terutama ke sekolah-sekolah melalui lomba dan sosialisasi. Diharapkan FGMI bisa mengeksekusi kegiatan tersebut dengan baik, sehingga masyarakat akan semakin mengenal ilmu-ilmu bumi.

Pemberian Kenang-kenangan Dari Asproditegi ke FGMI

ESK 28 – Mempelajari Proses dan Melihat Produk : “Yang Tersingkap adalah Teka-Teki dan yang Terkubur adalah Misteri”

Sabtu, 29 April 2017, FGMI sukses melaksanakan kegiatan Experience Sharing Knowledge ke-28 yang bertempat di kantor Conoco Phillips, Gedung Ratu Prabu II. Seperti biasanya, kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan para geosaintis muda Indonesia ini dihadiri oleh peserta dari kalangan profesional muda dan mahasiswa. Suatu kesempatan berharga bagi peserta ESK ke-28 ini, karena pembicara adalah researcher yang berpengalaman di bidangnya dan berhasil mempresentasikan hasil penelitian yang konteksnya merupakan “gaya baru” bagi dunia geosains di Indonesia.

Kedua pembicara tersebut antara lain Iqbal Fardiansah dan Leon Taufani. Keduanya berasal dari kelompok riset independen bernama GeoPangea Research Group Indonesia (sebelumnya kelompok riset ini berafiliasi UPN “Veteran” Yogyakarta). Iqbal Fardiansyah membawakan materi mengenai “Quantitative of Modern Fluvial Morphology and Experimental Stratigraphy”, sedangkan Leon Taufani membawakan materi dengan topik lain “Digital Outcrop Analogue for Geological Modelling and Reservoir Characterization”. Kedua topik ini menitikberatkan pada pemahaman dasar seorang geologist dalam merekontruksi keadaan bawah permukaan dengan suatu analog model.

Sebelum presentasi dimulai, Bondan Ramadan sebagai ketua pelaksanan kegiatan menyampaikan sambutan kepada para peserta, dan kemudian kegiatan resmi dibuka pada pukul 08.30 WIB oleh Nur Cholis, ketua Forum Geosaintis Muda Indonesia.

Kegiatan inti pun dimulai, presentasi diawali dengan bahasan Fluvial Morphology oleh Iqbal Fardiansyah. Salah satu poin penting yang harus dipahami oleh geologist yang terbiasa mengerjakan data bawah permukaan adalah resolusi seismik 3D belum dapat memecahkan permasalahan kompleks sedimentasi pada masa lampau, terlebih untuk lingkungan sedimentasi fluvial. Fluvial morphology meliputi channel belt, yaitu wilayah berkembangnya migrasi sungai. Channel belt sangat dikontrol oleh besar kelerengan area sedimentasi (topografi cekungan), semakin besar nilai kelerengan maka sungai menganyam (braided) akan terbentuk. Sebaliknya, semakin rendah nilai kelerengan maka sungai meandering lah yang akan terbentuk. Topografi cekungan merupakan fator yang dikontrol oleh tektonik regional, setiap tatanan tektonik akan membentuk karakteristik sedimentasi sungai yang berbeda. Untuk itu, seorang geologist yang menggunakan model fluvial pada tatanan tektonik passive margin untuk diterapkan di wilayah Indonesia merupakan suatu praktik kekeliruan. Selain itu, faktor yang mengontrol sistem sedimentasi fluvial adalah luasan area sedimentasi yang dapat mempengaruhi “keleluasaan” perkembangan channel belt.

Pembicara Pertama, Iqbal Fardiansyah yang sedang Menjelaskan tentang Fluvial Morphology.

Bang Iqbal, nama sapaan beliau, melanjutkan penjelasannya dengan memaparkan elemen arsitektur fluvial yang meliputi channel (point bar dan thalweg), levee, floodplain dan crevasse splay. Konsep dasar penyusunan material sedimen sandy grain di tubuh sungai adalah lateral accretion pada sungai meandering dan downstream accretion pada sungai braided. Bagian yang menjadi aliran air sungai (thalweg) pada akhirnya akan terisi oleh lempung (channel filling) dengan geometri channel. Hal ini yang sering menipu para exploration geologist, yakni menjadikan channel fill sebagai target pemboran padahal isinya adalah lempung. Disinilah pemahaman seorang geologist diperlukan.

