Berita Dunia Geosaintis

Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk menurunkan emisi CO2. Bagaimana di Indonesia?

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia juga berada di peringkat keempat sebagai penghasil Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar pada tahun 2015. Emisi CO2 berasal dari berbagai sektor seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahun 2016, Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU) memiliki emisi CO2 638.542 Gg CO2e. Dari tahun ke tahun, sektor ini merupakan penyumbang emisi terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya. Terutama pada tahun 2015 di mana emisi karbon sangat tinggi karena kebakaran lahan gambut yang sangat parah pada tahun itu. Kemudian diikuti oleh sektor energi dengan emisi 506.473 Gg CO2e. Perlu dicatat bahwa pemenuhan energi di Indonesia masih sangat tergantung pada bahan bakar fosil. Sektor lain yang juga menyumbang emisi karbon adalah Industrial Process and Product Use (IPPU) 53.892 Gg CO2e dan juga sektor limbah 2.940 Gg CO2e.

Gambar 1. Emisi GRK Nasional (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2018)

Dalam Sustainable Development Scenario (SDS), International Energy Agency (IEA) menganalisis beberapa opsi untuk mengurangi emisi karbon seperti yang terlihat pada Gambar 2. Di antara opsi-opsi ini, Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) adalah satu-satunya teknologi yang dapat menangkap CO2 yang telah dilepaskan ke atmosfer. Sementara teknologi lainnya merupakan tindakan mencegah peningkatan emisi karbon. Dengan kata lain, CCUS adalah teknologi paling menjanjikan yang perlu diterapkan di setiap negara terutama di Indonesia. Sebagaimana komitmen Indonesia yang dinyatakan dalam Intended Nationally Determined Contributions (INDCs) untuk Paris Agreement pada tahun 2015, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% hingga 41% pada tahun 2030, termasuk pengenalan energi bersih dan terbarukan dan juga konservasi energi (The 5th ASEAN Energy Outlook, 2017).

Gambar 2. Skenario Pengurangan Emisi CO2 (International Energy Agency)

Kondisi CCUS di Indonesia saat ini

Menurut Indonesia CCS Study Working Group, saat ini Indonesia masih dalam tahap Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk teknologi CCUS. Namun, kecenderungan pemanfaatan teknologi ini di Indonesia difokuskan untuk peningkatan produksi sumur-sumur tua minyak dan gas yang tersebar luas di berbagai lokasi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pemenuhan energi dari bahan bakar fosil di Indonesia masih menjadi prioritas utama. Sedangkan dengan menggunakan CO2 sebagai EOR (Enhanced Oil Recovery) atau EGR (Enhanced Gas Recovery), emisi negatif tidak akan tercapai karena akan menghasilkan emisi karbon lainnya setelah minyak dan gas diekstraksi kembali ke permukaan. Dari skema pemanfaatan CO2 yang terlihat di Gambar 3, teknologi manakah yang paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia dan juga memenuhi syarat emisi negatif? Sebagai Geosaintis, saat ini penulis sedang mendalami teknologi Mineral Carbonation (mengubah CO2 menjadi material karbonat) dan Sequestration (menginjekasikan kembali CO2 ke dalam formasi geologi tertentu). Penjelasan lebih detail mengenai perbandingan kedua teknologi ini akan dibahas lebih lanjut dalam artikel selanjutnya.

Gambar 3. Alur Kerja Teknologi CCUS (Integrated CO2 Network)
Referensi
  • ASEAN Centre for Energy (ACE). (2017). The 5th ASEAN Energy Outlook (AEO5). Available at: http://www.aseanenergy.org/publications
  • Best, D., Mulyana, R., Jacobs, B., Iskandar, U. P., and Beck, B. (2011). Status of CCS Development in Indonesia. Energy Procedia 4, 6152-6156. doi:10.1016/j.egypro.2011.02.624
    COP21. (2015). COP21 Paris France Sustainable Innovation Forum 2015. Available at: http://www.cop21paris.org
  • Integrated CO2 Network (ICO2N). (2015). Fact sheet about CCUS technologies. Available at: https://www.pembina.org/reports/ccu-fact-sheet-2015.pdf
  • International Energy Agency Report. (2007). Capturing CO2. IEA Greenhouse Gas R&D Programme 2007. ISBN:978-1-898373-41-4
  • Ministry of Environment and Forestry. (2018). Indonesia Second Biennial Update Report Under the United Nations Framework Convention on Climate Change. Jakarta: Directorate General of Climate Change, Ministry of Environment and Forestry.

FLASHBACK TO 1998 : REFLEKSI HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 2020

“The foods we eat, the air we breathe, the water we drink and the climate that makes our planet habitable all come from nature.

Yet, these are exceptional times in which nature is sending us a message:
To care for ourselves we must care for nature.

It’s time to wake up. To take notice. To raise our voices.
It’s time to build back better for People and Planet.

This World Environment Day, it’s Time for Nature.

Inilah paragraf pembuka halaman website www.worldenvironmentday.global dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020.

***

Halo Sobat Geos, bagaimana kabar Anda? Semoga Anda tetap sehat fisik dan mental walau di tengah situasi pandemi yang sangat berat ini. Baik Sobat, saya akan mulai artikel ini dengan pertanyaan : apakah saat pandemi seperti ini Anda masih membutuhkan makanan untuk bertenaga? masihkah Anda butuh udara untuk bernafas? dan apakah Anda masih butuh air untuk minum menghilangkan dahaga? Jika jawabannya iya, renungkanlah pertanyaan tersebut sambil Anda membaca cerita ini!.

