Berita Dunia Geosaintis

Dibalik Larangan Ekspor Bijih Nikel dan Tambang Nikel Di Indonesia (Artikel #2)

Oleh: Aditya Rizky Wibowo dan Bagaskara Wahyu P

Sumber: kompas.com

       Nikel, mendengarnya saja sudah pasti paham bahwa ini merupakan komoditas yang ramai diperbincangkan belakangan ini. Sepagai salah satu produsen nikeh terbesar di dunia, Indonesia melihat potensi ini akan berkembang pesat sebagai primadona pasar. Namun sampai saat ini Indonesa masih banyak mengimpor bijih nikel dengan nilai tambah yang rendah. Untuk itu, per tanggal 1 Januari 2020 Pemerintah Indonesia memberlakukan kembali kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel secara penuh.

        Ternyata akibat dari adanya pelarangan ekspor bijih nikel ini, Uni Eropa menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO (World Trade Organization). Hal ini karena kebijakan pembatasan impor bijih mentah nikel dapat berimbas negatif pada industri baja Eropa. Kebijakan ini dianggap tidak adil karena akan membatasi akses Eropa terhadap bijih mineral Indonesia seperti bijih nikel, bijih besi dan kromium. Tetapi Pemerintah Indonesia tak gentar dan siap menghadapi gugatan Uni Eropa atas kebijakan tersebut. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

       Berdasarkan data dari Kementrian ESDM, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel hingga 11,7 miliar ton serta cadangan bijih nikel hingga 4,5 miliar ton. Hal ini pula yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Bahkan bijih nikel dengan jenis nikel laterit yang dimiliki Indonesia mempunyai grade dengan rata-rata tertinggi di dunia (UNCTAD, 2017).

 

Gambar 1 Perkembangan Ekspor Produk Nikel Menurut Berat Ekspor (Buletin APBN, 2021)

 

       Dampak dari pemberlakuan kebijakan larangan ekspor bijih nikel ini sangat terasa. Dimana pada tahun 2014 penjualan bijih nikel dalam negeri mulai naik sedangkan ekspor bijih nikel menurun secara signifikan. Hal ini juga berimbas positif pada kenaikan trend ekspor produk olahan nikel. Sedangkan sebelum adanya kebijakan ini, Indonesia hanya menjual bijih nikel dengan porsi sangat kecil di dalam negeri sedangkan melakukan ekspor dalam jumlah besar.

       Hanya dengan upaya mempertahankan kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel di kancah Internasional saja belum cukup. Untuk mendukung keberlangsungan kebijakan ini juga harus dilakukan dari dalam negeri, salah satunya adalah dengan mempercepat pembangunan smelter di dalam negeri. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan dalam proses pembangunannya, antara lain;

Pertama, terus menggiatkan pembicaraan dengan PLN untuk pengadaan listrik dan kesepakatan harga yang kompetitif dengan mempertimbangkan cost and benefit dari pengadaan listrik dari PLN maupun penyediaan pembangkit listrik mandiri.

Kedua, melakukan promosi investasi di sektor ini pada pasar yang potensial dan mengupayakan program ini masuk prioritas pembangunan.

Ketiga, terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait dengan proses perizinan dan pengadaan lahan dengan memperhatikan ketentuan hukum yang sudah ada.

Keempat, memastikan implementasi HPM nikel yang lebih tegas melalui mekanisme punishment dan pengawasan ketat berkala di lapangan.

 

Nah, Berikut terlansir Tambang Nikel (Izin Usaha Operasi dan Produksi) dan Smelter yang telah beroperasi di Indonesia.

 

Gambar 2 Izin Usaha Operasi dan Produksi dan Smelter yang Telah Beroperasi (KESDM, 2020)

 

Gambar 3 Perusahaan Tambang yang Telah Beroperasi di Indonesia (KSDM, 2020)

 

       Dari sekian banyaknya perusahan dan IUP tambang nikel di Indonesia, kita bisa mengambil 3 perusahaan besar yang ada di Indonesia, berikut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut tiga perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

Sumber: cnbcindonesia.com

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

  • Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.
  • Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.
  • Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.
  • Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

 

2. PT Bintang Delapan Mineral

Sumber: cnbcindonesia.com

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

 

 

 

 

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Sumber: cnbcindonesia.com

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

  • Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
  • Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
  • Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
  • Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
  • Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

 

       Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang merupakan Digitalisasi data Pertambangan di Indonesia, produksi Nickel Pig Iron (NPI) mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton. Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Sementara itu, produksi nikel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target produksi 78.000 ton.

REFERENSI

Kementerian ESDM. 2020. Booklet Tambang Nikel 2020.

Kompas. 2019. Indonesia Raja Nikel Dunia, Puluhan Tahun Hanya Ekspor Bijih Mentah. Diakses pada 31 Agustus 2021. https://money.kompas.com/ read/2019/12/15/123615726/indonesia-raja-nikel-dunia-puluhan-tahun-hanya-ekspor-bijih-mentah/

CNBCI Indonesia. 2021. Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya. Diakses pada 31 Agustus 2021. dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20210707161618-4-259046/ini-5-produsen-nikel-terbesar-ri-siapa-jawaranya/

Badan Keahlian DPR RI. 2021. Buletin APBN Vol. VI, Edisi 2, Februari 2021. Jakarta. Pusat Kajian Anggaran DPR RI. P.8

Kompas. 2021. Kronologi Larangan Eksplor Bijih Nikel yang berujung Gugatan Uni Eropa. Diakses pada 31 Agustus 2021. https://money.kompas.com/read/2021/01/18/170109026/kronologi-larangan-ekspor-bijih-nikel-yang-berujung-gugatan-uni-eropa/

Mengenal Lumpur Basah, Banjir Bandang di Bawah Tanah

        Halo sobat geosaintis, sudah tahu belum ada suatu fenomena unik nan berbahaya bernama lumpur basah yang dapat sewaktu-waktu mengintai para pekerja di tambang bawah tanah? Ya, mungkin selama ini sobat berpikir bahwa bahaya pekerjaan tambang bawah tanah berkisar pada runtuhan batuan, kebakaran, atau terhirup gas beracun, padahal masih ada bahaya lain yang tidak kalah menakutkan lho yaitu luncuran lumpur basah. Terdengar tidak familiar ya? maklum saja, karena luncuran lumpur basah umumnya terjadi di tambang bawah tanah yang menggunakan metode runtuhan (block cave), sedangkan di Indonesia sendiri sangat sedikit yang menggunakan metode ini, salah satunya adalah tambang bawah tanah di Freeport Indonesia.

        Sebelum membahas lumpur basah lebih lanjut, mungkin ada baiknya kita sedikit melihat dulu ya bagaimana sebenarnya penambangan block caving itu. Secara singkat, metode runtuhan (block cave) adalah sebuah metode penambangan bawah tanah yang memanfaatkan gaya gravitasi dan gaya berat dari tubuh bijih itu sendiri. Umumnya tambang terdiri dari 3 area atau level, yaitu level undercut yang merupakan area paling atas di mana tubuh bijih nantinya diledakkan. Lalu di bawah undercut terdapat level produksi (extraction) dimana bijih dari area undercut kemudian diambil dan ditambang. Bijih tersebut berpindah ke level extraction melalui corong antar level yang disebut dengan drawbell, sedangkan bagian ujung dari drawbell dimana bijih dapat diambil dan ditambang disebut dengan drawpoint.  Area ketiga dan dan paling bawah adalah level haulage, yaitu area dimana bijih yang diambil dari level extraction kemudian ditransportasikan ke area haulage untuk disalurkan menuju tempat pengolahan bijih.

 

Gambar 1. Metode Block Caving (Hamrin, 2001)

 

Gambar 2. Konsep Proses Penambangan Block Caving (Paredes et. al 2018, after Flores, 2014)

 

        Lumpur basah atau disebut juga dengan wet muck, didefinisikan sebagai campuran antara material berbutir halus dan air, yang memiliki potensi untuk meluncur atau mengalir secara tiba-tiba dari sebuah drawpoint atau bukaan bawah tanah lainnya. Luncuran lumpur basah dapat terjadi ketika terdapat lebih dari 20% material berukuran pasir (<2 mm) memiliki kandungan air lebih dari 8.5% atau dapat dikatakan lebih dari 80% jenuh air (CNI et al, 1998).

        Jadi sebagai analogi untuk mempermudah, sobat dapat membayangkan berada di area hulu sungai yang sedang terjadi hujan lebat. Debit air hujan yang besar tidak mampu diserap oleh tanah dan mengalir berkumpul melalui lembah sungai yang sempit, kemudian aliran air tersebut bercampur dengan material endapan sungai dan secara perlahan mulai menggerus dinding sungai. Semakin menuju ke hilir, maka volume endapan yang terbawa pun juga semakin besar sehingga tercipta lah yang kita kenal sebagai banjir bandang yang mengalir di sepanjang lembah sungai.

        Seperti itulah luncuran lumpur basah. Ketika tingkat air hujan sedang tinggi, maka air dalam jumlah yang besar akan meresap ke permukaan dan masuk ke dalam tambang bawah tanah. Air tersebut kemudian bercampur dengan material-material cave / bijih yang berukuran halus dan membawanya menuju ke drawpoint. Drawpoint tersebut mirip seperti celah sungai yang kemudian dapat menjadi jalur aliran lumpur basah dan dapat meluncur sewaktu-sewaktu apabila keseimbangannya terganggu.

