Berita Terbaru

Fakta Menarik Jatibarang

Jatibarang Sub-basin according to Amril, Sukowitono, and Supriyanto. (1991)
  • Pertama kali ditemukan pada tahun 1941
  • Hingga kini, terdapat lebih dari 140 sumur pada Sub-Cekungan Jatibarang
  • Berupa half-graben system yang berlokasi di antara Sunda microplate dengan India Australia subdcution, dengan keberadaan pada back-arc (Adnan, et.al., 1991)
  • Menurut Clements dan Hall (2007), Formasi Jatibarang sebagai formasi penghasil hidrokarbon, terbentuk pada Oligosen Awal. Formasi terbentuk pada half-graben berorientasi Utara-Selatan. Sementara menurut Martodjojo (2003), Formasi Jatibarang berumur Cretaceous-Eocene.
  • Arpandi dan Padmosoekismo (1975) dalam Martodjojo (2003) menyatakan Formasi Jatibarang menerus dari selatan Jakarta hingga lepas pantai Cierbon di sebelah timur.
  • Formasi Jatibarang memiliki ketebalan lebih dari 1200 m dan mengalami penipisan pada bagian Barat dari Cekungan Jawa Barat Utara.
  • Masih menurut Clements dan Hall (2007), pembentukan Sub-Cekungan berkaitan ekstensi yang tidak berkaitan dengan subduksi pada bagian Selatan Jawa, hal ini dikarenakan sumbu subduksi dan ekstensi pada Sub-Cekungan Jatibarang berlainan arah. Dengan demikian pula, diinterpretasikan bahwa Formasi Jatibarang merupakan hasil fissure eruption, dan bukan strato volcano pada umumnya.
  • Dalam disertasi Martodjojo (2003), disebutkan bahwa Formasi Jatibarang Yang pertama adalah batuan beku dan yang kedua adalah tufa. Batuan beku terdiri dari basalt, andesit. Batuan tufa terdiri dari tufa vitrik atau tufa gelas, tufa lithik serta tufa kristal.
  • Sistem petroleum yang dikemukakan oleh Adnan, et.al. (1991) adalah Sub-Cekungan Jatibarang sebagai reservoir dengan Formasi Talangakar hadir sebagai batuan induk. Formasi Talangakar, meskipun berumur lebih muda, yang menjadi batuan induk terletak pada bagian low dari cekungan dengan Formasi Jatibarang pada bagian high. Jalur migrasi pada cekungan adalah patahan-patahan yang hadir.
  • Jatibarang sub basin terbentuk sebagai sistem half graben yang pembentukannya di kontrol oleh patahan turun dengan arcuate pattern. Tren patahan utara – selatan terbentuk ketika subduksi berubah arah menjadi timur – barat. Ryacudu dan Bachtiar (2000) menjelaskan bahwa Jatibarang sub – basin melepaskan double bend structure dari sistem zona patahan NW-SE right-stepping strikeslip.
  • Lapangan Jatibarang sendiri merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Basin Jawa Barat Utara. Formasi Jatibarang ditutupi oleh Formasi Talang Akar dengan sedimen fluvio – deltaic yang tersusun atas sandstones, shale, dan coal. Formasi ini mengisi posisi terendah cekungan, oleh karena itu jarang ditemukan di basement high(Sinclair et.al. 1995).

 

Jatibarang Fm. Depositional environment according to Clements and Hall (2007)

 

Selayang Pandang Tanah Jo Kincai : Potensi Geowisata dan Mitigasi Bumi Sakti Alam Kerinci

Kerinci merupkan suatu wilayah berbagai bentukan alam khas geologi seperti kawah gunung api, sungai dan air terjunya, goa dan lain dengan berbagai keunikanya semua dimiliki kerinci sebagai sebuah anugerah potensi wisata geologi yang sangat melimpah. Namun Kerinci memiliki potensi bencana gunung api seperti debu vulkanik dan gempabumi maka diperlukan mitigasi bencana untuk dapat meminimalisir korban dengan adanya titik evakuasi.

Tugu Macan dan Gunung Kerinci. Sumber : Kerinci Paradise

Apa itu Geowisata?

Geowisata adalah suatu kegiatan wisata berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologi permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal. Indonesia adalah negara yang memiliki daya tarik geologi yang khas di berbagai wilayah dan dapat dijadikan sebagai objek geowisata.

Salah satu potensi yang sangat besar dari Kabupaten Kerinci adalah menjadikan keindahan alam Kerinci sebagai objek wisata, terutama objek wisata alam. Melihat banyaknya potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Kerinci. Letak wilayah Kabupaten Kerinci secara geografis adalah di antara 01 41’ sampai 02 26’ lintang selatan dan 101 08’ sampai 101 40’ bujur timur. Luas kabupaten Kerinci sebesar 420.000 Ha. Ibu  kota Kerinci yaitu Sungai Penuh berjarak 418 km dari Kota Jambi.Dari wilayah Kerinci keseluruhan, 52 % merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, hanya sekitar 48% merupakan kawasan budidaya.