Anak-anak generasi milenial (termasuk saya) adalah orang menyaksikan perubahan dunia yang sangat cepat sejak penghujung abad ke-20 hingga sekarang. Perubahan tersebut terjadi pada semua aspek kehidupan kita, tak terkecuali pada aspek lingkungan hidup. Untuk mengajak Anda berpikir tentang perubahan kondisi lingkungan hidup ini, saya mau mengajak anda flashback pengalaman pribadi hidup saya. Sekitar tahun 1998an, saya tinggal di batas antara kota Tangerang dengan Jakarta. Saya masih teringat kenangan saat itu, sewaktu saya masih kanak-kanak. Setiap bangun pagi selalu disambut dengan suara burung gereja yang sedang hinggap di atap rumah. Menjelang siang banyak kupu-kupu berwarna kuning menghiasi sekitar pepohonan berbunga. Sore harinya, saya dan teman-teman sangat asik menatap burung-burung (yang belum pernah kami lihat bagaimana rupanya) dan kelelawar banyak beterbangan menghiasi langit yang berwarna jingga. Malam harinya, kaki saya disambut katak yang melompat-lompat saat saya berjalan menuju rumah sepulang dari bermain atau mengaji. Terkadang saya juga bermain di dekat kanal yang airnya bersih, mengalir dan banyak ikan-ikan kecil.

Namun kenangan indah ini perlahan benar-benar hanya tinggal kenangan. Dari tahun ke tahun, apa yang saya sebutkan diatas satu persatu menghilang. Entah apa penyebabnya, namun saya yakin bahwa ini “hanyalah” rangakaian perubahan kecil yang mampu saya lihat saat itu, dari sebuah perubahan besar yang sedang terjadi namun belum bisa saya pahami sampai saya ada di usia sekarang. Apa itu? baik, saya akan coba jelaskan pelan-pelan.

Membaiknya kondisi sosio-politik-ekonomi Indonesia pasca krisis ekonomi tahun 1998 menjadikan masyarakat kita semakin maju dan menciptakan peluang baru tumbuhnya industrialisasi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jakarta sebagai Ibukota negara yang menjadi pusat keramaian manusia, menarik perhatian para pebisnis untuk menjadikan kota ini sebagai “center of market”. Mereka kemudian memilih “pinggiran kota”, salah satunya tempat saya tinggal ini, sebagai kawasan industri baru agar dekat dan murah dalam mendistribusikan produknya ke pasaran. Pabrik-pabrik dan kompleks pergudangan pun akhirnya dibangun dengan menggusur lahan yang semulanya adalah sawah, kebun atau sekedar lahan tak berfungsi yang ditumbuhi tanaman obat dan pepohonan besar. Tak cukup sampai situ, keberadaan pabrik ini jelas memancing kedatangan kaum transmigran yang mencari lapangan pekerjaan dan kemudian bekerja sebagai pegawai kantor maupun sebagai buruh. Kedatangan mereka memaksa lahan sekitar semakin terbatas dan beralih fungsi menjadi pemukiman padat yang terdiri dari rumah pribadi maupun kontrakan untuk tempat tinggal kaum pekerja ini. Tidak hanya itu, perusahaan properti swasta pun berlomba-lomba membangun kompleks perumahan untuk menyediakan hunian kalangan eksekutif. Lahan di sekitar kami yang semulanya menghasilkan sebagian bahan makanan dan obat untuk penduduk setempat, kini sudah berubah menjadi hutan beton. Mungkin inilah sebebanya mengapa burung-burung, kelelawar, kupu-kupu sudah jarang saya ditemukan disana. Ya, karena mereka kehilangan habitat. Alih fungsi lahan adalah masalah pertama.

Sawah dan kebun yang hilang membuat penduduk setempat harus membeli beras dari yang semulanya mereka menanam padi sendiri. Masih ada sebagian sawah yang tersisa di antara pabrik-pabrik, namun sawah tersebut sudah tak lagi produktif karena pencemaran air dan tanah oleh limbah industri yang tidak diproses terlebih dahulu. Saya juga bingung mengapa tidak ada tindakan tegas pemerintah dalam menangani hal ini. Kanal yang semula airnya bening, kini airnya berwarna hitam pekat dan baunya sangat menyengat seperti bau pelumas. Kalau sudah seperti ini masihkah kita berharap ada ikan yang hidup disana?. Pencemaran air adalah masalah kedua.

Belum lagi sampah harian dalam jumlah banyak yang dihasilkan dari rumah tangga. Sampah tersebut dibuang di pusat pembuangan sampah lokal yang tidak resmi dan tidak terurus meski kini sudah ada pengelola dari pemerintah. Karena minimnya pendidikan, beberapa penduduk membakar sampahnya sendiri, dan ini menyebabkan pencemaran udara. Keberadaan pabrikpun berdampak pada kualitas udara. Penduduk merasakan adanya peningkatan kadar debu yang masuk ke rumah mereka. Kalau seperti ini berarti cukup banyak debu yang mengambang di udara bukan? Apa artinya? Jangan merasa aneh jika muncul penyakit pernafasan di kemudian hari! Pencemaran udara dan dampaknya ini adalah masalah ketiga.

Kalau kerusakannya sudah seperti ini siapakah yang harus bertanggung jawab? Apakah para “korban tidak langsung” ini  boleh menuntut hak mereka kepada para pemilik pabrik? Atau menyalahkan pemimpin yang mengizinkan adanya pembangunan kawasan industri disana? Dan jika sudah ditetapkan siapa yang harus bertanggungjawab, apakah kondisi lingkungan bisa dikembalikan seperti semula? Sepertinya sulit. Jadi bagaimana? Ya, penduduk disana hanya diminta untuk berdamai dengan keadaan! Mereka dipaksa menjadi korban pencemaran yang tak berdaya. Padahal air, udara dan tanah adalah elemen penting untuk mendukung  kehidupan mereka. Tapi, nampaknya itu tak akan ada di dalam benak kaum kapitalis. Ya, kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan nampaknya memang sulit untuk bersatu.