 

Gambar 3. Luncuran Lumpur Basah (Freeport Indonesia, 2019)

 

Gambar 4. Luncuran Lumpur Basah dalam skala minor (Freeport Indonesia, 2019)

 

        Melihat definisi dan penggambaran di atas, tentunya sobat sudah dapat menebak kira-kira apa saja sih yang menyebabkan terbentuknya lumpur basah? Menurut Butcher (2000), ada 4 elemen yang menyebabkan terbentuknya luncuran lumpur basah. Pertama adalah harus ada material berbutir halus yang memiliki potensial untuk meluncur. Kedua, adalah keberadaan air. Ketiga, adanya gangguan terhadap keseimbangan material tersebut, bisa seperti proses penambangan, peledakan, seismik, dan lainnya. Dan syarat yang keempat adalah harus ada jalur aliran, dimana dalam kasus lumpur basah ini sering terjadi pada drawpoint.

        Lalu, seberapa besar dampak yang diakibatkan oleh adanya lumpur basah ini? DI tambang bawah tanah Freeport Indonesia, sejak tahun 1989 hingga 2013, tercatat sudah terjadi kurang lebih 10 insiden luncur lumpur basah yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Selain menyebabkan kerugian nyawa, dampak kerusakan secara fisik juga menjadi suatu kerugian yang ditimbulkan akibat luncuran lumpur besar. Besarnya volume luncuran seringkali menyebabkan kerusakan pada infrastruktur tambang bawah tanah, seperti panel produksi, penyangga pada drawpoint, jaringan pipa air dan kabel listrik, serta peralatan penunjang produksi seperti loader dan truk.

 

Gambar 5. Dampak Luncuran Lumpur basah terhadap peralatan (Freeport Indonesia)

 

        Melihat resiko dan dampak akibat adanya luncuran lumpur basah, tentu diperlukan suatu analisa dan tindakan pencegahan yang dapat memperkecil potensi kerugian yang ditimbulkan. Mengemban peran sebagai seorang geosaintis, rekan-rekan geologist, geotech engineer, dan hydrologist di Freeport Indonesia melakukan analisis untuk membuat suatu peta zonasi untuk melihat persebaran potensi resiko luncuran lumpur basah di area produksi. Dengan adanya peta resiko ini diharapkan luncuran lumpur basah dapat diantisipasi lebih dini dan dapat dilakukan penanganan lebih ketat di area-area yang memiliki potensi luncuran yang tinggi, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi dampak kerusakannya.

 

Gambar 6. Contoh Peta Resiko Luncuran Lumpur basah di Freeport Indonesia (Ramadhan et al, 2015)

 

        Dalam membuat peta resiko potensi tersebut, parameter-parameter yang berkontribusi terhadap pembentukan luncuran lumpur basah dihimpun melalui inspeksi mingguan yang dilakukan dan dikalkulasikan dengan mempertimbangkan data luncuran historis yang pernah terjadi sebelumnya. Parameter-parameter tersebut diantaranya adalah tingkat kebasahan suatu drawpoint, ukuran fragmentasi material, serta aktivitas penarikan dan HOD (height of draw) di drawpoint tersebut.

        Rekayasa secara teknik juga dikembangkan untuk menunjang kegiatan penambangan yang aman. Penggunaan robot mulai dimanfaatkan dalam proses penarikan bijih di drawpoint, sehingga akan mengurangi resiko manusia terpapar lumpur basah di drawpoint yang memiliki resiko tinggi. Robot ini dioperasikan oleh operator melalui alat pengendali jarak jauh. Penggunaan robot ini memang memakan biaya yang tidak sedikit, tapi tentu menjadi harga yang sepadan apabila dibandingkan dengan nyawa para pekerja, karena semenjak penggunaan robot ini, resiko kematian pekerja tambang bawah menjadi sangat berkurang sehingga hanya terbatas pada kerusakan infrastruktur saja jika luncuran lumpur basah terjadi.

 

Gambar 7. Aktivitas Penambangan menggunakan kendali jarak jauh di Freeport Indonesia (Sumber gambar: Finance.detik.com)

 

Referensi

Butcher R., Stacey T.R., Joughin W.C. 2007. Mudrushes in Caving Operations and Their Prevention. Proceedings of the 1st International Symposium on Block and Sub-Level Caving (pp. 265-279). Cape Town, South Africa.

CNI Inc., Freeport McMoran Copper and Gold Co., Hydrology Consultants Inc. 1998. IOZ Wetmuck Study. PT Freeport Internal Report

Hamrin, H. 2001. Underground mining methods and applications. Underground Mining Methods: Engineering Fundamentals and International Case Studies (eds W. A. Hustrulid and R. L. Bullock), pp. 3–14. Society for Mining, Metallurgy and Exploration: Littleton, Colorado.

Paredes P., Leano T., Jauirat L. 2018. Chuquicamata Underground Mine Design: The Simplification of The Ore Handling System of Lift 1. Caving 2018 (eds Y. Potvin and J. Jakubec). pp. 385 – 398. Australian Centre for Geomechanics: Perth.

Ramadhan M., Wicaksono D., Haflil D., and Antoro B. 2015. New Perspective of Wet Muck Risk Map: Lesson Learned from Wet Muck Spill in Coarse Fragmentation at Deep Ore Zone (DOZ) Block Caving Mine, Papua, Indonesia. Proceedings TPT XXIV dan Kongres IX Perhapi 2015. Jakarta, Indonesia.

Suryadhi, A. 2018. “MineGem, ‘Video Game’ Pengeruk Tembaga & Emas Freeport”, https://www. https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-4171630/minegem-video-game-pengeruk-tembaga–emas-freeport/2, diakses pada 26 Agustus 2021 pukul 22.05.

UG Geotech DOZ. 2019. DOZ Wetmuck Presentation. PT Freeport Internal Report

Hari Agraria, Sejarah dan Perkembangannya Kini

 

Kontributor: Teguh Samudera Paramesywara

 

  1. Tanggal 23 September Kenapa sih diperingati sebagai Hari Agraria?

Peringatan Hari Agraria jatuh pada setiap tanggal 24 September bersamaan dengan Hari Tani yang dianggap sebagai momentum yang tepat, bukan hanya bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria, tetapi juga karena bulan September merupakan awal musim hujan di Indonesia, musim ketika petani mulai menanam.

 

  1. Sejarah Agraria di Indonesia?

        Sejarah Agraria di Indonesia tidak terlepas dari masa ke masa, sejak masa Orde Lama, masa Orde Baru sampai dengan masa reformasi. Awal mulanya masalah pertanahan mengacu pada Hukum Agraria Kolonial yang sangat merugikan bagi rakyat serta negara. Untuk mengatasi hal ini, maka dibentuklah payung hukum yang mengatur permasalahan agraria yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria atau yang lebih dikenal sebagai Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA).

-Masa Orde Lama

        Permasalahan yang terjadi pada masa Orde Lama, 80% rakyat Indonesia adalah petani dan sebagian besar dari petani tersebut hidup melarat. Kemelaratan ini menurut pemerintah terjadi akibat 60% petani berstatus sebagai buruh tani yang menggarap lahan pertanian milik “tuan tanah” bukan milik sendiri.

        Hal tersebut menjadi perhatian pemerintah Orde Lama terhadap petani dapat dilihat dari penetapan aturan yang mendukung petani, penetapan Hari Tani, Pembentukan kelompok tani, hingga pemberian lahan kepada petani. Kedua, meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan. Ketiga, meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.

-Masa Orde Baru

        Lain halnya dengan permasalahan yang terjadi pada masa Orde Baru, justru, perhatian pemerintah Orde Baru terhadap petani dalam implementaasi UU Pokok Agraria mengalami pergeseran, tak menyentuh persoalan penguasaan tanah sebagai inti dari Reforma Agraria melainkan fokus pada peningkatan produksi pangan dengan mengikuti Gerakan Revolusi Hijau.

        Kehadiran Revolusi Hijau ini dinilai berpihak ke pemilik lahan sebagai pihak yang diuntungkan, sedangkan petani yang lahannya sempit dan buruh tani tak mendapatkan keuntungan serta menjadi pihak yang dirugikan. Permasalahan ini tidak dapat memecahkan masalah pertanahan.

        Hingga tahun 1990, diskusi mengenai pertanahan kembali berlanjut. Undang-Undang Pokok Agraria atau UUPA menjadi pegangan utama dalam melihat masalah pertanahan. Meski demikian, terdapat paradigma pemerintah dalam melihat bidang pertanian yang disesuaikan dengan zamannya. UUPA yang lahir pada tahun 1960 dilatarbelakangi paradigma pemerintah Orde Lama bahwa masyarakat Indonesia mayoritas adalah petani. Sementara pada 1990, pemerintah Orde Baru melihat pergeseran yang terjadi dalam masyarakat. Kehidupan rakyat tidak hanya soal pertanian yang utama, tapi juga menyentuh bidang perindustrian.