Selanjutnya, materi disambung dengan bahasan experimental stratigraphy yang berisikan hasil eksperimen sedimentasi campuran pasir dan bubuk batubara dengan media Flume Tank (semacam akuarium yang di-setting) dan Stream Table Experimental Landscape. Kedua pemodelan ini bertujuan untuk mengenali proses sedimentasi, sebagaimana pada data seismik, well log dan singkapan hanyalah rekaman produk akhir. Media flume tank digunakan untuk memodelkan sedimentasi yang dikontrol oleh sesar normal dan naik turunnya muka air laut (sikuen stratigrafi) studi kasus Cekungan Kutai. Hasilnya sangat menakjubkan para peserta, dengan pemodelan skala kecil saja menunjukkan bahwa adanya perbedaan karakteristik susunan endapan secara lateral pada sisi kanan dan kiri flume tank. Skala kecil saja sudah menunjukkan kompleksitas, dan inilah kemutlakan yang terjadi dalam satu cekungan. Untuk itu, perbedaan paket sedimen secara lateral dan vertikal dalam satu cekungan wajib dikenali oleh seorang exploration geologist.

Selain itu, flume tank juga dapat digunakan untuk memodelkan arus turbid. Dalam sesi ini, pembicara menampilkan video selama eksperimen arus turbid berlangsung. Pergerakan arus turbid menuruni lereng berbeda kecepatannya pada kondisi air tawar dan air asin, ketika memasuki zona air asin kecepatan arus menurun dan pada batas transisi salinitas terbentuk awan sedimen (plume sediment) yang bergerak sejajar dengan kontak perbedaan salinitas air. Peristiwa ini dikenal dengan hypopicnal.

STEX digunakan untuk memodelkan morfologi dan paket sedimentasi mulai dari fluvial, trasitional hingga shallow marine seiring dengan naik dan turunnya muka laut. Kesimpulan menarik yang didapatkan dari eksperimen ini adalah bentuk sungai berbeda ketika muka laut turun, yakni bentuk sungai lurus dan di daerah transisi terbentuk delta, sedangkan dalam kondisi muka laut naik sungai yang terbentuk adalah sungai meandering dan di daerah transisi terbentuk estuaria. Perbedaan ini dapat membantu geologist untuk memahami persebaran fasies sedimentasi (baca : reservoir) seiring dengan perubahan muka laut.

Materi kedua yang disampaikan oleh Leon Taufani yang diawali dengan pengenalan Digital Outcrop Modelling. Insiasi awal DOM ini pada tahun 2014 terinspirasi dari paper yang dibuat oleh seorang Professor di luar negeri, GPRG berusaha mencoba menerapkannya untuk singkapan di Indonesia. Singkapan Middle Miocene of Kutai Basin yang dijadikan sebagai objek penelitian dengan pertimbangan heterogenitas fasies yang tinggi, serta terdapatnya kemenerusan ke bawah permukaan (Sumur Bongkaran) dari batuan yang tersingkap tersebut.

Pembicara Kedua, Leon Taufani yang sedang Menjelaskan tentang Digital Outcrop Modelling.

Dalam membuat model reservoir sangat penting dikenali “depositional facies as fundamental control on petrophysics. Tantangannya adalah : resolusi seismik dan well log tidak cukup untuk mengenali heterogenitas fasies. Untuk itu, pentingnya dilakukan analisis singkapan dengan metode DOM dengan tujuan mendapatkan parameter (baca : variogram) untuk kemudian diterapkan pada pengerjaan data bawah permukaan. Keuntungan dari metode ini adalah dapat memodelkan 3D tipe dan geometri reservoir dengan harga yang murah dan waktu yang efisien.