                Peta Geowisata Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

 

POTENSI GEOWISATA

Kabupaten Kerinci memiliki keanekaragaman geologi (geodiversity) berupa bentang alam yang indah sebagaimana layaknya sebuah, mata air panas sebagai indikasi fenomena panas bumi, air terjun, gua, dan berbagai jenis singkapan batuan gunungapi.

Daerah kerinci memiliki potensi geowisata diantaranya :

Gunung Kerinci (S01o41’50” dan E101o15’52”) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Kerinci merupakan gunung api aktif bertipe stratovulkanik dengan ketinggian 3.805 mdpl dan memiliki letusan bersifat eksplosif. Gunung api ini muncul di dalam suatu struktur graben yang merupakan bagian dari sesar Sumatra, tubuh gunung api ini muncul didasar suatu graben vulkano tektonik regak lurus pada garis tektonik bukit barisan yang mengalami penurunan waktu patahan besar terjadi.  Beberapa kegiatan terakhir gunung kerinci adala tahun 2008 berupa letusan abu disertai asap hitam.

Goa Kasah (E01  49.103’ S101  21.655’) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dekat Desa Renah Kasah Kacamatan Kayu Aro. Disepanjang perjalanan terdapat banyak batuan vulkanik yang merupakan hasil dari letusan gunung api. Didalam goa ini terdapat beberapa jejak peninggalan terdahulu seperti tengkorak, tulisan kuno, dan didinding terdapat wujud wanita yang sedang sholat .

Mata Air panas Semurup (E: 01  59.167’  S: 101  21.306). Merupakan salah satu objek wisata yang terletak  di kabupaten kerinci, jambi. Tepatnya di Desa  Air Panas Baru Semurup ini memiliki luas 76 m². Mata air panas semurup pada umumnya berada di batuan sedimen namun ada pengaruh dari aktivitas magmatic. dimensi dan keadaan geologi air panas semurup yang berupa kolom ini memiliki 15 meter persegi. menurut warga setempat ,dahulu suhu air mencapai 100̊ C, tempat tersebut tetap mengagumkan dan sangat menarik ketika membayangkan ada titik sepanas ini di dataran tinggi 800 mdpl.

Bukit kayangan merupakan rangkaian panorama Negeri diatas awan dari bukit barisan yang mengelilingi sebagian daerah kerinci. lokasinya berada di desa Renah Kayu Embun, tidak begitu jauh dari pusat kota sungai penuh, puncak bukit kayangan (±1500mdpl).

Selain itu terdapat banyak air terjun di Kerinci, diantaranya adalah Air Terjun Talang Kemulun (E02  03.975’ S101  32.409’) dan Air Terjun Saluang Bersisik Emas  (E02 03.975’ S101 32.409’) dimana terdapat batuan basalt yang menjadi aliran air terjun.

Rawa lempur (E02 17.462’ S101 31.946’) ini merupakan sebuah geowisata yang belum terekspose bagi banyak orang dimana dapat di amati dengan sajian pemandangan bukit-bukit dan tanaman-tanaman liar.

Danau kerinci (N02̊ 08’ 58,72” E101̊ 29’ 19,02”). Danau Kerinci merupakan danau yang terbentuk akibat pergeseran sesar Sumatra yang membentuk cekungan Pull apart basin, cekungan ini kemudian terisi oleh air dan membentuk danau purba.

Danau Kaco terletak di Desa Lempur di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat  Danau kaco memang mempunyai air yang sangat bening kebiruan. Terletak di ketinggian 1289 diatas permukaan air laut, danau ini tergolong danau yang kecil tidak seperti danau-danau pada umumnya. Hanya berukuran luas sekitar 30 x 30m, namun danau ini bisa menyuguhkan keindahan geomorfologi di sekitarnya.

 

GEOHAZARD / MITIGASI BENCANA

Kerinci memiliki kekhasan geologi yang unik. Potensi geowisata dapat dimaksimalkan jika pengelolaan terhadap keruangan dan ekosistem dikelola dengan  baik. Beberapa potensi geowisata di Kerinci belum dikelola dengan baik seperti pada lokasi air terjun, danau kaco dan rawa lempur. Potensi geowisata yang tidak terkelola dengan baik dapat memungkinkan terjadi kebencanaan. Seperti banjir dan longsor.

Peta Geohazard Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

Bahwa terdapat beberapa lokasi yang berpotensi mengalami bencana longsor seperti di air terjun talang kemulun, air terjun seluang bersisik emas, dan di Goa Kasah. Karena sebagian besar lokasi wisata berada dalam wilayah TNKS maka tak jarang ditemukan binatang buas maupun melata yang dapat membahayakan wisatawan, seperti di Goa kasah, Gunung Kerinci, Danau Kaco dan air terjun Talang Kemulun.