-Masa Reformasi

        Pada masa Reformasi, Presiden Megawati Soekarno Putri memiliki ide tentang pembaruan Undang-Undang Pokok Agraria, gagasan tersebut tertuang dalam Keppres Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Pertimbangan Megawati mengeluarkan keputusan ini untuk penyesuaian UU Pokok Agraria dengan perkembangan zaman serta ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

        Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono muncul Perpres Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Kepentingan Umum. Tetapi mengalami pertentangan dari beberapa organisasi non pemerintah dikarenakan perpres ini tidak sesuai dengan semangat UU Pokok Agraria yang lebih memperjuangkan dan melindungi hak petani atas tanah. Menanggapi hal tersebut, pemerintah akhirnya mengeluarkan Perpres Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 26 Tahun 2005. Perpres ini mengatur secara lebih rinci mengenai sistem ganti rugi.

        Dalam masa pemerintahan Presiden Jokowi, permasalahan mengenai pertanahan ini menjadi salah satu perhatian yang penting dengan dikeluarkannya dua peraturan presiden. Pertama, Perpres Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah di Kawasan Hutan. Kedua, Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Reforma Agraria adalah penataan kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang lebih berkeadilan untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Dengan adanya aturan tentang Reforma Agraria ini sekaligus melengkapi Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960 untuk disesuaikan dengan kondisi saat ini.

 

  1. Agraria dinaungi oleh Kementerian Pertanahan (ATR/BPN) secara umum BPN melakukan apa saja?

Tugas Kementerian ATR/BPN

Menyelenggarakan urusan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Fungsi Kementerian ATR/BPN

  1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang tata ruang, infrastruktur pertanahan, hubungan hukum pertanahan, penataan pertanahan, pengadaan tanah, pengendalian pemanfaatan ruang dan penguasaan tanah, serta penanganan masalah agraria/pertanahan, pemanfaatan ruang dan tanah;
  2. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
  3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
  4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;
  5. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional di daerah; dan
  6. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
Sumber: news.ddtc.co.id/Redaksi_DDTCNews

 

  1. Trend terkini yang muncul berkaitan dengan masalah agraria?

Topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat ini adalah mengenai permasalahan lahan antara PT Sentul City Tbk dengan Rocky Gerung.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Kementerian Agraria dan Tata Ruang /Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Teuku Taufiqulhadi menanggapi kepemilikan tanah seseorang harus dibuktikan dengan kepemilikan hak atas tanah (sertifikat) dan penguasaanya secara fisik. Hingga saat ini, Kementerian ATR/BPN baik Pusat maupun Kantor Pertanahan (Kantah) akan mengkaji melalui titik koordinat apakah tumpang tindih atas tanah yang diklaim kedua belah pihak atau tidak serta melakukan pengecekan dokumen Hak Guna Bangunan (HGB) baik data fisik maupun data yuridis serta dokumen yang dimiliki oleh warga sekitar daerah sengketa tersebut. (Kompas, 15/09/2021)

Sumber: cnnindonesia.com

 

  1. Peran para geosaintis berhubungan dengan bidang agrarian (khususnya di GIS)?

Peran para geosaintis di bidang agraria yang mungkin pernah dipelajari sejak kuliah adalah mengenai perpetaan. Perpetaan disini lebih mengarah kepada Tata Ruang yang digunakan untuk pemanfaatan lahan dan kesesuaian peruntukan ruang serta aturan-aturan yang berlaku. Software yang biasanya digunakan untuk perpetaan di bidang ini adalah ArcGIS, Autocad, Google Earth.

 

  1. Agraria dari kacamata geosaintis?

Salah satu cabang ilmu yang mempelajari mengenai agraria/pertanahan yang masih berhubungan dengan ilmu kebumian adalah Agrogeologi dan Penginderaan Jauh (SIG). Agrogeologi adalah cabang geologi yang menelaah tentang pemanfaatan batuan dan mineral (bahan geologi) untuk memperbaiki dan mempertahankan produktivitas tanah tropika secara berkelanjutan (Van Straaten, 2007). Tujuan dari mengkaji agrogeologi ini untuk memperbaiki, mempertahankan, dan meningkatkan produktivitas lahan (tanah) seperti kesuburan tanah, kesehatan tanah, keberlanjutan tanah dan produktivitas tanah. Selain itu juga potensi batuan dan mineral yang berguna dalam mempertahankan dan menaikkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.

 

  1. Ada gak sih peluang pekerjaan dan karir para geosaintis di bidang agraria?

Mungkin para geosaintis jarang melihat peluang yang satu ini, untuk bekerja ataupun berkarir di bidang agraria/pertanahan yang berhubungan dengan tata ruang.

Peluang pekerjaan di bidang ini bisa menjadi Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) di Kantor BPN Pusat, Provinsi bahkan Kabupaten/Kota. Selain itu, para geosaintis juga bisa menjadi Konsultan yang direkrut langsung oleh BPN atau menjadi Konsultan Mandiri yang menjalani proyek-proyek dibidang agraria/pertanahan.

Alternatif lainnya yang juga mungkin bisa dilirik adalah dengan menjadi seorang ASN di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

 

Referensi Penulisan

Van Straaten, Peter. 2007. AGROGEOLOGY: The use of rocks for crops: Enviroquest Ltd. 352 River Road, Cambridge, Ontario, Canada.

Bahfein, Suhaiela. Begini Duduk Perkara Sengketa Lahan PT Sentul City Tbk Versus Rocky Gerung. Kompas.com. Viewed 19 September 2020.

(https://www.kompas.com/properti/read/2021/09/15/060000821/begini-duduk-perkara-sengketa-lahan-pt-sentul-city-tbk-versus-rocky?page=all)

Nikel, Kegunaan dan Potensi nya di Bumi Pertiwi

Oleh: Aditya Rizky Wibowo dan Bagaskara Wahyu P

Geopoup Agustus 2021

 

Awal tahun 2021, masyarakat Indonesia dihebohkan akan kabar masuknya pabrikan mobil listrik Amerika “Tesla” untuk berinvestasi pada usaha ekstraksi nikel di Indonesia. Kabarnya Elon Musk CS ingin menggunakan nikel dari NKRI sebagai bahan baku baterai mobil listrik produksi Tesla. Lantas, apakah itu nikel? Selain baterai mobil listrik, apa saja kegunaan lain dari nikel?

 

Nikel adalah elemen logam yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit. Nikel berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau. Logam Nikel memiliki nomor atom: 28 dengan berat atom: 58.6934 dan bersifat feromagnetik yang artinya nikel dapat ditarik oleh magnet ataupun dibuat menjadi magnet. Logam Nikel terbentuk secara alami dan merupakan elemen paling umum kelima di bumi dengan keterdapatan secara luas di kerak dan inti bumi. Penamaan Nikel berasal dari kata “kupfernickel” yang artinya setan tembaga karena pada awal penemuannya tahun 1600-an di Jerman para penambang frustasi untuk mengekstraknya karena mereka mengira logam yang mereka temukan adalah tembaga jenis baru.

 

Logam yang disimbolkan dengan “Ni” ini merupakan logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam. Hal ini dikarenakan Nikel memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi. Oleh karena itu, Nikel sering digunakan sebagai bahan lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak agar logam tersebut bisa lebih tahan panas, korosi dan oksidasi. Lantas dengan kemampuannya yang super itu apakah Nikel hanya digunakan sebagai pelapis saja? Ternyata Tidak.

Berdasarkan booklet Nikel oleh Kementerian ESDM Indonesia, sekitar 70% dari produksi Nikel digunakan untuk pembuatan baja tahan karat (stainless steel). Sedangkan 8% lainnya digunakan dalam baja dan paduan non-ferrous alloys. Paduan tersebut seringkali untuk aplikasi industri, kedirgantaraan dan militer yang sangat khusus. Baru sekitar 8% digunakan dalam pelapisan dan 8% lainnya di pengecoran dan coran. Selain itu, Sekitar 5% nikel digunakan dalam baterai untuk elektronik, dan dalam baterai untuk peralatan portabel dan mobil hibrid, dan sekitar 1% digunakan seperti bahan kimia, katalis, dan pewarna.

 

Gambar 1. Paparan Kegunaan Logam Nikel (KESDM, 2020)

 

Dengan banyaknya kegunaan, tentunya nikel memiliki nilai ekonomis yang patut untuk diperhitungkan. Lalu kira-kira negara mana saja yang memiliki potensi nikel terbesar di bumi? Australia, Indonesia, Afrika Selatan, Rusia dan Kanada menguasai lebih dari 50% sumber daya nikel dunia. Logam-logam nikel tersebut terkonsentrasi pada sulfida dan deposit bijih tipe laterit. Untuk Indonesia, sebaran cadangan bijih nikel hampir 90% berada di Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku Utara.

 

Gambar 2. Sebaran Cadangan Bijih Nikel Indonesia (KESDM, 2020)

 

Pulau Sulawesi memiliki potensi nikel terbesar di Indonesia dengan total cadangan 2,6 miliar ton bijih. Cadangan tersebut tersebar di provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data dari KESDM tahun 2020, terdapat 3 kawasan industri nikel yang sudah beroperasi di Sulawesi, yakni Kawasan Industri Morowali, Kawasan Industri Konawe, dan Kawasan Industri Bantaeng. Untuk ditempat kedua, Kepulauan Maluku menyimpan cadangan 1,4 Miliar Ton Bijih Nikel dengan konsentrasi utama berada di Maluku Utara. Untuk kawasan industri yang beroperasi berdasarkan data KESDM 2020, hanya ada kawasan industri weda di Maluku. Terakhir, lokasi yang memiliki potensi cadangan bijih nikel adalah Pulau Papua. Berdasarkan data KESDM 2020, Pulau Papua menyimpan 0,06 miliar ton cadangan bijih nikel, dan mungkin saja masih bisa bertambah seiring dengan eksplorasi lebih lanjut.