Salah satu kesulitan untuk menerapkan metode ini di wilayah Indonesia adalah dimensi singkapan yang terbatas akibat tatanan tektonik yang rumit, vegetasi yang lebat, serta kualitas singkapan yang rendah disebabkan oleh intensitas pelapukan yang tinggi. Untuk itu, metode ini sangat cocok jika diterapkan di area pertambangan untuk mendapatkan singkapan yang menerus dan akan lebih baik lagi jika singkapannya menerus di semua sisi. Dimensi singkapan harus mempunyai resolusi spasial untuk menangkap heterogenitas fasies. Ukuran singkapan yang dapat digunakan untuk analisis DOM mulai dari skala kiloan meter (analogi seismik) hingga skala puluhan meter (analogi sumur).

Data yang diambil meliputi foto digital dengan media drone (sisi pengambilan foto menggunakan prinsip stereoskopis), arus purba dan sedimentology log yang diambil pada titik-titik representatif. Sampel batuan pun diambil dengan interval 5 cm untuk menetailkan data ukuran butir. Pengolahan data menggunakan tiga perangkat lunak meliputi PhotoScan untuk menggabungkan foto, VIGS untuk membuat marker dan Petrel untuk memodelkan. Tahap interpretasi data meliputi outcrop attribute analysis, sedimentary log input, ketebalan stratigrafi, strike/dip, paleocurrent, horizon picking, fault picking (jika ada). Catatan : langsung membuat sketsa picking di lapangan agar well documented. Teknik pemodelan yang dapat digunakan ada tiga, yaitu Sequential Indicator Simulation, Object Based Technique, dan MPS.

Leon Taufani kemudian melanjutkan presentasi dengan menjelaskan hasil penelitiannya di Cekungan Kutai. Semua justifikasi marker stratigrafi dilakukan di lapangan. Marker berupa lapisan yang mengandung iknofosil glassifungites dan ophiomorpha yang menjadi penciri lingkungan pengendapan delta. Hasil pemodelan berupa model 3-D, diagram pagar dan slice horizontal di setiap marker stratigrafi. Perubahan, sebaran fasies dan arah sedimentasi dari slice horizontal tua ke muda dapat dikenali dan menujukkan dinamika sedimentasi di lingkungan delta, khususnya bagian distal dari lobe. Kelebihan pemodelan ini adalah resolusinya yang tinggi, yakni dapat menampilkan heterogenitas sampai 10 cm. Berdasarkan model yang dihasilkan, semakin tinggi net to gross batupasir maka konektivitasnya pun semakin tinggi. Selain itu, Leon Taufani menunjukkan cara mengikat hasil pemodelan dengan data petrofisika.

Demikian kegiatan ESK-28 yang telah selesai dilaksanakan. Materi yang disampaikan oleh kedua pembicara ini membuat kami teringat akan ungkapan “belajar cepat dari buku, belajar lengkap dari batu”. Salam Geosaintis Muda Indonesia!

Kegiatan Diakhiri dengan Foto Bersama d Narasumber dan Para Peserta

Catatan : Jika pengunjung website ini tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan metode tersebut, dapat menghubungi Iqbal Fardiansyah (iqbal.bremen@gmail.com).

Dilema Potensi Geothermal Lawu, Ekstraksi atau Pertahankan Tradisi?

   SINERGIS (Seminar Energi Nasional) merupakan acara seminar berskala nasional dengan topik energi yang diadakan oleh SM-IAGI UGM. SINERGIS 2017 kali ini hadir dengan judul “Dilema Potensi Geothermal Lawu, Ekstraksi atau Pertahankan Tradisi?” yang bertemakan eksplorasi dan pengembangan geothermal ini dikonsep untuk menyuguhkan kajian mengenai polemik eksplorasi geothermal di Gunung Lawu. Tema ini diangkat karena proyek Geothermal Lawu ini tengah menjadi isu hangat belakangan ini, pasalnya proyek eksplorasi ini dirancang di lokasi yang kaya akan cagar budaya selain cagar alamnya. Namun di sisi lain proyek eksplorasi di Gunung Lawu ini dikabarkan menyimpan potensi geothermal yang melimpah sehingga sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Maka dari itu realisasi proyek Geothermal Lawu ini masih menjadi perdebatan hangat yang menarik untuk diulas.