 

Menyingkap Rahasia Calon Geopark Plato Dieng : Jejak Harta Karun Tersembunyi dari Warisan Gunung Dieng

Landscape Dieng Plateu dari Gunung Prau. Foto: Deni Sugandi

Kawasan Dataran Tinggi Dieng atau lebih dikenal dengan Dieng Plateau merupakan suatu wilayah di tengah-tengah Pulau Jawa, terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kawasan Dataran Tinggi Dieng terletak pada beberapa wilayah administratif, yaitu sebagian besar masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Kawasan Dataran Tinggi Dieng menjadi suatu daya tarik tersendiri dengan ketinggian daerah mencapai ± 2000 mdpl dengan dianugerahi berbagai macam potensi.

Apa itu Geopark?

Geopark atau yang sering disebut sebagai Taman Bumi merupakan sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki Situs Warisan Geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek Warisan Geologi (Geoheritage), Keragaman Geologi (Geodiversity), Keanekaragaman Hayati (Biodiversity), dan Keragaman Budaya (Cultural Diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan Pemerintah Daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.

Keragaman geologi (geodiversity) Kawasan Dataran Tinggi Dieng berkaitan erat dengan aktivitas gunungapi yang diiinterpretasikan oleh para ahli geologi mengenai Pembentukan Plato Dieng dengan membaginya 3 episode letusan Gunungapi Dieng berdasarkan umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan. Singkatnya, pada fase awal terjadi letusan besar dari Gunung Dieng yang menimbulkan Depresi Batur sebagai kaldera raksasa dataran tinggi (plato) dieng. Sisa morfologi yang paling terlihat adalah dengan adanya morfologi Gunung Prau sebagai salah satu pagar dari kaldera tersebut.

Gambaran Kaldera Raksasa akibat Depresi Batur. Foto: Google Maps

Kemudian Pada episode letusan kedua akibat menimbulkan terbentuknya morfologi tinggian yang menjadi perbukitan kerucut vulkanik dan morfologi rendahan akibat depresi membentuk suatu cekungan. Perbukitan vulkanik yang dihasilkan membentuk beberapa bukit yang sering dikenal sebagai Bukit Sikunir, Gunung Pakuwaja, Gunung Bisma dan Komplek Batu Ratapan Angin. Kemudian dari morfologi rendahan yang dihasilkan terisi oleh air yang membetuk beberapa telaga yang kita kenal sebagai Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Menjer, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Sewiwi. Kemudian ada Sumur Jalatunda yang secara morfologi dan genesa diinterpretasikan pembentukanya sama dengan danau. Pada beberapa daerah juga terbentuk patahan-patahan yang membentuk curug (air terjun) yang diantara nya yang sering kita kenal ada Curug Sikarim, Curug Sirawe, Curug Sigenting dan Curug Merawu.

Kenampakan Gunung Pakuwaja, Curug Sikarim, Batuan Beku Andesit dan Telaga Dringo. Foto: Gilang Agatra

Kemudian Pada episode letusan ketiga terjadi letusan muda pada titik-titik kawah aktif dari letusan sebelumnya. Hal ini sebagai pertanda masih aktifnya Gunung Dieng sampai saat ini. Kawah aktif yang di ditemukan disana diantaranya ada Kawah Sikendang, Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan Kawah Candradimuka serta Kawah Timbang yang diidentifikasi paling beracun dari semuanya. Batuan yang ada pada kawah tersebut sebagian besar sudah terubahkan menjadi batuan alterasi akibat adanya aktivitas vulkanik yang mengubah batuan tersebut. Pada bagian kawah juga dihiasi dengan adanya geyser (semburan mataair panas).

Kenampakan Kawah Candradimuka, Batuan Ubahan, dan Geyser. Foto: Gilang Agatra

Dari sisi keragaman hayati (bodiversity), Dieng dengan cagar alamnya menjadi rumah bagi hewan-hewan dan tetumbuhan endemik Jawa. Beberapa di antaranya ada yang menjadi produk pertanian yang menjadi unggulan dari daerah Dieng (purwaceng, terong belanda, cabe dieng dan carica). Dieng memiliki 3 cagar alam yang ditetapkan oleh BKSDA Jawa Tengah pada tahun 2018 yang diantaranya yaitu Taman Wisata Alam Tlogo Warno dan Pengilon, Cagar Alam Tlogo Semurup dan Cagar Alam Tlogo Dringo.

Purwaceng, Domdi (Domba Dieng), dan Carica. Foto: Par Par Priatna/Badan Geologi

Kemudian dari sisi keragaman budayanya (cultural divesity), Dieng sangat kaya dengan tradisi dan tinggalan budaya seperti tarian, kompleks percandian dan lain-lain. Diantaranya ada Kompleks Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Lennger Topeng dan Ruwat Rambut Gimbal yang biasanya masuk dalam rangkaian Dieng Cultural Festival disetiap tahunnya.