 

Gambar 3. Gambaran Potensi NIkel di Pulau Sulawesi (KESDM, 2020)

 

Gambar 4. Gambaran Potensi Nikel di Kepulauan Maluku (KESDM, 2020)

 

Gambar 5. Gambaran potensi nikel di pulau papua (KESDM, 2020)

 

Perlu diketahui dengan potensi yang sedemikian besar tidak heran Indonesia diperhitungkan sebagai negara produsen nikel di dunia. Bahkan Indonesia masuk dalam jajaran negara yang memiliki potensi nikel terbesar di dunia. Tentunya, kekayaan nikel yang dimiliki Indonesia ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, masih banyak peluang-peluang untuk para geosaintis muda Indonesia agar bisa terus eksplorasi dan menggali potensi sumber daya di Indonesia dengan memiliki kedaulatan dalam proses ekstraksi dan pengolahan bijih nikel.

 

Referensi:

Ruang Energi. 2021. Diakses pada 31 Agustus 2021.https://www.ruangenergi.com/melirik-potensi-tambang-nikel-untuk-mewujudkan-industri-baterai-nasional/

Nickel.co.id. 2020. Tujuh Fakta Menarik Nikel bahan baku baterai mobil listrik. Diakses pada 31 Agustus 2021.https://nikel.co.id/tujuh-fakta-menarik-nikel-bahan-baku-baterai-mobil-listrik/

Nickel Institut. 2020. About Nickel. Diakses pada 31 Agustus 2021. https://nickelinstitute.org/about-nickel/

CNBCI Indonesia. 2021. Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI,  Siapa Jawaranya. Diakses pada 31 Agustus 2021. dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20210707161618-4-259046/ini-5-produsen-nikel-terbesar-ri-siapa-jawaranya

Kementerian ESDM. 2020. Booklet Tambang Nikel 2020.

Mengenal Letusan Tambora 1815

Tambora yang indah dengan kaldera berdiameter 7 km, kedalaman 1,2 Km (Wibosono, S.C.2017). Kaldera tambora yang angkuh dan megah, kehidupannya ramah terhadap penghuni Tambora, sumber daya alam yang melimpah, tanahnya yang subur. Hutan gunung tambora dipenuhi dengan beraneka ragam hayati, hamparan jenggala membentang subur di sebelah barat daya dan utara. Pemandangan elok Tambora membuat negeri Sumbawa menjadi suatu wisata yang wajib dikunjungi. Morfologi gunung api Kuarter – Resen berjajaran di bibir Tambora serta morfologi daratan di sepanjang pesisir (Tambora Geopark, 2014). Siapa sangka sejagat Tambora dengan keindahan yang menyejukkan mata tidak akan pernah lepas dari gelapnya kejadian 206 tahun silam. Peristiwa lama dengan kisah bencana kemanusiaan juga lingkungan yang memilukan. Letusan eksplosif bersejarah besar serta mengakibatkan kehilangan lebih dari 117.000 jiwa (Lewis J. Abrams, 2007).

Gambar 1. Kaldera Tambora, diameter 7 km, kedalaman 1,2 km, puncak tertinggi 2851 Mdpl.
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 2017

 

Gambar 2. Gunung Tambora dari kepulauan Indonesia dan Australia.
Sumber: Peta GMT, Wessel dan Smith, 1995, Model elevasi digital etopo dari Smith dan Sandwell, 1997 dalam Lewis J. Abrams, 2007)

 

Gelegar maha dahsyat Gunung Tambora menjadi erupsi terbesar dalam sejarah ingatan manusia. Salah satu letusan gunung api Nusantara yang merubah wajah dunia. Dentuman gema erupsi terdengar di berbagai penjuru kepulauan pada 1 april hingga mencapai puncak letusan pada tanggal 10 – 11 April 1815. Letusan gunung api berupa plinian yang membentuk perlapisan endapan setebal 40 – 150 cm menutupi hampir seluruh lereng dan tersebar ke bagian barat di luar wilayah api dengan aliran piroklastik yang dikontrol oleh gravitasi bergerak ke arah barat, utara dan selatan dari pusat letusan seberat 140 Miliar Ton (ESDM, 2021). Pelepasan gas dari magma dan lava yang terpanaskan dengan kecepatan puluhan kilometer. Kolom abu dan batu apung (Plinian) yang menjulang tinggi sejauh 43 km hingga lapisan stratosfer (Gambar 4). Angin bujur memporak porandakan partikel letusan di sekeliling dunia hingga menciptakan fenomena matahari terbenam yang berwarna dan senja di negeri The Big Smoke (Gambar 3). Mengapa tidak, posisinya yang strategis dan terbentuk oleh pergerakan zona subduksi diantara 127 gunung api lainnya. Muntahan material dengan Volcano Eruption Index 7 menutupi lapisan stratosfer dengan debu dan gas vulkanis yang cukup tebal dalam waktu yang lama. Beberapa energi dari radiasi matahari hilang untuk memanaskan bumi. Penelitian yang dilakukan oleh Richard Stothers (1984) terhadap suhu udara memberikan informasi terjadi penurunan suhu udara dunia sebesar 0.4°C – 0.7°C dari normalnya sehingga berdampak pada perubahan iklim dan cuaca secara global (Ulfah, Ariyas, 2018). Langit gelap yang kelam, iklim musim dingin menjadi lebih panjang, musim hujan berkurang, dan suhu lebih dingin berakibat pada perubahan ekosistem hingga kegagalan panen (Tantri, Erlita. 2019).

Gambar 3. Lukisan yang menunjukan matahari terbenam berwarna dan senja karena aerosol vulkanik Tambora, Chichester Canal, J.M.W. Turner.
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 2017
Gambar 4. Penyebaran dan ketebalan abu vulkanis Tambora.
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 2017

Gempa vulkanis dan runtuh nya kawah Gunung Tambora dari ketinggian 4300 Mdpl menjadi 2851 Mdpl menciptakan gelombang tsunami di beberapa pesisir pantai seperti Sumbawa, Bima, Bali, Makassar dan wilayah Jawa Timur (Ulfah, Afriyas. 2018). Dalam hitungan hari, hujan abu yang tiada henti berakibat pada punahnya 4 kerajaan besar di Pulau Sumbawa yaitu Kerajaan Sianggar, Kerajaan Tambora, Kerajaan Papekat dan Kerajaan Dompu yang tidak tahu dimana jejaknya dan tidak sedikit nyawa yang tewas. Lapisan tebal erupsi seolah menenggelamkan tapak-tapaknya. Leli leli doro tambora (hancur Gunung Tambora), mbre afi mbre moti (banjir lava banjir lautan), mbaru mbere oi mada (berlinang air mata), banyak orang berlari ketakutan, suasana hening dan mencekam, dunia terasa dingin dan abu bertebangan, seakan gempa bumi akan datang (Gambar 5). Begitulah suasana hati masyarakat Tambora, dihantui dengan ketakutan, apakah aktivitas Gunung Tambora akan terulang lagi atau telah usai sampai disini.

Gambar 5. Rekonstruksi petaka Tambora, artis National Geography Indonesia.
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 2017

 

Referensi:

Afriyas Ulfah, 2018. Letusan Tambora yang Merubah Iklim Dunia. https://eoffice.bmkg.go.id/Dokumen/Artikel/Artikel_20180417132214_8i7l4q_Letusan-Tambora-Yang-Merubah-Iklim-Dunia.pdf. Diakses pada 18 Agustus 2021.

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Pengenalan Gunung Api, https://www.esdm.go.id. Diakses pada 14 Agustus 2021.

Lewis J. Abrams., Haraldur Sigurdsson. 2007. Characterization of pyroclastic fall and flow deposits from the 1815 eruption of Tambora volcano, Indonesia using ground-penetratingradar.161(4),352-361.doi:10.1016/j.jvolgeores.2006.11. 008

Tambora Geopark. 2014. Cultural Diversity Tambora. URL: https://www.tamborageopark. com/block/culture-diversity/. Diakses tanggal 15 Agustus 2021.

Tantri, Erlita. 2019. Narasi Dampak Letusan Gunung Tambora 1815. Puslit Kewilayahan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Vol. 20, No. 2.

Wibisono, Sonny C. 2017. Bencana dan Peradaban Tambora 1815. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2017.

Ancaman El Nino terhadap Potensi Kebakaran Hutan Indonesia di Masa Depan

Jika melirik ke rekam jejak kebakaran hutan yang pernah terjadi di Indonesia, selain adanya campur tangan manusia, nyatanya fenomena iklim seperti El Nino juga turut serta memperparah situasi kebakaran di negeri ini. Bisa dikatakan bahwa El Nino menyebabkan bencana kekeringan parah di Indonesia pada musim kemarau. Tidak hanya Indonesia saja yang terdampak bencana akibat El Nino, negara-negara lain di dunia juga terkena imbas dari fenomena iklim ini. Sebagai contoh, ketika Indonesia mengalami kekeringan akibat El Nino, daerah di sekitar Amerika Latin justru berpotensi untuk mengalami banjir bandang dan longsor karena curah hujan yang tinggi pada periode El Nino sedang terjadi.