Dari kisah yang skala ruang dan waktunya sempit ini, saya mendapatkan sebuah pola dari kerusakan lingkungan, yaitu  sebagai berikut, (1) bermula dari suatu tempat menjadi tempat yang menarik perhatian orang untuk tinggal disana, (2) orang-orang berdatangan dan hampir/mencapai titik over-populated, (3) adanya perubahan fungsi lahan, dan (4) menurunnya kualitas lingkungan karena pencemaran dan sudah tidak hadirnya elemen pendukung lingkungan.

Dengan demikian, saya dapat meringkas bahwa kerusakan ini bermula dari izin yang diberikan oleh pemimpin yang berwenang kepada pebisnis untuk mengalihfungsikan lahan. Hal ini memunculkan efek domino hingga menimbulkan kerusakan lingkungan karena ulah pebisnis yang tidak bertanggungjawab selama eksekusinya.

Saya rasa apa yang saya ceritakan di atas adalah hal yang lumrah terjadi di kota-kota yang mengalami industrialisasi di Indonesia seperti Karawang, Sidoarjo, dan Pasuruan. Mungkin pinggiran kota di negara-negara Emerging 7 lainnya juga merasakan hal yang sama. Yuk kita bersuara! (YBM)

(Konten dari artikel ini menjadi tanggungjawab penulis seutuhnya)

oleh : Yan Bachtiar Muslih

Divisi LITBANG FGMI

Fakta Menarik Jatibarang

Jatibarang Sub-basin according to Amril, Sukowitono, and Supriyanto. (1991)
  • Pertama kali ditemukan pada tahun 1941
  • Hingga kini, terdapat lebih dari 140 sumur pada Sub-Cekungan Jatibarang
  • Berupa half-graben system yang berlokasi di antara Sunda microplate dengan India Australia subdcution, dengan keberadaan pada back-arc (Adnan, et.al., 1991)
  • Menurut Clements dan Hall (2007), Formasi Jatibarang sebagai formasi penghasil hidrokarbon, terbentuk pada Oligosen Awal. Formasi terbentuk pada half-graben berorientasi Utara-Selatan. Sementara menurut Martodjojo (2003), Formasi Jatibarang berumur Cretaceous-Eocene.
  • Arpandi dan Padmosoekismo (1975) dalam Martodjojo (2003) menyatakan Formasi Jatibarang menerus dari selatan Jakarta hingga lepas pantai Cierbon di sebelah timur.
  • Formasi Jatibarang memiliki ketebalan lebih dari 1200 m dan mengalami penipisan pada bagian Barat dari Cekungan Jawa Barat Utara.
  • Masih menurut Clements dan Hall (2007), pembentukan Sub-Cekungan berkaitan ekstensi yang tidak berkaitan dengan subduksi pada bagian Selatan Jawa, hal ini dikarenakan sumbu subduksi dan ekstensi pada Sub-Cekungan Jatibarang berlainan arah. Dengan demikian pula, diinterpretasikan bahwa Formasi Jatibarang merupakan hasil fissure eruption, dan bukan strato volcano pada umumnya.
  • Dalam disertasi Martodjojo (2003), disebutkan bahwa Formasi Jatibarang Yang pertama adalah batuan beku dan yang kedua adalah tufa. Batuan beku terdiri dari basalt, andesit. Batuan tufa terdiri dari tufa vitrik atau tufa gelas, tufa lithik serta tufa kristal.
  • Sistem petroleum yang dikemukakan oleh Adnan, et.al. (1991) adalah Sub-Cekungan Jatibarang sebagai reservoir dengan Formasi Talangakar hadir sebagai batuan induk. Formasi Talangakar, meskipun berumur lebih muda, yang menjadi batuan induk terletak pada bagian low dari cekungan dengan Formasi Jatibarang pada bagian high. Jalur migrasi pada cekungan adalah patahan-patahan yang hadir.
  • Jatibarang sub basin terbentuk sebagai sistem half graben yang pembentukannya di kontrol oleh patahan turun dengan arcuate pattern. Tren patahan utara – selatan terbentuk ketika subduksi berubah arah menjadi timur – barat. Ryacudu dan Bachtiar (2000) menjelaskan bahwa Jatibarang sub – basin melepaskan double bend structure dari sistem zona patahan NW-SE right-stepping strikeslip.
  • Lapangan Jatibarang sendiri merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Basin Jawa Barat Utara. Formasi Jatibarang ditutupi oleh Formasi Talang Akar dengan sedimen fluvio – deltaic yang tersusun atas sandstones, shale, dan coal. Formasi ini mengisi posisi terendah cekungan, oleh karena itu jarang ditemukan di basement high(Sinclair et.al. 1995).

 

Jatibarang Fm. Depositional environment according to Clements and Hall (2007)

 

Selayang Pandang Tanah Jo Kincai : Potensi Geowisata dan Mitigasi Bumi Sakti Alam Kerinci

Kerinci merupkan suatu wilayah berbagai bentukan alam khas geologi seperti kawah gunung api, sungai dan air terjunya, goa dan lain dengan berbagai keunikanya semua dimiliki kerinci sebagai sebuah anugerah potensi wisata geologi yang sangat melimpah. Namun Kerinci memiliki potensi bencana gunung api seperti debu vulkanik dan gempabumi maka diperlukan mitigasi bencana untuk dapat meminimalisir korban dengan adanya titik evakuasi.