Kompleks Candi Arjuna (Foto: Par Par Priatna), Ruwat Rambut Gembel (Foto: Dowisata), dan Tarian Lengger Topeng (Foto: travel.masifan)

Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Peraturan tersebut kemudian dipertegas menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP) Jawa Tengah yang masuk dalam Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) lima cakupan wilayah Borobudur-Dieng sekitarnya dalam Peraturan Gubernur nomor 6 tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012–2027.

Hal ini menjadikan Kawasan Dataran Tinggi Dieng telah siap dengan potensi nya dan dapat segera untuk diajukan sebagai bagian dari Geopark Nasional maupun jaringan UNESCO Global Geopark.

 

Gilang Agatra

Divisi Media & Jurnalistik

FGMI 2019-2021

Fieldtrip GeoSC 2018 : Mengenal Geologi Malang Selatan Bersama Handoko Teguh Wibowo

Kegiatan filedtrip geologi Malang Selatan merupakan rangkaian acara dari kegiatan Geostudent Competition (GEOSC) 2018 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 23 November 2018. Adapun lokasi yang dijadikan field trip kali ini berada di daerah Malang Selatan dengan variasi geologi yang komplek namun menarik. Ada 3 (tiga) stopsite terpilih yang akan dijadikan objek pengamatan. Stopsite 1 berada di puncak Argo Tirto, stopsite 2 yaitu singkapan pyrophilite di lokasi penambangan tradisional dan stopsite terakhir di Pantai Ungapan. Dalam kegiatan filedtrip tersebut di pandu oleh bapak Handoko Teguh Wibowo yang merupakan dosen di Jurusan Teknik Geologi Institut Teknologi Adhitama Surabaya sekaligus ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (Pengda IAGI) Jawa timur. Kegiatan filedtrip diawali dengan melakukan briefing sekaligus memberikan arahan mengenai lokasi fieldtrip dan mempersiapkan perlengkapan peserta yang dilaksakan oleh panitia fieldtrip. Perjalanan dari penginapan menuju lokasi stopsite pertama memerlukan waktu ± 45 menit, dimana stopsite pertama berada di lokasi penambangan batugamping tradisional. Lokasi ini berada di puncak bukit dengan singkapan batuan berupa batugamping ekuivalen Formasi Wonosari disamping itu kita bisa melihat kontras topografi sebagai indikasi sesar naik serta kenampakan gawir sesar. Pada lokasi ini kita bisa melihat ke arah utara berupa morfologi  tinggian Blitar, komplek Gunung Arjuna dan Gunung Semeru.  Di stopsite pertama ini pak Handoko memberikan arahan kepada peserta untuk mengamati sekeliling singkapan selama kurang lebih 10 menit. Peserta diberikan waktu mengobservasi dan mengamati fenomena geologi yang terjadi baik berupa struktur geologi, struktur sedimen maupun morfologi disekitarnya. Setelah mengumpulkan beberapa hasil pengamatan, peserta diajak berdiskusi oleh pemateri dan sekaligus menjelaskan kondisi geologi didaerah Argo Tirto berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peserta dan pemateri. Pak Handoko menceritakan bagaimana kondisi tektonik sedimentasi yang berlangsung dan membentuk pegunungan di selatan Malang tersebut, yang dimana dulunya merupakan cekungan belakang busur (back-arc) yang mengendapkan batuan vulkanik klastik dan batugamping ekuivalen F. Wonosari lalu di kala plio-pleistosen mengalami kompresi kuat sehingga terangkat seperti saat ini. Beliau juga menceritakan bagaimana batugamping pada singkapan tersebut terbentuk yang tumbuh pada tinggian-tinggian gunungapi purba pada kala Miosen yang pada saat itu kondisi cekungan Malang Selatan mengalami genang laut secara keseluruhan dan dengan tidak adanya aktivitas gunungapi menyebabkan batugamping atau batuan karbonat tersebut tumbuh baik dan melampar luas diatasnya. Selain menjelaskan mengenai tektonik-sedimentasi cekungan Malang Selatan beliau juga menjelaskan mengenai kondisi kota Malang yang dimana secara geomorfologi diapit oleh pegunungan dan gunungapi muda yang dapat dilihat langsung dari lokasi tersebut.

Foto 1. Briefing dan berdoa bersama sebelum melakukan field trip
Foto 2. Peserta sedang mendengarkan penjelasan mengenai tatanan tektonik di stopsite 1
Foto 3. Sesi diskusi setelah eksplorasi lapangan di stopsite 1 antara peserta dengan pemateri
Foto 4. Penjelasan dari pemateri tentang singkapan batuan, tektonik regional dan sedimentasi di stopsite 1