 

Mengenal El Nino dan proses terbentuknya

El Nino merupakan salah satu fenomena iklim yang terjadi dimana pergerakan angin hangat yang seharusnya dibawa dari arah timur Samudra Pasifik (Amerika Latin) ke arah barat Samudra Pasifik (Asia Tenggara dan Australia) melemah atau justru berbalik arah (Gambar 1). Penyebab utama yang mendorong perubahan arah angin ini belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan. Fenomena El Nino menyebabkan suhu permukaan air laut (Sea Surface Temperature/SST) di daerah timur Samudra Pasifik meningkat. Meningkatnya suhu permukaan air laut membuat curah hujan di daerah ini menjadi lebih tinggi karena proses penguapan air laut yang terjadi cukup besar dibandingkan dengan kondisi normal. Tingginya curah hujan berpotensi untuk menimbulkan bencana longsor dan banjir bandang. Berbeda dengan daerah timur Samudra Pasifik, suhu permukaan air laut di bagian barat Samudra Pasifik seperti Indonesia dan Australia justru mengalami penurunan suhu yang membuat intensitas curah hujan juga menurun bahkan tidak terjadi hujan sama sekali yang berujung kepada bencana kekeringan. Fenomena El Nino biasanya terjadi setiap 2-7 tahun sekali dan dapat berlangsung selama 9 bulan sampai bahkan dua tahun lamanya. Berdasarkan analisis Oceanic Nino Index (ONI), pada 1982/1983, 1997/1998 dan 2015/2016 merupakan tahun-tahun dimana fenomena El Nino yang besar pernah terjadi (Gambar 2).

 

Gambar 1. Diagram terjadinya fenomena El Nino. Sumber: http://www.bom.gov.au/

 

Bagaimana El Nino terdeteksi?

Seperti yang telah disebutkan di atas, fenomena El Nino dapat terdeteksi melalui pengukuran suhu permukaan air laut. Pengukuran suhu permukaan air laut itu sendiri dilakukan dengan menggunakan TAO Array (Tropical Atmosphere Ocean) yang terdiri dari serangkaian instrumen pendeteksi yang ditempatkan melalui pelampung (buoys) di atas lautan Pasifik. Setiap instrumen ini berfungsi untuk mengukur suhu udara dan permukaan air laut untuk kemudian datanya ditransmisikan ke satelit setiap hari. Para ahli klimatologi biasanya memonitor suhu di daerah pada bujur 120 W-170 W untuk menentukan apakah Samudra Pasifik sedang mengalami fenomena El Nino atau tidak. Dengan adanya pengukuran suhu seperti ini, El Nino akan terdeteksi, dimana salah satu indikatornya adalah ketika suhu permukaan air laut meningkat dari kondisi normal. Pada kondisi normal, suhu permukaan air laut di bagian barat Samudra Pasifik berkisar 8 C lebih hangat dibandingkan bagian timur Samudra Pasifik. Selain itu, data harian ini dapat diakses dengan mudah dan gratis melalui website NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration).

 

Fenomena El Nino dari masa ke masa

Gambar 2. Besaran Nilai Oceanic Nino Index (ONI) fenomena El Nino dan La Nina dari tahun 1990 hingga sekarang. Nilai indeks ini digunakan untuk menyesuaikan fenomena anomali iklim El Nino dan La Nina pada skala global.

 

Fenomena El Nino yang terjadi pada 1982/1983 tercatat sebagai salah satu fenomena El Nino yang besar, namun sayangnya pada saat itu belum ada sistem monitoring yang merekam seluruh kejadiannya. Oleh karena itu, ketersediaan data-data ilmiah mengenai fenomena El Nino kala itu masih sangat terbatas. Pada saat itu, suhu permukaan air laut di bagian timur Samudra Pasifik mencapai 9-18 F di atas normal. Akibatnya, kekeringan parah melanda Indonesia dan Australia. Indonesia, yang kala itu juga sedang dilanda kebakaran hutan, keadaannya semakin diperparah dengan kondisi kekeringan yang berkepanjangan sebagai efek dari fenomena El Nino.

 

Pada 1997/1998, fenomena El Nino yang besar terjadi kembali. Namun kali ini, para ilmuwan telah dibekali sistem monitoring yang dapat merekam kejadian El Nino ini dari awal hingga akhir. Tahun ini juga merupakan tahun dimana monitoring El Nino pertama kali dilakukan secara ilmiah. Gambar 3 menunjukkan peta SST dan anomali SST dari bulan Januari 1997 hingga Desember 1998. Warna merah menunjukkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan kurun waktu dan daerah lainnya. Pada peta anomali SST yang ditunjukkan pada Gambar 3, terlihat bahwa fenomena El Nino paling puncak di tahun ini terjadi pada bulan Oktober-November-Desember 1997. Anomali SST pada kurun waktu ini dapat terlihat lebih detail pada Gambar 4. Gambar 4 juga menunjukkan peta arah angin, dimana angin hangat mengalir menuju ke daerah timur Samudra Pasifik.

 

Gambar 3. Peta Sea Surface Temperature (SST) dan anomali SST sejak bulan Januari 1997 hingga bulan Desember 1998. Warna merah pada peta anomali SST (kanan) terlihat mendominasi pada bulan Oktober-November-Desember 1997 yang menandakan bahwa fenomena El Nino paling puncak terjadi pada kurun waktu ini.
Gambar 4. Peta SST dan arah angin pada kurun waktu Oktober-November-Desember 1997. Angin hangat dibawa dari bagian barat Samudra Pasifik yang menyebabkan suhu permukaan air laut di bagian timur Samudra Pasifik meningkat. Pada kurun waktu ini, anomali SST di bagian timur Samudra Pasifik menunjukkan perbedaan suhu hingga 4 °C.

 

Berdasarkan diagram yang ditunjukkan pada Gambar 2, fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2006 bukan termasuk fenomena El Nino yang besar jika dibandingkan dengan dua kurun waktu yang sebelumnya telah dibahas. Fenomena El Nino yang terjadi pada tahun ini tampak mulai terlihat pada kurun waktu Juli hingga Desember 2006 (Gambar 5). Perbedaan suhu antara  bagian barat dan timur Samudra Pasifik pada kurun waktu ini juga tidak sebesar dua periode El Nino besar sebelumnya, yaitu hanya mencapai 1 C saja paling maksimal yang terekam pada bulan Oktober-November-Desember 2006 (Gambar 6).

 

Gambar 5. Peta SST dan anomali SST pada periode Januari 2006 hingga Februari 2007. Perbedaan suhu yang tidak begitu signifikan (1 °C) pada peta anomali SST (kanan) merupakan indikasi terjadinya fenomena El Nino yang cukup lemah.
Gambar 6. Peta SST dan arah angin pada kurun waktu Oktober-November-Desember 2006. Oleh karena fenomena El Nino pada 2006 bukan termasuk yang kuat, pergerakan angin hangat yang tampak juga tidak terlalu kuat yang menyebabkan perbedaan suhu antara bagian barat dan timur tidaklah terlalu besar.

 

Pada 2015, fenomena El Nino kembali terjadi dengan intensitas yang besar. Berdasarkan data SST yang terekam melalui TAO Array, fenomena El Nino pada tahun 2015 dimulai pada bulan Juni 2015 dan berakhir pada sekitar bulan Februari 2016 (Gambar 7). Fenomena El Nino yang terjadi pada tahun ini hampir sama besarnya dengan fenomena El Nino yang terjadi pada 1997, dimana perbedaan suhu permukaan air laut yang terekam mencapai 3 C (Gambar 8).

 

Gambar 7. Peta SST dan anomali SST dari kurun waktu bulan Januari 2015 hingga bulan April 2016. Fenomena El Nino yang terekam termasuk ke dalam kategori yang besar dimana perbedaan suhu mencapai 3 °C pada peta anomali SST (kanan).
Gambar 8. Peta SST dan arah angin pada periode Oktober-November-Desember 2015. Pergerakan angin hangat yang menuju ke arah timur Samudra Pasifik membuat daerah timur Samudra Pasifik 3 °C lebih hangat dibandingkan bagian barat Samudra Pasifik.

 

Sama seperti fenomena El Nino yang terjadi pada 2006, fenomena El Nino yang terjadi pada 2018 juga termasuk ke dalam kategori yang lemah. Gambar 9 menunjukkan peta SST dan anomali SST sejak bulan Mei 2018 hingga Agustus 2019. Berdasarkan Gambar 9, puncak fenomena El Nino pada periode ini terjadi di bulan Oktober-November-Desember 2018. Fenomena El Nino yang lemah pada tahun ini juga terlihat melalui pergerakan angin hangat ke bagian timur Samudra Pasifik yang tampak lemah pada Gambar 10. Perbedaan SST di bagian barat dan timur yang ditimbulkan akibat pergerakan angin yang lemah ini hanya mencapai 1 C.

 

Gambar 9. Peta SST dan anomali SST pada kurun waktu Mei 2018 hingga Agustus 2019. Fenomena El Nino yang terekam pada periode ini termasuk kategori lemah.
Gambar 10. Peta SST dan arah angin pada kurun waktu Oktober-November-Desember 2018. Pergerakan angin hangat menuju daerah timur Samudra Pasifik terlihat lemah sehingga tidak menyebabkan perbedaan suhu yang signifikan antara bagian barat dan timur Samudra Pasifik.