Tugu Macan dan Gunung Kerinci. Sumber : Kerinci Paradise

Apa itu Geowisata?

Geowisata adalah suatu kegiatan wisata berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologi permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal. Indonesia adalah negara yang memiliki daya tarik geologi yang khas di berbagai wilayah dan dapat dijadikan sebagai objek geowisata.

Salah satu potensi yang sangat besar dari Kabupaten Kerinci adalah menjadikan keindahan alam Kerinci sebagai objek wisata, terutama objek wisata alam. Melihat banyaknya potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Kerinci. Letak wilayah Kabupaten Kerinci secara geografis adalah di antara 01 41’ sampai 02 26’ lintang selatan dan 101 08’ sampai 101 40’ bujur timur. Luas kabupaten Kerinci sebesar 420.000 Ha. Ibu  kota Kerinci yaitu Sungai Penuh berjarak 418 km dari Kota Jambi.Dari wilayah Kerinci keseluruhan, 52 % merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, hanya sekitar 48% merupakan kawasan budidaya.

                Peta Geowisata Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

 

POTENSI GEOWISATA

Kabupaten Kerinci memiliki keanekaragaman geologi (geodiversity) berupa bentang alam yang indah sebagaimana layaknya sebuah, mata air panas sebagai indikasi fenomena panas bumi, air terjun, gua, dan berbagai jenis singkapan batuan gunungapi.

Daerah kerinci memiliki potensi geowisata diantaranya :

Gunung Kerinci (S01o41’50” dan E101o15’52”) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Kerinci merupakan gunung api aktif bertipe stratovulkanik dengan ketinggian 3.805 mdpl dan memiliki letusan bersifat eksplosif. Gunung api ini muncul di dalam suatu struktur graben yang merupakan bagian dari sesar Sumatra, tubuh gunung api ini muncul didasar suatu graben vulkano tektonik regak lurus pada garis tektonik bukit barisan yang mengalami penurunan waktu patahan besar terjadi.  Beberapa kegiatan terakhir gunung kerinci adala tahun 2008 berupa letusan abu disertai asap hitam.

Goa Kasah (E01  49.103’ S101  21.655’) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dekat Desa Renah Kasah Kacamatan Kayu Aro. Disepanjang perjalanan terdapat banyak batuan vulkanik yang merupakan hasil dari letusan gunung api. Didalam goa ini terdapat beberapa jejak peninggalan terdahulu seperti tengkorak, tulisan kuno, dan didinding terdapat wujud wanita yang sedang sholat .

Mata Air panas Semurup (E: 01  59.167’  S: 101  21.306). Merupakan salah satu objek wisata yang terletak  di kabupaten kerinci, jambi. Tepatnya di Desa  Air Panas Baru Semurup ini memiliki luas 76 m². Mata air panas semurup pada umumnya berada di batuan sedimen namun ada pengaruh dari aktivitas magmatic. dimensi dan keadaan geologi air panas semurup yang berupa kolom ini memiliki 15 meter persegi. menurut warga setempat ,dahulu suhu air mencapai 100̊ C, tempat tersebut tetap mengagumkan dan sangat menarik ketika membayangkan ada titik sepanas ini di dataran tinggi 800 mdpl.

Bukit kayangan merupakan rangkaian panorama Negeri diatas awan dari bukit barisan yang mengelilingi sebagian daerah kerinci. lokasinya berada di desa Renah Kayu Embun, tidak begitu jauh dari pusat kota sungai penuh, puncak bukit kayangan (±1500mdpl).

Selain itu terdapat banyak air terjun di Kerinci, diantaranya adalah Air Terjun Talang Kemulun (E02  03.975’ S101  32.409’) dan Air Terjun Saluang Bersisik Emas  (E02 03.975’ S101 32.409’) dimana terdapat batuan basalt yang menjadi aliran air terjun.

Rawa lempur (E02 17.462’ S101 31.946’) ini merupakan sebuah geowisata yang belum terekspose bagi banyak orang dimana dapat di amati dengan sajian pemandangan bukit-bukit dan tanaman-tanaman liar.

Danau kerinci (N02̊ 08’ 58,72” E101̊ 29’ 19,02”). Danau Kerinci merupakan danau yang terbentuk akibat pergeseran sesar Sumatra yang membentuk cekungan Pull apart basin, cekungan ini kemudian terisi oleh air dan membentuk danau purba.

Danau Kaco terletak di Desa Lempur di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat  Danau kaco memang mempunyai air yang sangat bening kebiruan. Terletak di ketinggian 1289 diatas permukaan air laut, danau ini tergolong danau yang kecil tidak seperti danau-danau pada umumnya. Hanya berukuran luas sekitar 30 x 30m, namun danau ini bisa menyuguhkan keindahan geomorfologi di sekitarnya.

 

GEOHAZARD / MITIGASI BENCANA

Kerinci memiliki kekhasan geologi yang unik. Potensi geowisata dapat dimaksimalkan jika pengelolaan terhadap keruangan dan ekosistem dikelola dengan  baik. Beberapa potensi geowisata di Kerinci belum dikelola dengan baik seperti pada lokasi air terjun, danau kaco dan rawa lempur. Potensi geowisata yang tidak terkelola dengan baik dapat memungkinkan terjadi kebencanaan. Seperti banjir dan longsor.

Peta Geohazard Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

Bahwa terdapat beberapa lokasi yang berpotensi mengalami bencana longsor seperti di air terjun talang kemulun, air terjun seluang bersisik emas, dan di Goa Kasah. Karena sebagian besar lokasi wisata berada dalam wilayah TNKS maka tak jarang ditemukan binatang buas maupun melata yang dapat membahayakan wisatawan, seperti di Goa kasah, Gunung Kerinci, Danau Kaco dan air terjun Talang Kemulun.