Setelah sekitar satu jam berada di stopsite 1, selanjutnya peserta melanjutkan perjalanan menuju stopsite kedua, kurang lebih 20 menit dari stopsite pertama. Sekitar pukul 10.05 WIB peserta tiba di stopsite kedua yang merupakan bekas penambangan rakyat. Sama seperti sebelumnya pak Handoko memberikan kesempatan kepada setiap peserta fieldtrip untuk mengamati singkapan dan sekelilingnya selama kurang lebih 10 menit. Peserta cukup antusias dalam mengamati singkapan mulai dari mengamati adanya sill, adanya perubahan warna pada batuan, struktur geologi hingga kondisi mineral batuan. Peserta melakukan pengamatan baik secara individu maupun berkelompok namun tak jarang peserta saling bertanya satu sama lain untuk mendiskusikan fenomena geologi yang mereka lihat. Setelah berakhir kegiatan observasi, peserta dan pemateri berdiskusi dan mengamati bersama singkapan batuan tersebut. Dari hasil pengamatan pak Handoko menceritakan bahwasanya singkapan yang dilihat tersebut merupakan singkapan pyrophilite yaitu merupakan salah satu batuan metamorf dengan tingkat rendah (meta-sediment) atau yang sering dikenal denhgan low-grade metamorphic rocks. Beliau menceritakan kondisi tersebut diakibatkan oleh pengkayaan mineral dan kontak secara langsung dengan intrusi batuan beku yang teramati dari tingkat dan perubahan jenis-jenis batuan alterasi pada lokasi tersebut. Bila diamati lokasi tersebut terdapat banyak patahan dan rekahan sehingga menyebabkan daerah tersebut mudah untuk dilalui oleh aliran hydrothermal yang menghasilkan perubahan warna akibat dari alterasi batuan, selain itu dari pengamatan struktur dilapangan terlihat beberapa patahan yang menunjukan pergerakan naik, yang dimana kondisi tersebut merepresentasikan keadaan tektonik kompresi yang kuat yang menyebabkan terangkatnya Malang Selatan. Di stopsite ini pak Handoko memberikan tugas untuk peserta yakni memotret kondisi geologi ataupun sketsa geologi yang menggambarkan keadaan geologi di lokasi tersebut, nantinya akan dipilih photo ataupun sketsa terbaik yang akan diberikan hadiah berupa kompas geologi.

Foto 5. Peserta mendengarkan penjelasan dari pemateri di stopsite 2
Foto 6. Peserta mengamati dan menganalisa singkapan batuan yang teralterasi di stopsite 2
Foto 7. Foto bersama peserta dengan pemateri

Pada pukul 11.10 WIB rombongan fieldtrip melanjutkan perjalanan menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat jumat dan sekaligus untuk istirahat makan siang. Setelah istirahat makan siang rombongan kembali melanjutkan perjalan ke stopsite ke-3 yakni di pantai Ungapan yang ditempuh dengan waktu ± 40 menit dari stopsite 2. Di sepanjang perjalanan menuju stopsite ke-3 teramati banyak singkapan batugamping yang menunjukan suksesi lapisan yang baik dan jajaran conical hill sebagai penanda khas kawasan geomorfologi karts. Setibanya di stopsite ke-3 di Pantai Ungapan peserta diberikan penjelasan mengenai kondisi sedimentasi modern yang berlangsung di lokasi tersebut dan kaitannya dengan kondisi-kondisi geologi di Malang Selatan sekaligus merangkum kegiatan fieldtrip dari stopsite pertama yang berada di bagian utara hingga terakhir diselatan, sehingga peserta mendapatkan puzzle  geologi yang cukup lengkap mengenai proses tektonik-sedimentasi di Malang Selatan. Kegiatan fieldtrip diakhiri dengan penyerahan momento oleh ketua panitia GEOSC 2018 dan photo bersama peserta dan pemateri di depan Pantai Ungapan.

Foto 8. Stopsite 3 Pantai Ungapan

Daerah pegunungan Malang Selatan sendiri merupakan daerah yang sangat baik sebagai tempat kuliah lapangan dimana menyajikan secara baik singkapan batuan, baik itu singkapan hasil penambangan maupun bekas pemotongan jalan (cut-road), selain itu kondisi geologinya menawarkan cerita yang luar biasa yang dapat merepresentasikan kondisi geologi di selatan jawa sehingga dapat memberikan wawasan bagi mahasiswa kebumian yang ingin mempelajari geologi pulau Jawa.