 

Pengaruh El Nino terhadap potensi kebakaran hutan

Seperti yang telah  dijelaskan sebelumnya, pada umumnya Indonesia mengalami musim kering yang panjang saat terjadinya fenomena El Nino. Kebakaran hutan atau lahan yang terjadi di Indonesia, khususnya wilayah Kalimantan dan Sumatera biasanya terjadi di sekitar bulan Agustus dan Oktober. Fenomena El Nino yang memperlama durasi musim kemarau dan mempengaruhi variabilitas curah hujan di Indonesia. Tinggi dan rendahnya variabilitas curah hujan berpengaruh terhadap keberadaan hotspot yang merupakan salah satu faktor penyebab kebakaran hutan. Selain itu fenomena ini juga menyebabkan semakin meluasnya dan memperlama durasi kabut asap akibat kebakaran lahan di Indonesia.

Salah satu peristiwa kebakaran hutan di Indonesia yang diperburuk oleh fenomena El Nino adalah kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2015. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat sekitar 2,61 juta hektar lahan terbakar pada fenomena ini. Pada tahun 2015, musim kemarau yang panjang diakibatkan oleh El Nino mempersulit padamnya titik-titik hotspot dan sulitnya menghilangkan kabut asap sebagai dampak dari kebakaran hutan.

Pada tahun 2019 juga terjadi fenomena El Nino dengan dengan skala yang lebih lemah dibandingkan pada tahun 2015. Tetapi hal ini tidak mengurangi potensi kebakaran hutan di Indonesia pada tahun tersebut. Kebakaran tahun 2019 tercatat sebagai kebakaran terburuk sejak 2015. Meskipun lemah, fenomena El Nino masih membawa dampak kekeringan. Aktifnya El-Nino dengan skala lemah berdampak langsung pada sirkulasi angin timuran menjadi angin baratan akan sedikit terlambat. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun 2019.

 

Gambar 11. Peta Sebaran Asap kebakaran hutan di Indonesia tahun 2015. Kabut asap menyebar hampir meliputi seluruh bagian Indonesia dengan berpusat di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

 

Bagaimana dengan fenomena El Nino tahun ini?

Berdasarkan Gambar 2, tidak ada fenomena El Nino yang terjadi sejak tahun 2020 hingga saat ini (Juli 2021). Fenomena yang terjadi saat ini justru bukanlah El Nino, namun La Nina, yaitu fenomena yang menyebabkan bagian timur Samudra Pasifik lebih dingin dari kondisi normal, sedangkan bagian barat lebih hangat dari kondisi normal. Gambar 11 menunjukkan fenomena La Nina yang kali ini sedang terjadi, yang termasuk ke dalam kategori sedang.

 

Gambar 12. Peta SST dan anomali SST yang terekam pada periode bulan Januari 2020 hingga saat ini (Juli 2021). Berbeda dengan peta SST ketika fenomena El Nino terjadi, peta ini menunjukkan bahwa di bagian timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari kondisi normal, dimana hal ini merupakan salah satu indikasi terjadinya fenomena La Nina.

 

El Nino dan kebakaran hutan Indonesia di masa depan

Jika pada 2021 fenomena El Nino tidak terjadi, maka kekeringan berkepanjangan sebagai akibat dari fenomena El Nino kemungkinan tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan kebakaran hutan Indonesia pada tahun ini. Meskipun fenomena El Nino tidak terjadi tahun ini, bukan berarti pada tahun-tahun mendatang fenomena El Nino tidak akan muncul kembali. Sayangnya, hingga kini, belum ada yang bisa memberikan kepastian kapan fenomena El Nino akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, analisis mengenai pengaruh fenomena El Nino dan kebakaran hutan di masa depan masih belum bisa dilakukan secara pasti. Satu hal yang pasti yang dapat dilakukan adalah memulai untuk peduli terhadap pengelolaan hutan yang sehat dan mulai meninggalkan teknik pertanian tradisional ladang berpindah, yang marak menjadi penyebab awal bencana kebakaran hutan di Indonesia terjadi.

 

Referensi:

Burton Chantelle, Betts Richard A., Jones Chris D., Feldpausch Ted R., Cardoso Manoel, Anderson Liana O. 2020. El Niño Driven Changes in Global Fire 2015/16. Frontiers in Earth Science. Vol: 8 pp 199.

What is El Nino?. Diakses pada 4 Agustus 2021. Conserve Energy Future. <https://www.conserve-energy-future.com/what-is-el-nino.php>.

Golden Gate Weather Services. El Nino and La Nina Years and Intensities. Diakses pada 4 Agustus 2021. <https://ggweather.com/enso/oni.htm>.

NASA Earth Observatory. El Nino: Pacific Wind and Current Changes Bring Warm, Wild Weather. Diakses pada 4 Agustus 2021. <https://earthobservatory.nasa.gov/features/ElNino>.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). What is El Nino? The El Nino Story. Diakses pada 4 Agustus 2021. <https://www.pmel.noaa.gov/elnino/what-is-el-nino>.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). El Nino Data Display and Delivery. Diakses pada 4 Agustus 2021. <https://www.pmel.noaa.gov/tao/drupal/disdel/>.

Rekam Jejak Kebakaran Hutan di Indonesia

Gambar 1. Ilustrasi kebakaran hutan. Sumber: https://pixabay.com/

Kebakaran hutan, dua kata yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Sebuah bencana yang dampaknya tidak hanya merugikan manusia namun juga merusak ekosistem di lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, asap yang mengandung gas rumah kaca akibat kebakaran hutan juga mampu menyebabkan pemanasan global dan mempengaruhi siklus perubahan iklim dunia.

Di Indonesia sendiri, kebakaran hutan sepertinya sudah menjadi bencana langganan yang terjadi setiap tahunnya, terutama di musim kemarau, yaitu pada sekitar bulan Juni-Oktober. Wilayah Sumatera dan Kalimantan adalah dua wilayah dimana titik kebakaran hutan seringkali terjadi di Indonesia. Mungkin beberapa di antara kita masih teringat kasus kebakaran hutan yang pernah terjadi di Riau dan sekitarnya yang asapnya mencapai langit Singapura dan Semenanjung Malaysia pada 2019 lalu. Tidak hanya kasus tersebut, negara ini juga telah menorehkan beberapa catatan sejarah mengenai kebakaran hutan terbesar Indonesia yang telah dikaji oleh berbagai negara di dunia.

 

Kebakaran hutan 1982-1983

Pada tahun 1982, kebakaran hutan pertama terbesar terjadi di Kalimantan Timur. Beberapa pihak menyatakan bahwa kebakaran ini terjadi akibat kelalaian dalam mengelola hutan dan fenomena iklim El Nino. Fenomena iklim El Nino menyebabkan kekeringan parah antara Juni 1982 hingga Mei 1983. Sudah dilanda kemarau berkepanjangan, ditambah pula aktivitas pertanian tradisional, yaitu ladang berpindah. Aktivitas ladang berpindah biasanya dilakukan dengan membakar lahan baru sebagai wilayah perkebunan tanaman semusim seperti padi, ubi dan jagung. Selain itu, aktivitas pembalakan liar yang meninggalkan akumulasi limbah pembalakan juga turut serta menjadi penyebab titik kebakaran hutan terjadi. Akumulasi limbah ini kemudian banyak ditumbuhi oleh lapisan vegetasi yang padat dan mudah terbakar daripada lapisan penutup tanah yang tidak begitu rapat.

Kebakaran yang terjadi pada tahun ini telah menghanguskan lahan sebanyak 3.2 juta ha di wilayah Kalimantan Timur, dimana sebanyak 2.7 juta ha merupakan hutan hujan tropis. World Resources Institute (WRI) juga telah melaporkan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran hutan ini mencapai 9 miliar dolar, jumlah yang tentunya tidak sedikit. Selain kerugian ekonomi, polusi udara yang diakibatkan oleh kabut asap akibat kebakaran hutan pada tahun ini juga mengganggu transportasi darat dan udara di wilayah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

 

Kebakaran hutan 1997-1998

Setelah kebakaran hutan yang melanda pada 1982-1983, telah terjadi beberapa kebakaran hutan lainnya, namun yang paling besar diantara mereka ialah pada 1997-1998 yang menghanguskan lebih dari 10 juta ha lahan di Indonesia. Kebakaran hutan pada tahun ini juga termasuk yang terparah di dunia. Kerugian ekonomi yang tercatat akibat bencana ini mencapai 10 miliar dolar. Sama seperti peristiwa kebakaran hutan 1982-1983, dampak lainnya yang berupa kabut asap dirasakan hingga ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Sebagai contoh, pada Agustus hingga Oktober, Singapura dan Malaysia terselimuti kabut asap akibat adanya angin yang membawa asap ke arah barat dan utara dari langit Indonesia. Kabut asap yang menyelimuti langit ini membuat Air Pollution Index (API) mencapai ke level yang berbahaya (hingga 849).