 

Menyingkap Rahasia Calon Geopark Plato Dieng : Jejak Harta Karun Tersembunyi dari Warisan Gunung Dieng

Landscape Dieng Plateu dari Gunung Prau. Foto: Deni Sugandi

Kawasan Dataran Tinggi Dieng atau lebih dikenal dengan Dieng Plateau merupakan suatu wilayah di tengah-tengah Pulau Jawa, terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kawasan Dataran Tinggi Dieng terletak pada beberapa wilayah administratif, yaitu sebagian besar masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Kawasan Dataran Tinggi Dieng menjadi suatu daya tarik tersendiri dengan ketinggian daerah mencapai ± 2000 mdpl dengan dianugerahi berbagai macam potensi.

Apa itu Geopark?

Geopark atau yang sering disebut sebagai Taman Bumi merupakan sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki Situs Warisan Geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek Warisan Geologi (Geoheritage), Keragaman Geologi (Geodiversity), Keanekaragaman Hayati (Biodiversity), dan Keragaman Budaya (Cultural Diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan Pemerintah Daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.

Keragaman geologi (geodiversity) Kawasan Dataran Tinggi Dieng berkaitan erat dengan aktivitas gunungapi yang diiinterpretasikan oleh para ahli geologi mengenai Pembentukan Plato Dieng dengan membaginya 3 episode letusan Gunungapi Dieng berdasarkan umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan. Singkatnya, pada fase awal terjadi letusan besar dari Gunung Dieng yang menimbulkan Depresi Batur sebagai kaldera raksasa dataran tinggi (plato) dieng. Sisa morfologi yang paling terlihat adalah dengan adanya morfologi Gunung Prau sebagai salah satu pagar dari kaldera tersebut.

Gambaran Kaldera Raksasa akibat Depresi Batur. Foto: Google Maps

Kemudian Pada episode letusan kedua akibat menimbulkan terbentuknya morfologi tinggian yang menjadi perbukitan kerucut vulkanik dan morfologi rendahan akibat depresi membentuk suatu cekungan. Perbukitan vulkanik yang dihasilkan membentuk beberapa bukit yang sering dikenal sebagai Bukit Sikunir, Gunung Pakuwaja, Gunung Bisma dan Komplek Batu Ratapan Angin. Kemudian dari morfologi rendahan yang dihasilkan terisi oleh air yang membetuk beberapa telaga yang kita kenal sebagai Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Menjer, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Sewiwi. Kemudian ada Sumur Jalatunda yang secara morfologi dan genesa diinterpretasikan pembentukanya sama dengan danau. Pada beberapa daerah juga terbentuk patahan-patahan yang membentuk curug (air terjun) yang diantara nya yang sering kita kenal ada Curug Sikarim, Curug Sirawe, Curug Sigenting dan Curug Merawu.

Kenampakan Gunung Pakuwaja, Curug Sikarim, Batuan Beku Andesit dan Telaga Dringo. Foto: Gilang Agatra

Kemudian Pada episode letusan ketiga terjadi letusan muda pada titik-titik kawah aktif dari letusan sebelumnya. Hal ini sebagai pertanda masih aktifnya Gunung Dieng sampai saat ini. Kawah aktif yang di ditemukan disana diantaranya ada Kawah Sikendang, Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan Kawah Candradimuka serta Kawah Timbang yang diidentifikasi paling beracun dari semuanya. Batuan yang ada pada kawah tersebut sebagian besar sudah terubahkan menjadi batuan alterasi akibat adanya aktivitas vulkanik yang mengubah batuan tersebut. Pada bagian kawah juga dihiasi dengan adanya geyser (semburan mataair panas).

Kenampakan Kawah Candradimuka, Batuan Ubahan, dan Geyser. Foto: Gilang Agatra

Dari sisi keragaman hayati (bodiversity), Dieng dengan cagar alamnya menjadi rumah bagi hewan-hewan dan tetumbuhan endemik Jawa. Beberapa di antaranya ada yang menjadi produk pertanian yang menjadi unggulan dari daerah Dieng (purwaceng, terong belanda, cabe dieng dan carica). Dieng memiliki 3 cagar alam yang ditetapkan oleh BKSDA Jawa Tengah pada tahun 2018 yang diantaranya yaitu Taman Wisata Alam Tlogo Warno dan Pengilon, Cagar Alam Tlogo Semurup dan Cagar Alam Tlogo Dringo.

Purwaceng, Domdi (Domba Dieng), dan Carica. Foto: Par Par Priatna/Badan Geologi

Kemudian dari sisi keragaman budayanya (cultural divesity), Dieng sangat kaya dengan tradisi dan tinggalan budaya seperti tarian, kompleks percandian dan lain-lain. Diantaranya ada Kompleks Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Lennger Topeng dan Ruwat Rambut Gimbal yang biasanya masuk dalam rangkaian Dieng Cultural Festival disetiap tahunnya.

Kompleks Candi Arjuna (Foto: Par Par Priatna), Ruwat Rambut Gembel (Foto: Dowisata), dan Tarian Lengger Topeng (Foto: travel.masifan)

Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Peraturan tersebut kemudian dipertegas menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP) Jawa Tengah yang masuk dalam Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) lima cakupan wilayah Borobudur-Dieng sekitarnya dalam Peraturan Gubernur nomor 6 tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012–2027.

Hal ini menjadikan Kawasan Dataran Tinggi Dieng telah siap dengan potensi nya dan dapat segera untuk diajukan sebagai bagian dari Geopark Nasional maupun jaringan UNESCO Global Geopark.