3 Hari Bersama SM-IAGI dalam acara Geostudent Competition 2018

Geostudent Competition (GeoSC) merupakan acara tahunan FGMI, pada tahun ini sudah dilaksanakan untuk yang ke-3 kalinya dengan SM-IAGI Universitas Brawijaya menjadi tuan rumah. Acara berlangsung dari Hari Jumat tanggal 23 November 2018 sampai Hari Minggu tanggal 25 November 2018. Acara langsung dibuka dengan fieldtrip mengenal geologi daerah Malang Selatan dengan pemateri Bapak Handoko Teguh Wibowo S.T, M.T beliau merupakan dosen di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya sekaligus Ketua Pengda IAGI Jawa Timur. Dalam kegiatan fieldtrip tersebut peserta di bawa ke 3 stopsite yang sangat menarik di Malang Selatan. Stopsite pertama berada di puncak tertinggi dari kompleks pegunungan selatan Malang yakni daerah Argo Tirto, peserta dibawa mengamati singkapan batugamping yang melampar baik dan tumbuh di tinggian OAF (old andesite formation). Selanjutnya di stopsite ke-2 peserta dibawa menuju singkapan batuan pryophilite yang merupakan salah satu contoh batuan meta-sedimen yakni low-grade metamorphic yang dihasilkan dari kegiatan intrusi batuan beku. Stopsite terakhir berada di Pantai Ungapan yakni pantai selatan dari daerah Malang yang secara morfologi berada di antara batugamping (conical hill), di tempat tersebut pemateri menjelaskan mengenai proses sedimentasi modern dan kaitannya dengan kompleks karst di daerah Pantai Selatan.

Foto 1. Foto bersama pemateri dan peserta field trip
Foto 2. Sesi diskusi peserta dan pemateri

GeoSC tahun ini dihadiri sebanyak 20 SM-IAGI dari total 25 SM-IAGI yang sudah ada, dengan wakil dari masing-masing SM-IAGI berjumlah 3 orang dan menjadi peserta GeoSC dengan jumlah terbanyak selama tiga tahun terakhir. Hari kedua dibuka oleh Kaprodi Teknik Geofisika Universitas Brawijaya dan ketua Forum Geosaintis Muda Indonesia Nurcholis, kemudian dilanjutkan dengan kompetisi Play Based Exploration dan Geothermal, untuk lomba Play Based Exploration sebagai jurinya adalah Bapak Andri Syafriya, S.T., M.T. ,acara dibuka dengan pemberian materi kepada peserta Geosc kemudian dilanjutkan dengan perlombaan, setelah lomba PBE dilanjutkan dengan perlombaan Geothermal, dimana panitia bekerjasama dengan Pertamina Geothermal Energy untuk pembuatan soal dan pemberian materi diisi oleh Bapak Sardiyanto dan Bapak Tofan Sastranegara.

Foto 3. Foto bersama pemateri Play Based Exploration dengan peserta
Foto 4. Foto bersama pemateri Geothermal dengan peserta

Acara hari ke-3 diisi dengan perlombaan Geoscience Knowledge, dimana peserta diuji untuk mengeluarkan ide serta membahas isu-isu kebumian dalam format presentasi kepada dewan juri. Ketua Umum IAGI Bapak Sukmandaru Prihatmoko membuka acara sekaligus menjadi dewan juri bersama Bapak Burhanudinnur (Wakil Ketua Umum IAGI & Ketua ASPPRODITEGI), Pak Amin Widodo (Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Nurcholis (Ketua FGMI). Acara ditutup dengan gala dinner dan pengumuman pemenang di Hotel Regen Park Malang, acara penutupan dihadiri oleh Dekan Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Drs. Adi Susilo, M.Si.,Ph.D ,sebagai Juara 3 adalah SM-IAGI Universitas Indonesia, Juara 2 diperoleh SM-IAGI UPN “Veteran” Yogyakarta dan Juara 1 diperoleh SM-IAGI Universitas Brawijaya. Selamat kepada pemenang dan sampai jumpa di acara Geosc 2019 di Universitas Islam Riau.

Foto 5. Foto Juri Geoscience Knowledge
Foto 6. Suasana presentasi dari salahsatu kelompok
Foto 7. Seluruh peserta dan panitia Geostudent Competition 2018
Foto 8. Juara tiga Geostudent Competition 2018 diperoleh SM-IAGI UI
Foto 9. Juara dua Geostudent Competition 2018 diperoleh SM-IAGI UPN
Foto 10. Juara satu Geostudent Competition 2018 diperoleh SM-IAGI UB

Geothermal Goes to Campus UNPAD

Geothermal Goes to Campus atau  Geothermal Mengajar IAGI merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) dalam rangka memperkenalkan secara detail mengenai potensi hingga Industri panas bumi di Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, Geothermal Goes to Campus mengunjungi Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 11 Oktober 2018 di Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran dengan mendatangkan para expert geothermal KS-ORKA Bpk. Birean D. Sagala selaku Subsurface Manager beserta Tim Geologist: Haris Munandar Siagian dan Dhani Sanjaya.

Kuliah umum yang diikuti lebih dari 35 orang peserta ini membahas mengenai potensi hingga konsep eksplorasi panas bumi di Indonesia mulai dari pengertian dan konsep dasar, potensi di dunia khususnya di Indonesia, tahapan eksplorasi panas bumi serta peran seorang geologist pada eksplorasi panas bumi.

Selain pemberian materi di akhir sesi diadakan sesi tanya jawab dan diskusi terkait pengembangan geothermal yang ada di Indonesia. Acara ini sangat berkaitan dengan kegiatan perkuliahan khususnya peminatan energi mahasiswa teknik geologi Unpad dalam mendalami energi panas bumi di perkuliahan. Harapanya dengan adanya sharing knowledge dengan IAGI maupun FGMI, ataupun bidang lainnya untuk memperdalam Ilmu yang didapat dalam perkuliahan.