Pembukaan SINERGIS oleh MC,Bagaskara Wahyu Purnomo Putra dan Enjilika Wuisang

   SINERGIS yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 18 Februari 2017 bertempat di Ruang A1.06 – A1.07 FMIPA UGM hadir dengan dua sudut pandang pembicara pro dan kontra dalam mengulas proyek eksplorasi geothermal di Gunung Lawu. Seminar ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu presentasi dari pembicara pihak pro proyek eksplorasi geothermal dan sesi kedua merrupakan presentasi sekaligus talkshow yang disi oleh pihak kontra proyek eksplorasi geothermal. Dari sudut pandang pro proyek eksplorasi geothermal Gunung Lawu diwakili oleh Ir. Eben Ezer Siahaan, MBA selaku Vice President Exploration and Exploitation PT PGE dan Dr. Eng. Agus Setyawan selaku Koor Akademik Operasional Gunung Lawu dari Universitas Diponegoro. Pembicara pro proyek eksplorasi geothermal ini membahas tentang pentingnya dilakukan proyek eksplorasi geothermal, mengingat NKRI diperkirakan menyimpan potensi geothermal sebesar 28,1GWe yang setara dengan 12 juta barel minyak bumi. Di samping itu penurunan kualitas lingkungan akibat polusi yang ditimbulkan oleh hasil sisa pembakaran bahan bakar fossil seolah menuntut masyarakat modern untuk beralih pada energi baru terbarukan yang ramah lingkungan, salah satunya adalah geothermal. Teknik yang digunakan untuk menyampaikan materi berupa penayangan slide presentasi yang setelahnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Presentasi oleh Bapak Eben Ezer

   Pada pemaparan materi yang disampaikan oleh Bapak Eben Ezer maupun Bapak Agus Setyanto, keduanya sama-sama mendukung pengembangan proyek geothermal Lawu dikarenakan besarnya jumlah energi yang dijanjikan dari produksi geothermal di Gunung Lawu. Selain itu dijelaskan pula bahwa dampak terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek geothermal ini tidak akan separah dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh penambangan bahan tambang lain seperti sumber daya mineral logam maupun non logam, batu bara, minyak, dan lain sebagainya. Sehingga proyek eksplorasi geothermal ini dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan proyek pertambangan yang lain. Apalagi penggunaan geothermal sebagai bahan bakar ini tidak menghasilkan emisi gas yang tidak terlalu berbahaya seperti bahan bakar fossil. Kemudian pihak pembicara dari PT PGE juga menjelaskan bahwa saat pelaksanaan proyek geothermal Lawu nanti bukan berarti PT PGE akan mengabaikan kesejahteraan warga lokal. Lahan warga yang digunakan untuk proyek ini tentunya akan diberi ganti rugi dan pembinaan-pembinaan usaha mandiri untuk meningkatkan kesejahtaeraan ekonomi warga lokal.

Sesi Tanya Jawab Seminar Sesi 1 bersama Bapak Eben Ezer Dan Bapak Agus Setyanto

   Seminar sesi satu ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh moderator dan hiburan berupa pembawaan lagu oleh Saudari Naomi Geraldine dengan diiringi iringan piano oleh Saudara Anindita Wisnu Batara. Kemudian diberikan waktu istirahat sebelum dilanjutkan pada seminar sesi kedua.

Pemberian Momento Oleh Ketua Dan Wakil Ketua SM-IAGI UGM Kepada Bapak Eben Ezer Dan Bapak Agus Setyanto Selaku Pembicara Seminar Sesi 1

   Seminar sesi kedua menghadirkan pembicara dari sudut kontra proyek eksplorasi yang diwakili oleh Bapak Agus Indaryanto, S.Sos, M.Si selaku dosen Departemen Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Cahyono Agus, M.Sc selaku guru besar Fakultas Kehutanan UGM, dan Bapak Joko Sunarto selaku tokoh masyarakat Lawu. Dalam sesi ini terdapat dua model penyampaian materi, yaitu berupa presentasi menggunakan slide dan talkshow yang diikuti dengan tanya jawab di setiap akhir sesi. Presentasi dibawakan oleh Bapak Cahyono Agus dan Bapak Agus Indaryanto. Sedangkan Bapak Joko Suratno menjadi pembicara dalam talkshow bersama dua pembicara sebelumnya. Dalam sesi presentasi antara Bapak Cahyono Agus dan Bapak Agus Indaryanto dipaparkan penekanan materi yang berbeda. Bapak Cahyono Agus sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan lebih menekankan bagaimana dampak aktivitas penambangan yang dapat menurunkan daya lingkungan. Terlebih lagi Gunung Lawu merupakan kawasan hutan lindung, yang mana pada saat ini luasan hutan di Indonesia dan bahkan dunia yang notabene merupakan sumber oksigen terbesar tengah mengalami penyempitan sehingga rencana penggarapan proyek geothermal Lawu ini tentunya tengah menjadi sorotan pemerhati lingkungan. Sedangkan Bapak Agus Indaryanto sebagai dosen antropologi budaya banyak membahas tentang pola pikir dan budaya masyarakat lokal yang menyebabkan proyek geothermal Lawu ditentang oleh warga setempat.

   Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bapak Agus Indaryanto, hal ini berkaitan erat dengan pola pikir warga lokal yang dominan berbudaya jawa kental untuk menjaga tanah miliknya yang biasanya telah diwariskan turun-temurun dari leluhurnya. Selain itu di daerah Lawu memang banyak cagar budaya seperti petilasan Prabu Siliwangi, menhir, dan berbagai peninggalan budaya lain yang disakralkan dan dijaga sebaik-baiknya oleh warga setempat. Dengan adanya alih fungsi lahan untuk proyek Geothermal Lawu ini tentunya warga merasa terancam bukti-bukti peninggalan leluhurnya akan musnah. Setelah sesi presentasi oleh Bapak Agus Indaryanto ditutup, penyampaian materi dilanjutkan dengan talkshow yang dipandu oleh moderator dengan menghadirkan pembicara Bapak Suratno sebagai perwakilan warga lokal yang khusus didatangkan dari daerah Lawu untuk berbagi keluh kesah warga setempat mengenai rencana realisasi proyek Geothermal Lawu. Seperti yang telah dipaparkan oleh Bapak Agus Indaryanto bahwa benar jika warga lokal meresahkan ancaman terrenggutnya lahan mereka untuk pembangunan proyek geothermal Lawu. Pasalnya mereka sebagai masyarakat desa banyak menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perkebunan yang tentunya membutuhkan lahan cukup luas. Selain itu mereka juga khawatir bahwa proyek tersebut akan merusak cagar budaya yang ada di Gunung Lawu, karena cagar budaya tersebut sangat disakralkan oleh masyarakat setempat dan merupakan amanah besar dari leluhur untuk tetap menjaganya dan mewariskannya pada generasi berikutnya. Namun demikian Bapak Suratno dalam talkshow tersebut menjelaskan bahwa warga setempat masih terbuka kepada pihak PT PGE untuk mencari jalan tengah yang terbaik dalam merealisasikan rencana proyek geothermal Lawu agar menguntungkan semua pihak.

Sesi talkshow bersama Bapak Cahyono Agus, Bapak Agus Indaryanto, dan Bapak Joko Suratno yang dipandu oleh Moderator

   SINERGIS 2017 berakhir dengan berakhirnya sesi talkshow dan pemberian momento kepada ketiga pembicara dalam sesi kedua. Seminar ini berhasil menarik minat cukup besar dari publik, terbukti dengan permintaan tiket yang membeludak melebihi kuota hingga hari-H pelaksanaan seminar dan meriahnya sesi tanya jawab di setiap akhir penyampaian materi oleh semua pembicara. Dengan menghadirkan dua sudut pandang yang berseberangan untuk mengulas proyek eksplorasi geothermal yang akan didirikan di Gunung Lawu ini diharapkan peserta seminar dapat melihat kompleksitas permasalahan pada kasus ini serta mampu memberikan penilaian dengan bijak dan adil terhadap kedua pihak yang berbeda pendapat dalam menyikapi proyek geothermal. Sehingga tidak muncul penilaian yang terkesan berat sebelah dengan mengunggulkan salah satu pihak dan menjatuhkan pihak yang lain.

Sesi foto bersama Perwakilan Peserta SINERGIS, Pembicara Sesi 2, Ketua SM-IAGI-UGM, dan Perwakilan Panitia SINERGIS
  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id