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh WRI, fenomena El Nino pada era ini menjadi salah satu penyebab titik kebakaran terjadi yang kemudian tersulut oleh adanya tindakan lalai dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dalam membuka lahan. Hasil citra satelit menunjukkan bahwa mayoritas titik kebakaran bermula dari areal Hutan Tanaman Industri dan perkebunan kelapa sawit. Kebakaran kemudian menjadi tidak terkendali hingga mencapai ke areal hutan di sekitarnya termasuk rawa gambut dan berbagai lahan pertanian. Saking luasnya area yang terbakar menyebabkan hujan saja tidak mampu untuk memadamkan api. Bantuan dari berbagai negara serta tekanan pemerintah terhadap industri perkebunan untuk menyetop pembalakan liar berhasil menurunkan jumlah titik-titik kebakaran.

 

Kebakaran hutan 2006

Berbeda dengan peristiwa kebakaran-kebakaran hutan pada tahun-tahun sebelumnya yang juga dipicu oleh fenomena iklim El Nino, pada 2006, fenomena El Nino yang terekam cukup rendah. Namun sayangnya, aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali untuk keperluan pertanian menjadi salah satu penyebab besar kebakaran melanda di Indonesia pada tahun ini. Lebih dari 3 juta ha lahan telah terbakar dan memicu terjadinya polusi udara yang levelnya berhasil terekam melalui instrumen NASA yang disebut Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT). Instrumen ini berhasil melacak level karbon monoksida di atmosfer yang menjadi salah satu indikator utama adanya polusi udara.

Selain gas karbon monoksida, gas karbon dioksida juga menjadi salah satu gas yang banyak diproduksi akibat kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia menempatkan negara ini menjadi negara terbesar ketiga dalam menyumbangkan gas rumah kaca ke atmosfer. Indonesia menyumbang sekitar 2 miliar ton gas karbon dioksida ke atmosfer akibat karhutla! Tingginya gas rumah kaca di atmosfer dikhawatirkan dapat mempengaruhi perubahan iklim dalam jangka waktu yang lama. Gambar 2 menunjukan perbedaan kondisi indeks vegetasi di wilayah Kalimantan Tengah, sebagai salah satu provinsi yang paling terdampak kebakaran hutan pada tahun 2006. Wilayah dengan indeks vegetasi yang tinggi ditunjukkan dengan warna hijau, sedangkan wilayah berwarna merah menunjukkan indeks vegetasi  yang rendah. Nilai indeks vegetasi yang rendah menunjukkan tingkat kerapatan vegetasi yang rendah seperti pada tanah kosong, bangunan, dan unsur non-vegetasi lainnya. Sedangkan nilai indeks yang tinggi menunjukkan keberadaan area vegetasi hijau dengan kerapatan yang tinggi, seperti yang umum terjadi di wilayah hutan. Sehingga dengan menggunakan nilai indeks ini kita bisa melihat kuantitas tutupan vegetasinya. Gambar 2 menunjukan adanya perubahan tutupan vegetasi yang cukup ketara sebelum (a. Pre Fire) dan setelah (b. Post Fire) kebakaran hutan. Wilayah yang sebelumnya memiliki tingkat indeks vegetasi yang tinggi mengalami penurunan nilai dalam kurung waktu yang relatif singkat, hal ini bisa menjadi indikasi ada perubahan lahan secara drastis yang merupakan akibat dari adanya kebakaran hutan.

Gambar 2. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2006

Kebakaran hutan 2015

Lebih dari 2.6 juta ha lahan di Indonesia telah terbakar sepanjang tahun 2015. Kebakaran melanda tidak hanya di wilayah Sumatera dan Kalimantan saja, namun juga di 29 provinsi lainnya, kecuali DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Kepulauan Riau. Kalimantan Tengah menjadi area terparah dimana titik kebakaran hutan terjadi dibandingkan titik-titik kebakaran lainnya. Faktor aktivitas manusia tetap menjadi penyebab utama si jago merah muncul dan melalap habis banyak lahan di Indonesia. Selain itu, banyaknya lahan gambut yang menjadi kering di musim kemarau semakin memudahkan si jago merah untuk menghanguskan segalanya. Fenomena El Nino yang menurunkan intensitas curah hujan juga semakin memperparah bencana kebakaran hutan yang terjadi.

Hangusnya lahan akibat dilalap si jago merah ini menyebabkan hilangnya habitat orang utan dan beberapa spesies yang terancam punah lainnya. Kerugian yang berhubungan dengan lingkungan dan ekosistem ini mencapai 295 juta dolar, sedangkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat kebakaran ini mencapai 16 miliar dolar. Tidak hanya itu, seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, emisi gas karbon dioksida di atmosfer juga meningkat sebanyak lebih dari 15.95 juta ton per harinya. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 97% dari total gas karbon dioksida yang diemisikan ke atmosfer pada 2015 berasal dari hasil kebakaran hutan dan lahan di Indonesia! Hasil riset juga menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida pada tahun ini jauh lebih besar dibandingkan pada tahun 1997. Sama seperti pada tahun 2006, terjadi perubahan indeks vegetasi wilayah Kalimantan Tengah pada tahun 2015 yang ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2015

Kebakaran hutan 2019

Kebakaran hutan yang melanda pada 2019 menyebabkan hangusnya lebih dari 850 ribu ha lahan. Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa sebanyak 42% dari total area yang terbakar merupakan lahan gambut. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut biasanya sulit untuk dipadamkan karena material organik yang berada di dalam gambut menyebabkan api menjadi lebih besar dan menghasilkan banyak kabut asap. Terbakarnya lahan gambut ini juga menimbulkan problematika iklim jangka panjang, karena satu hektar lahan gambut yang terbakar sama seperti mengemisikan 55 metrik ton karbon dioksida per tahun! Kalimantan Tengah menjadi salah satu area yang paling banyak mengalami kebakaran hutan, mengingat area ini didominasi oleh lahan gambut.

Aktivitas pembukaan lahan dengan membakar lahan untuk kebutuhan perkebunan, terutama kelapa sawit, tetap merajalela pada tahun ini sehingga tidak mampu menahan kebakaran hutan untuk tidak terjadi di Indonesia. Perubahan indeks vegetasi wilayah Kalimantan Tengah pada tahun 2019 terlihat lebih signifikan dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Karena pada tahun 2019, Provinsi Kalimantan Tengah merupakan provinsi dengan area kebakaran terluas di Indonesia. Perubahan ini terlihat jelas pada perbedaan indeks vegetasi yang ditunjukkan pada Gambar 4.

Mayoritas area yang terbakar, sebanyak 70% nya berasal dari lahan gambut yang telah terdegradasi. Akibatnya, 708 juta ton gas rumah kaca yang didominasi oleh karbon dioksida dirilis ke atmosfer. Banyaknya kandungan gas rumah kaca di atmosfer menjadi salah satu pemicu terjadinya pemanasan global yang berakhir pada peristiwa perubahan iklim. Perubahan iklim ini nantinya tidak hanya akan mempengaruhi siklus cuaca di bumi, namun juga dapat mengubah ekosistem lingkungan tempat beberapa spesies hewan dan tanaman yang mulai langka berhabitat.

Dari pemaparan mengenai kasus kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, dapat terlihat bahwa mayoritas kebakaran hutan di negara ini disebabkan oleh faktor antropogenik atau adanya campur tangan manusia. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa fenomena El Nino juga turut serta memperparah kondisi kebakaran hutan yang terjadi. Selain itu, kondisi tanah yang didominasi oleh lahan gambut juga menyebabkan hutan dan lahan menjadi lebih rentan terkena kebakaran di berbagai wilayah di Indonesia. Adanya kebijakan yang bijaksana mengenai pengelolaan hutan dan lahan gambut dipandang dapat membantu mengatasi masalah kebakaran hutan yang sering terjadi di negara ini.

Gambar 4. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2019

Referensi:

Phillips, Carly. 2021. How Wildfires Affect Climate Change and Vice Versa. The Conversation. Diakses pada 25 Juli 2021. <https://theconversation.com/how-wildfires-affect-climate-change-and-vice-versa-158688>

 

Kontributor: Erina Prastyani & Adillah Alfatinah

Goa Karst Buniayu: Bentang Alam Pegunungan Karst di Bawah Endapan Aliran Piroklastik

Masih ragu untuk mengunjungi goa karst Buniayu? Selain asyik, kamu juga bisa menggali ilmu tentang pembentukan kawasan karst Buniayu lho. Wisata ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk bermain sambil belajar tentang geologi pembentukan kawasan Karst Buniayu.

Kawasan karst Buniayu terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Kawasan karst Buniayu merupakan kawasan karst yang sangat dominan dengan karakteristik morfologi karst, terutama keberadaan sungai bawah tanah, gua dan deretan perbukitan di kawasan pegunungan karst. Kawasan karst Buniayu secara umum memiliki sistem aliran bawah tanah dalam bentuk peronggaan atau gua dan rekahan yang menyebabkan kawasan karst Buniayu memiliki kompleksitas morfologi dan ciri geologi yang menarik untuk geowisata.

Kawasan karst Buniayu terletak pada bagian Selatan Kabupaten Sukabumi. Pada Kawasan karst Buniayu didominasi oleh batugamping terumbu. Berdasarkan hasil pengamatan batugamping yang singkap membentuk morfologi karst terutama pada kawasan Buniayu, selain itu pada satuan ini dijumpai aliran sungai bawah tanah dan fitur-fitur yang ada pada kawasan gua karst seperti stalaktite dan stalakmite.