 

Gilang Agatra

Divisi Media & Jurnalistik

FGMI 2019-2021

Geothermal Goes to Campus UNPAD

Geothermal Goes to Campus atau  Geothermal Mengajar IAGI merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) dalam rangka memperkenalkan secara detail mengenai potensi hingga Industri panas bumi di Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, Geothermal Goes to Campus mengunjungi Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 11 Oktober 2018 di Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran dengan mendatangkan para expert geothermal KS-ORKA Bpk. Birean D. Sagala selaku Subsurface Manager beserta Tim Geologist: Haris Munandar Siagian dan Dhani Sanjaya.

Kuliah umum yang diikuti lebih dari 35 orang peserta ini membahas mengenai potensi hingga konsep eksplorasi panas bumi di Indonesia mulai dari pengertian dan konsep dasar, potensi di dunia khususnya di Indonesia, tahapan eksplorasi panas bumi serta peran seorang geologist pada eksplorasi panas bumi.

Selain pemberian materi di akhir sesi diadakan sesi tanya jawab dan diskusi terkait pengembangan geothermal yang ada di Indonesia. Acara ini sangat berkaitan dengan kegiatan perkuliahan khususnya peminatan energi mahasiswa teknik geologi Unpad dalam mendalami energi panas bumi di perkuliahan. Harapanya dengan adanya sharing knowledge dengan IAGI maupun FGMI, ataupun bidang lainnya untuk memperdalam Ilmu yang didapat dalam perkuliahan.

Beberapa Dokumentasi hasil kegiatan:

FGMI Goes to Universitas Jambi

Diskusi dengan Mahasiswa Teknik Geologi UNJA

Pada hari sabtu, 22 September 2018 FGMI dalam hal ini diwakili oleh Pak ketua Nurcholis, Ananda Rizki dan Oka Agastya berkunjung ke Teknik Geologi Universitas Jambi (UNJA). Dalam kunjungan tersebut rekan-rekan FGMI berkesempatan untuk mengenalkan FGMI dan SM-IAGI lebih dekat dengan mahasiswa Geologi UNJA. kegiatan tersebut disambut baik oleh Kaprodi Teknik Geologi yakni Ibu D.M. Magdalena Ritonga dan civitas dosen Teknik geologi UNJA. kegiatan sharing tersebut diawali dengan memperkenalkan kegiatan yang dilakukan FGMI bersama SM-IAGI baik mengenai latar belakang berdirinya SM-IAGI dan bagaimana SM-IAGI berperan dalam meningkatkan dan menunjang kegiatan mahasisa geologi di Indonesia dan diahkiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab seputar pendirian SM-IAGI. Semoga dengan kegiatan sharing ini dapat lebih membuka, mengembangkan dan memberikan informasi kepada rekan-rekan mahasiswa teknik geologi UNJA mengenai SM-IAGI dan harapan kami mahasiswa Teknik geologi UNJA dapat segera bergabung di keluarga besar SM-IAGI agar dapat memberikan sumbangsih dalam pengembangan mahasiswa dan Universitasnya.

Foto bersama Mahasiswa dan Dosen TG Unja

FGMI MERAYAKAN ULANGTAHUN KE-6 DENGAN MENGGELAR PAMERAN KEBUMIAN

Forum Geosaintis Muda Indonesia mengadakan pameran kebumian berupa foto vulkanologi dari Badan Geologi, sketsa lapangan karya Dr. Budi Brahmantyo dan beberapa koleksi dari Museum Geologi Bandung di Jakarta Creative Hub, Jakarta pusat mulai dari tanggal 26-31 maret 2018. Pameran dibuka setiap harinya pukul 10:00 hingga 16:00 WIB, untuk hari jumat tanggal 30 pameran ditutup. Pameran kebumian ini sekaligus perayaan ulangtahun FGMI yang ke-6 dan menyongsong ulangtahun Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang ke-58.

Poster Acara FGMI 6.0 yang diisi dengan Pameran, Seminar dan Talkshow

Selain pameran, di hall utama aka nada seminar gempabumi Jakarta yang akan dihadiri oleh Kepala BMKG, Kepala Badan Geologi, Ketua IAGI dan Kepala BPBD DKI Jakarta pada hari selasa tanggal 27 Maret 2018. Talkshow tentang Geosaintis Zaman Now juga akan diadakan pada hari Sabtu tanggal 31 Maret yang akan diisi oleh Bp. Rovicky Dwi Putrohadi, Presiden ISPG Julianta Panjaitan, Sekjen IAGI Dwandari Ralanarko dan akan dibuka oleh ketua FGMI dan Ketua IAGI.

Sabtu, 31 Maret juga menjadi puncak acara dimana akan dilakukan pemotongan tumpeng dan FGMI award, penghargaan diberikan dari FGMI kepada orang-orang IAGI yang telah berkontribusi bagi pengembangan geosaintis di Indonesia.

PERAN SENI, BUDAYA, DESAIN, KREATIVITAS DAN ASPEK-ASPEK ESTETIKA DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI GEOWISATA INDONESIA

Indonesia mempunyai keragaman geologi (geodiversity) yang sangat potensial, yaitu berupa batuan (tanah), mineral, fosil, bentang alam, airtanah, dan proses geologi sehingga beberapa diantaranya layak untuk ditetapkan menjadi warisan geologi (geoheritage) dan dimanfaatkan menjadi geowisata atau geopark bertaraf nasional dan internasional. Geowisata sendiri merupakan pariwisata yang memanfaatkan seluruh aspek geologi (mineral, batuan, fosil, bentang alam dan proses). Peran Geosaintis dalam pengembangan Geowisata ini sangat vital, selain menjadi interpreter suatu objek geowisata, diharapkan juga bisa membuat orang awam tertarik untuk mengunjungi objek tersebut.