Beberapa Dokumentasi hasil kegiatan:

FGMI Goes to Universitas Jambi

Diskusi dengan Mahasiswa Teknik Geologi UNJA

Pada hari sabtu, 22 September 2018 FGMI dalam hal ini diwakili oleh Pak ketua Nurcholis, Ananda Rizki dan Oka Agastya berkunjung ke Teknik Geologi Universitas Jambi (UNJA). Dalam kunjungan tersebut rekan-rekan FGMI berkesempatan untuk mengenalkan FGMI dan SM-IAGI lebih dekat dengan mahasiswa Geologi UNJA. kegiatan tersebut disambut baik oleh Kaprodi Teknik Geologi yakni Ibu D.M. Magdalena Ritonga dan civitas dosen Teknik geologi UNJA. kegiatan sharing tersebut diawali dengan memperkenalkan kegiatan yang dilakukan FGMI bersama SM-IAGI baik mengenai latar belakang berdirinya SM-IAGI dan bagaimana SM-IAGI berperan dalam meningkatkan dan menunjang kegiatan mahasisa geologi di Indonesia dan diahkiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab seputar pendirian SM-IAGI. Semoga dengan kegiatan sharing ini dapat lebih membuka, mengembangkan dan memberikan informasi kepada rekan-rekan mahasiswa teknik geologi UNJA mengenai SM-IAGI dan harapan kami mahasiswa Teknik geologi UNJA dapat segera bergabung di keluarga besar SM-IAGI agar dapat memberikan sumbangsih dalam pengembangan mahasiswa dan Universitasnya.

Foto bersama Mahasiswa dan Dosen TG Unja

Kunjungan HMGF UI dan SM-IAGI di Sekretariat FGMI

Jumat, 28 September 2018 Himpunan Mahasiswa Geofisika Universitas Indonesia (HMGF-UI) melakukan kunjungan ke secretariat FGMI-IAGI di Jl Tebet Timur Dalam X, Jakarta Selatan. Kunjungan dari mahasiswa ini diterima oleh Ketua FGMI Nurcholis dan Aditya dari Divisi Penelitian dan Pengembangan FGMI. HMGF-UI mempunyai program kerja yaitu meet whit professional, dan salahsatu yang diajak diskusi adalah teman-teman dari FGMI. FGMI juga mengundang pengurus SM-IAGI terutama yang di wilayah Jabodetabek yaitu SM-IAGI Universitas Indonesia, SM-IAGI Universitas Pakuan dan SM-IAGI Universitas Trisakti untuk ikut berdiskusi bersama.

Acara di awali dengan presentasi pengenalan FGMI dari struktur organisasi dan kegiatan-kegiatannya, kemudian dilanjutkan sesi diskusi. Selanjutnya secara bergantian dilanjutkan presentasi dari HMGF UI dan perwakilan SM-IAGI yang hadir.

Diskusi ini sangat berguna untuk mengoptimalkan dan membuka peluang untuk saling bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan seperti seminar, field trip dan kegiatan kampus lainnya yang bisa menambah soft skill mahasiswa. FGMI akan membimbing dan mengarahkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

Foto Bersama Pengurus FGMI, SM-IAGI dan HMGF UI
Penyerahan plakat dari HMGF UI

Gali Semangat Berprestasi di Inspirasi Geologi

Pada hari Jumat tanggal 31 Agustus 2018, telah dilaksanakan salah satu program kerja unggulan Ikatan Alumni Teknik Geologi Universitas Sriwijaya (IKA GEO Sriwijaya) yang diberi nama Inspirasi Geologi. Kegiatan Inspirasi Geologi berupa aktifitas peliputan video wawancara dengan sejumlah narasumber yang merupakan insan geosaintis inspiratif dan dinilai memiliki kompetensi yang mumpuni di bidang ilmu kebumian. Topik wawancara meliputi hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan hidup narasumber hingga meraih kesuksesan dan disertai dengan pembahasan isu terkini maupun pembahasan teknis mengenai ilmu kebumian, khususnya geologi. Setiap hasil peliputan wawancara akan dipublikasikan di sejumlah media publikasi digital IKA GEO Sriwijaya (channel YouTube dan instagram @ikageosriwijaya) agar inspirasi dan informasi yang terdapat pada setiap edisi Inspirasi Geologi dapat tersebar secara luas ke setiap insan geosaintis di Indonesia.

Pada Inspirasi Geologi edisi perdana kali ini, narasumber yang diundang untuk berbagi inspirasi adalah Nurcholis, S.T. yang merupakan Ketua Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI). Wawancara tersebut dipandu oleh Muhammad Addiansyah, S.T.  yang merupakan Ketua IKA GEO Sriwijaya dengan topik pembahasan seputar perjalanan hidup Ketua FGMI, aktifitas dan program kerja FGMI, kondisi terkini karir Geosaintis Muda Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0, dan strategi yang perlu dipersiapkan oleh Geosaintis Muda Indonesia agar dapat beradaptasi dengan baik pada Era Revolusi Industri 4.0.