Berdasarkan Clements dan Hall (2007) menjelaskan aktivitas vulkanik yang terjadi pada Selatan Pulau Jawa terhenti pada kala Miosen Tengah yang dicirikan dengan tidak terbentuknya endapan hasil material vulkanik yang menyebabkan terendapkan Batugamping di Kawasan karst Buniayu pada Miosen Tengah dan tumbuh di atas Satuan Breksi pada formasi jampang pada lingkungan Neritik Tengah yang bersumber dari arah utara serta pengendapan karbonat diatas busur pegunungan selatan.

Keunikan bentang alam dan sejarah pembentukan goa karst Buniayu tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para geologis maupun mahasiswa yang ingin belajar. Selain itu keindahan alam di dalam goa juga sangat menarik bagi kamu yang memang menyukai wisata alam. Pilihan berwisata di goa karst Buniayu adalah pilihan tepat yang tentu saja anti-mainstream.

Dalam upaya peningkatan serta pengelolaan pariwisata berbasis pendidikan dan konservasi untuk melindungi sumber daya alam harus dilaksanakan dengan pelayanan yang baik bagi wisatawan yang berkunjung dengan membuat jalur geotrail yang aman dengan jalur evakuasi yang tepat karena kawasan tersebut merupakan kawasan gua dan air terjun terjal untuk mengurangi resiko bahaya. Selain itu, hasil kajian memberikan hasil interpretasi berupa papan penjelasan fitur geologi yang disertai dengan peta risiko bencana geologi.

Bagimana? Semakin tertarik untuk mengunjungi goa karst Buniayu? Tapi ingat ya, pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar sebelum kamu memutuskan untuk menjelajahi goa Buniayu ini. Menjelajahi goa karst Buniayu juga sangat aman bagi kamu yang masih pemula, karena akan ada pemandu dan fasilitas penyewaan alat untuk susur goa. Kabar baiknya, goa karst Buniayu tetap buka walau ditengah masa pandemi Covid-19. Tapi kamu harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan kebijakan pengelola kawasan wisata ya.

 

Penulis : Bagaskara Wahyu P, Eka Fitriani, Muhammad Fariz AJ

Wisata Sambil Belajar di Kawasan Geowisata Goa Karst Buniayu

Berwisata di era modern saat ini menjelma seakan menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Salah satu jenis wisata yang menjadi favorit dan hype lagi khususnya bagi kawula muda seperti kamu, iya kamu, adalah berwisata bertema alam. Ini tergambar dengan banyaknya postingan anak muda seperti kamu dengan tagline need vitamin sea “, “ sudah rindu ketinggian “, dan masih banyak lagi. Jika wisata ke gunung atau pantai sudah terlalu mainstream, kamu bisa mencoba berwisata menyusuri perut bumi di Goa Kawasan Karst Buniayu.

Beberapa goa yang ada di kawasan Karst Buniayu antara lain Goa Caringin, Goa Landak, Goa Cipicung dan Goa Buniayu. Selain menikmati keindahan struktur goa, kamu juga bisa sembari belajar geologi pembentukan goa dan hal menarik lainnya di kawasan karst Buniayu.

Lokasi Goa Buniayu sendiri berada di Desa Kerta Angsana, Sukabumi, Jawa Barat. Kamu harus menempuh perjalanan setidaknya satu jam untuk bisa menikmati keindahan Goa Buniayu yang berjarak 28 km dari Kota Sukabumi. Perjalanan menuju Kawasan Goa Buniayu dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi (motor dan mobil) atau menggunakan moda transportasi umum. Untuk masuk ke kawasan Goa Buniayu kamu hanya butuh merogoh kocek Rp 5.000/orang dan kamu sudah bisa menikmati pemandangan khas kawasan karst. Jika ingin mencoba masuk ke goa horizontal maka dikenai biaya Rp 20.000/orang. Sedangkan jika kamu ingin lebih menantang adrenalin, kamu bisa mencoba paket goa vertikal lengkap dengan pemandu dan perlengkapan susur goa seharga Rp 150.000/orang. Perlengkapan yang akan kamu dapatkan juga cukup lengkap seperti wear pack anti air, helm, sepatu boot, senter kepala, sarung tangan dan yang lainnya.

Saat menyusuri lorong-lorong Goa Buniayu, kamu akan disuguhkan pemandangan unik aneka ornamen goa yang cantik Seperti stalaktit dan stalagmit, drapery, gourdam, canopy, flowstone dan column. Di dalam goa kamu juga akan menemukan sungai bawah tanah sepanjang 2 meter dengan kedalaman bervariasi antara 0,5 hingga 3 meter. Dengan keunikan-keunikan tersebut, berwisata di Goa Buniayu sangat sayang untuk kamu lewatkan. Selain menarik, kamu juga bisa berwisata sambil belajar menyusuri Goa Karst Buniayu.

Berwisata di Goa Buniayu terlihat asyik dan anti mainstream, karena kamu akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan kamu temukan saat berwisata di destinasi lain. Tapi, untuk berwisata di Goa Karst Buniayu pastikan kamu dalam kondisi sehat dan bugar. Disarankan untuk berolahraga terlebih dahulu sebelum berkunjung dan menyusuri lorong-lorong Goa Buniayu. Karena kondisi goa yang cukup terjal dan berlumpur. Jadi kamu akan bisa maksimal menikmati dan mengabadikan momen menyusuri keindahan perut bumi di Goa Buniayu.

Penulis : Bagaskara Wahyu P, Eka Fitriani, Muhammad Fariz AJ

Pemanfaatan Danau Baru di Kota Kupang Pasca Badai Seroja

Empat tipe utama doline yang tidak langsung berasal dari larutan batuan di atau dekat permukaan: (A) collapse doline, akibat runtuhnya atap gua; (B) doline subsidence, dibentuk oleh pengendapan batuan tak larut mengikuti larutan batuan larut yang mendasarinya; (C) intersection doline, yang berasal dari pengosongan tambalan gua fosil tua akibat perpotongan dengan permukaan topografi; (D) cover doline, yang telah berkembang dalam batuan tidak koheren yang mengubur batuan yang larut atau sebagian mengisi depresi karst. (sumber: Sauro, Ugo. (2012). Closed Depressions in Karst Areas. 10.1016/B978-0-12-383832-2.00133-X. https://www.researchgate.net/publication/)

Peristiwa badai Seroja yang terjadi awal April lalu masih membekas di benak masyarakat kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pasalnya badai tersebut telah merenggut banyak korban jiwa dan kerugian materi lainnya. Selain itu, hal lain yang membuat takjub pasca badai Seroja ini adalah munculnya danau baru seluas 2 hektar di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Namun dari pernyatan Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG RI, Dr. Daryono bahwa danau ini hanya bersifat sementara atau temporer. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur Dr. Herry Kota yang menyatakan jenis ini merupakan danau Dolina. Danau Dolina merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di wilayah dengan topografi karst. Danau ini akan kering saat musim kemarau karena proses penguapan yang tinggi.

Potensi Usaha Baru
Tentu saja fenomena alam yang terjadi begitu cepat ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar kota Kupang. Sehingga banyak warga sekitar yang berbondong-bondong datang untuk melihat fenomena alam tersebut. Banyak warga lokal maupun luar kota yang datang untuk melihat langsung danau tersebut. Mereka berfoto dan menikmati keindahan alam yang baru saja terbentuk.
Tentu saja hal ini membuka potensi wisata baru di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Selain itu, hal ini memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Karena mereka bisa membuka usaha baru seperti warung di sekitar danau untuk memberikan kenyamanan dan kebutuhan para wisatawan.

Pemanfaatan Air Danau
Sebagian besar masyarakat masih belum memiliki pengetahuan apakah air dari danau yang baru terbentuk layak konsumsi. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Air memiliki kadar standar baku mutu untuk dapat dikonsumsi, dimana menurut PERMENKES No.492/Menkes/Per/IV/2010, standar kualitas air minum yaitu tidak boleh mengandung TDS(Total Dissolve Solid) lebih dari 500mg/l.

Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/pp822001.htm)

Melihat kondisi geografi Indonesia bagian timur yang merupakan daerah dengan dominasi adalah daratan kapur perlu dilakukan pengkajian terhadap baku mutu air konsumsi diwilayah tersebut. Air dengan kandungan kapur memiliki ciri yaitu memiliki pH lebih dari 8, dimana air konsumsi memiliki standar pH tidak boleh lebih dari 8. Air kapur apabila dimasak akan menimbulkan sisa bercak putih pada panci.
Air kapur apabila diminum akan meninggalakn rasa pahit. apabila dikonsumsi dalam jangka pendek akan minumbulkan muntaber, diare, kolera, tipus dan disentri. Sedangkan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan penyakit keropos tulang, kerusakan gigi, ginjal, kandung kemih bahkan kerontokan rambut. Pada tingkat kronis, jika air yang dikonsumsi mengandung kadar kapur yang tinggi bisa menyebabkan kanker.
Air yang mengandung kapur dapat dikonsumsi dengan cara direbus dengan benar. Merebus air tersebut selama sekitar 20-30 menit, saat air mendidih zat kapur akan mengendap dan ada pula yang mengambang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sumber mata air baru yang muncul pasca badai Seroja ini masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk dapat layak konsumsi bagi masyarakat. Namun dampak positif lainnya, danau yang baru terbentuk ini bisa menjadi peluang wisata dan usaha baru bagi masyarakat sekitar. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk pengairan perkebunan atau sawah di sekitar danau.

  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id