Kita harus melihat dan memperlakukan geowisata sebagai sebuah subyek, bukan obyek. Kenyataannya, hampir semua keindahan alam di Indonesia dihasilkan dengan proses alamiah secara geo-engineered. Artinya proses geologi ini memiliki peran besar dalam menciptakan banyak lokasi wisata yang menakjubkan di Indonesia. Dengan menjadikannya sebagai subyek, geowisata akan berperan aktif dalam membangun dirinya menjadi sebuah bidang wisata yang penting dalam bisnis pariwisata indonesia, bekerja sama dengan bidang kerja lain dan memimpin dalam pengembangan pariwisata di Indonesia secara umum.

Implementasi seni, budaya, desain, kreativitas, aspek-aspek estetika, sumber daya dan management untuk membuat keindahan bentang alam sebagai sebuah panggung kreativitas yang memiliki brand yang kuat

Dalam hal ini, orang-orang yang menjadi tulang punggung bidang geowisata harus melakukan komunikasi yang komprehensif semaksimal mungkin dengan masyarakat yang tinggal di tempat, pemerintah, perusahaan, orang-orang terkemuka, dan komunitas lapangan lainnya (yaitu: komunitas seni, dll) yang juga memusatkan perhatian. pekerjaan mereka – untuk bisnis alam ini. Upaya komunikasi ini tentu saja akan menjadi bagian dari strategi untuk membangun dan memperkuat fokus yang baik dalam bagaimana membuat bisnis keindahan alam ini bisa membuat setiap orang dalam bisnis ini melakukan kolaborasi dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Pada tingkatan ini, harus ada upaya pemasaran yang komprehensif dan kuat untuk menarik perhatian orang. Selain materi promosi yang bagus, harus ada strategi untuk menggunakan banyak cara untuk memberi tahu orang tentang sesuatu yang kita inginkan. Promosi internet, televisi, radio dan poster di jalan hanyalah mode statis. Mode dinamis dan interaktif adalah dengan bertemu orang secara langsung dan melakukan sesuatu yang semarak di lokasi wisata. Apabila pada akhirnya masyarakat tahu akan sebuah lokasi wisata yang sedang dipromosikan, lalu akhirnya melakukan kunjungan dan merasa bahagia dengannya, maka mereka akan menceritakannya ke seluruh dunia. Nantinya, disaat usaha keras promosi ini berhasil, orang di seluruh di seluruh dunia akan tertarik dan mulai pesan tiket untuk mengunjungi lokasi-lokasi geowisata tersebut.

Beberapa contoh bagus antara kolaborasi seni, budaya, desain, kreativitas, aspek-aspek estetika, keindahan alam dan management yang telah berhasil menjadi brand yang kuat

  • Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
  • Patung empat presiden Amerika di Mount Rushmore, South Dakota, USA
  • Video Klip, I Disappear, Metallica, Monument Valley, Arizona-Utah, USA
  • Video Klip, A sky full of stars, The Piano Guys, Utah Salt Flats, Utah, USA
  • Film, The Revenant, Leonardo Di Caprio, Kananaskis Country, Canada
  • Film, The Lone Ranger, Johnny Depp, Monument Valley, Arizona-Utah, USA
  • Sherpa, film documenter, Himalaya, Nepal
  • Festival, Burning Man, Black Rock Desert, Nevada, USA
  • Mountain Film Festival, BANFF Centre, Canada
  • Mountain Bike Film Festival, Trail In Motion, Cape Town, South Africa
  • A Polygon Promotional Mountain Bike Video, Kurt Sorge, Bromo, Jawa Timur, Indonesia
  • World Rafting Championship, Yoshino River, Jepang
  • Vars Mountain Trail, France
  • Red Bull Rampage, Mountain Bike Extre Sport, USA
  • World Wingsuit League, China
  • Jazz Gunung, Bromo, Jawa Timur, Indonesia
  • Rocky Mountain Business Seminar, Kanada
  • Sovereign Hill Tour, Desa Tambang Emas Kuno, Ballarat, Melbourne, Australia
  • Chernobyl Tour, Bekas reactor Nuklir, Ukraina

Perbandingan jumlah penonton berbagai macam jenis video di situs youtube sebagai sebuah referensi penting bagi pilihan strategi promosi dan marketing

Dari tabel urutan jumlah penonton youtube yang dirilis pada tahun 2017, ternyata jumlah penonton terbanyak adalah dari video-video yang menampilkan musik kemudian diikuti oleh video sport. Hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan penting bagi kita untuk bagaimana cara mengemas promosi dan marketing bidang geowisata yang sedang kita lakukan.

Tujuan akhir dari seluruh upaya tersebut adalah sebuah kebanggaan akan bidang geowisata yang sedang kita upayakan bersama, peningkatan sumber ekonomi masyarakat melalui bisnis geowisata dan pada akhirnya menjadi sebuah proses regenerasi yang baik di bidang geologi pada umumnya dan bidang geowisata pada khususnya.