Gambar 1. Proses peliputan Inspirasi Geologi bersama Ketua FGMI

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa Era Revolusi Industri 4.0 yang saat ini tengah berlangsung ditandai dengan meningkatnya interaksi antara manusia, instrumen industri, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi. Pada industri kebumian mulai diterapkan big data, augmented intellegence, dan internet of things pada aktifitas eksplorasi-produksi dan pengelolaan data sumberdaya alam. Sehubungan dengan adanya proses digitalisasi pada industri kebumian tersebut, maka Ketua FGMI mengajak seluruh Geosaintis Muda Indonesia untuk segera mengupgrade kemampuan diri dalam penggunaan teknologi, namun tetap disertai dengan upaya peningkatan pengetahuan konseptual dan teknis industri kebumian. Strategi lain yang dapat dilakukan oleh Geosaintis Muda Indonesia dalam proses penyesuaian Era Revolusi Industri 4.0 adalah memahami Making Indonesia 4.0 yang merupakan roadmap untuk mengimplementasikan sejumlah strategi Pemerintah Republik Indonesia dalam memasuki Era Revolusi Industri 4.0, sehingga Geosaintis Muda Indonesia dapat memahami perubahan orientasi industri di Indonesia dan mulai tergerak untuk membekali diri dengan kemampuan-kemampuan yang diperlukan agar dapat tetap berkarir dan berprestasi dengan baik di Era Revolusi Industri 4.0.

Setelah hampir 30 menit melakukan peliputan wawancara, narasumber menyampaikan closing statement bahwa Geosaintis Muda Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan adanya Revolusi Industri 4.0, dan yang terpenting adalah Geosaintis Muda Indonesia harus segera mengupgrade kemampuan diri sesuai dengan perkembangan teknologi dan instrumen baru yang digunakan pada industri kebumian. Setelah penyampaian closing statement tersebut maka peliputan wawancara ditutup dengan teriakan tagline “Inspirasi Geologi, Salam Inspirasi!” oleh Ketua FGMI dan Ketua IKA GEO Sriwijaya. Setelah peliputan wawancara dengan Ketua FGMI tersebut selesai, kegiatan selanjutnya berupa ramah tamah dan diskusi ringan Tim IKA GEO Sriwijaya bersama Ketua FGMI.

Harapannya, dalam waktu dekat IKA GEO Sriwijaya dapat segera kembali melakukan peliputan wawancara Inspirasi Geologi edisi berikutnya dengan narasumber yang tidak kalah inspiratif dengan Ketua FGMI, sehingga akan ada banyak inspirasi dan semangat berprestasi yang dapat disebarkan kepada seluruh insan geosaintis di Indonesia.

“Inspirasi Geologi, Salam Inspirasi!”

Gambar 2. Foto bersama Ketua FGMI dengan Tim IKA GEO Sriwijaya

FGMI MERAYAKAN ULANGTAHUN KE-6 DENGAN MENGGELAR PAMERAN KEBUMIAN

Forum Geosaintis Muda Indonesia mengadakan pameran kebumian berupa foto vulkanologi dari Badan Geologi, sketsa lapangan karya Dr. Budi Brahmantyo dan beberapa koleksi dari Museum Geologi Bandung di Jakarta Creative Hub, Jakarta pusat mulai dari tanggal 26-31 maret 2018. Pameran dibuka setiap harinya pukul 10:00 hingga 16:00 WIB, untuk hari jumat tanggal 30 pameran ditutup. Pameran kebumian ini sekaligus perayaan ulangtahun FGMI yang ke-6 dan menyongsong ulangtahun Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang ke-58.

Poster Acara FGMI 6.0 yang diisi dengan Pameran, Seminar dan Talkshow

Selain pameran, di hall utama aka nada seminar gempabumi Jakarta yang akan dihadiri oleh Kepala BMKG, Kepala Badan Geologi, Ketua IAGI dan Kepala BPBD DKI Jakarta pada hari selasa tanggal 27 Maret 2018. Talkshow tentang Geosaintis Zaman Now juga akan diadakan pada hari Sabtu tanggal 31 Maret yang akan diisi oleh Bp. Rovicky Dwi Putrohadi, Presiden ISPG Julianta Panjaitan, Sekjen IAGI Dwandari Ralanarko dan akan dibuka oleh ketua FGMI dan Ketua IAGI.

Sabtu, 31 Maret juga menjadi puncak acara dimana akan dilakukan pemotongan tumpeng dan FGMI award, penghargaan diberikan dari FGMI kepada orang-orang IAGI yang telah berkontribusi bagi pengembangan geosaintis di Indonesia.

  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id