Bapak Heryadi Rachmat dari Badan Geologi sebagai Narasumber sedang melakukan persentasi
Reza Permadi dari MAGI sebagai Narasumber sedang melakukan persentasi
Kak Satriagama Rakantaseta (seniman) sebagai Narasumber sedang melakukan persentasi
Acara diakhiri dengan foto bersama antara peserta dan narasumber

(Di resume dari presentasi Heryadi Rachmat (Badan Geologi), Reza Permadi (MAGI) dan Satriagama Rakantaseta (seniman) dalam seminar berjudul Perkembangan, Tantangan dan Peluang Bisnis Geowisata di Indonesia pada tanggal 3 November 2017 di UPN “Veteran” Yogyakarta)

DONGENG GEOLOGI PROJECT 2017

Dongeng Geologi Project merupakan salah satu program yang diusung oleh SM-IAGI UGM dengan sasaran utama adalah daerah dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi dan ditujukkan khususnya untuk anak-anak usia menengah – remaja serta dewasa di daerah tersebut. Hali ini dikarenakan, terma acara ini lebih difokuskan pada kajian mitigasi bencana geologi yang meliputi mekanisme terjadinya benca tersebut dan cara penanggulangannya. Dongeng Geologi Project kali ini mengangkat tema “mitigasi kebencanaan geologi : gempa rumi dan tanah longsor”. Bencana terse

but diambil bukan tanpa alasan, salah satu alasan utama pengambilan tema tersebut adalah geologi regional daerah tersebut yang memiliki potensi gempa bumi yang tinggi karena berada pada daerah sekitar gunung api dan juga tingkat kerentanan longsor yang cukup tinggi dilihat dari tatanan kemiringan lereng yang relatif terjal hampir di semua sisi daearh ini.

Dongeng Geologi Project kali ini dilaksanakan di SD Kaligatuk, Srimulyo, Kec. Piyungan, Kab. Bantul dengan jumlah siswanya 130 orang. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Agustus 2017. Sasaran dari acara Dongeng Geologi Project tahun ini adalah siswa-siswa SD Kaligatuk dengan tujuan untuk mengenalkan kepada mereka akan pentingnya siaga dini terhadap tanggap bencana geologi yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah. Penyampaian materi tersebut dilakukan dengan metode mitigasi yang disesuaikan dengan usia siswa berupa pemberian penyuluhan dan arena bermain sambal belajar kepada siswa-siswa yang ada di sekolah mengenai bagaimana cara menghadapi suatu bencana geologi yang akan terjadi sewaktu-waktu. Dongeng Geologi Project mengajak anak-anak usia dini agar dapat mengambil tindakan tepat untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana sekaligus berkontribusi memperkokoh budaya tanggap bencana untuk Indonesia di masa depan. Tanggap bencana perlu dibudayakan sejak dini mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada daerah dengan tektonik aktif selain menyimpan kekayaan alam yang melimpah juga menyimpan beragam potensi bencana alam.

Pelaksanaan acara Dongeng Geologi Project diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan kata sambutan dari kepala sekolah dan juga dari ketua SM-IAGI UGM. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian dongeng yang dipandu oleh Anindita Wisnu dan Listiana Alifia dan bertindak sebagai narator untuk dongeng geologi ini adalah Eka Fitria. Dongeng geologi ini dibawakan semenarik mungkin sehingga siswa SD tidak merasa bosan mendengarkannya. Metode dongeng yang disampaikan layaknya metode “wayang” yang dibawakan dengan adanya cerita fiktif dari dunia hewan yang hidup di sekitaran tubuh gunungapi aktif. Dongeng ini berjalan dengan lancar di mana semua anak SD dengan antusias mendengarkan dongengnya karena pembawa dongeng geologi ini membuat suara yang lucu dan unik dan dibantu dengan peralatan berupa boneka tangan yang menambah ketertarikan untuk mendengarkan cerita/ dongeng yang akan yang disampaikan. Acara selanjutnya penyampaian materi oleh ketua SM-IAGI UGM yang berisikan tentang mitigasi terhadap bencana alam berupa tanah longsor maupun gempa bumi dan penyebab terjadinya.

Setelah usasi melakukan dongeng, kemudian dilanjutkan dengaan adanya permainan seru anak-anak. Sistematika permainan dimana mereka akan dibagi menjadi beberpa kelompok dengan tujuan meningkatkan kekompakan dan kekeluargaan yang ada pada mereka. Jenis permainan yang ada berupa lomba mewarnai serta permainan dengan sistem permainan beregu dan berpos yang terdiri dari tiga pos dan dipandu oleh panitia dari SM- IAGI UGM yang dilaksanakan di ruang kelas (Foto 1), selain itu terdapat permainan di luar kelas (foto 2) dengan pembagian adanya pos permainan berjumlah lima dimana setiap pos terdapat panitia yang akan memandunya. Semua siswa SD Kaligatuk mengikuti rangkaian  dengan antusias dan gembira.

Salah satu tujuan diadakan permainan ini adalah di sela-sela waktu  melakukan permainan, panitia akan memberikan isyarat berupa suara TOA yang menandakan adanya bencana geologi dimana dengan materi sebelumnya diharapkan peserta akan mengerti makna sirine suara tersebut dan bergerak melakukan simulasi mitigasi bencana dengan tindakan berlindung di bawah kolong meja, menghindari bangunan tegak, keluar ruangan dan menuju ke daerah yang lapang. Setelah rangkain acara bagian ini selesai, maka peserta simulasi tersebut dikumpulkan dan disampaikan dan dijelaskan esensi dari simulasi mitigasi ini.

Setelah semua rangkaian acara terlaksana, maka di penghujung acara dilakukan pengumuman pemenang dalam permainan ini dengan perolehan nilai terbanyak dan pemenang sebagai duta tanggap bencana. Sang duta tanggap bencana diberikan hadiah spesial berupa slempang dan mendapatkan hadiah berupa meja belajar. Acara ini diakhiri dengan adanya pemberian momento kepada kepala sekolah dan ditutup dengan sesi foto bersama SM-IAGI UGM dan siswa SD Kaligatuk (Foto 3).

Foto 1. Kegiatan permainan di ruang kelas
Foto 2. Kegiatan permainan di luar ruang kelas

Foto 3. Sesi foto bersama SM-IAGI UGM dengan siswa SD Kaligatuk
  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id