Berita Terbaru

Rekam Jejak Kebakaran Hutan di Indonesia

Gambar 1. Ilustrasi kebakaran hutan. Sumber: https://pixabay.com/

Kebakaran hutan, dua kata yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Sebuah bencana yang dampaknya tidak hanya merugikan manusia namun juga merusak ekosistem di lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, asap yang mengandung gas rumah kaca akibat kebakaran hutan juga mampu menyebabkan pemanasan global dan mempengaruhi siklus perubahan iklim dunia.

Di Indonesi sendiri, kebakaran hutan sepertinya sudah menjadi bencana langganan yang terjadi setiap tahunnya, terutama di musim kemarau, yaitu pada sekitar bulan Juni-Oktober. Wilayah Sumatera dan Kalimantan adalah dua wilayah dimana titik kebakaran hutan seringkali terjadi di Indonesia. Mungkin beberapa di antara kita masih teringat kasus kebakaran hutan yang pernah terjadi di Riau dan sekitarnya yang asapnya mencapai langit Singapura dan Semenanjung Malaysia pada 2019 lalu. Tidak hanya kasus tersebut, negara ini juga telah menorehkan beberapa catatan sejarah mengenai kebakaran hutan terbesar Indonesia yang telah dikaji oleh berbagai negara di dunia.

 

Kebakaran hutan 1982-1983

Pada tahun 1982, kebakaran hutan pertama terbesar terjadi di Kalimantan Timur. Beberapa pihak menyatakan bahwa kebakaran ini terjadi akibat kelalaian dalam mengelola hutan dan fenomena iklim El-Nino. Fenomena iklim El-Nino menyebabkan kekeringan parah antara Juni 1982 hingga Mei 1983. Sudah dilanda kemarau berkepanjangan, ditambah pula aktivitas pertanian tradisional, yaitu ladang berpindah. Aktivitas ladang berpindah biasanya dilakukan dengan membakar lahan baru sebagai wilayah perkebunan tanaman semusim seperti padi, ubi dan jagung. Selain itu, aktivitas pembalakan liar yang meninggalkan akumulasi limbah pembalakan juga turut serta menjadi penyebab titik kebakaran hutan terjadi. Akumulasi limbah ini kemudian banyak ditumbuhi oleh lapisan vegetasi yang padat dan mudah terbakar daripada lapisan penutup tanah yang tidak begitu rapat.

Kebakaran yang terjadi pada tahun ini telah menghanguskan lahan sebanyak 3.2 juta ha di wilayah Kalimantan Timur, dimana sebanyak 2.7 juta ha merupakan hutan hujan tropis. World Resources Institute (WRI) juga telah melaporkan bahwa kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran hutan ini mencapai 9 miliar dolar, jumlah yang tentunya tidak sedikit. Selain kerugian ekonomi, polusi udara yang diakibatkan oleh kabut asap akibat kebakaran hutan pada tahun ini juga mengganggu transportasi darat dan udara di wilayah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

 

Kebakaran hutan 1997-1998

Setelah kebakaran hutan yang melanda pada 1982-1983, telah terjadi beberapa kebakaran hutan lainnya, namun yang paling besar diantara mereka ialah pada 1997-1998 yang menghanguskan lebih dari 10 juta ha lahan di Indonesia. Kebakaran hutan pada tahun ini juga termasuk yang terparah di dunia. Kerugian ekonomi yang tercatat akibat bencana ini mencapai 10 miliar dolar. Sama seperti peristiwa kebakaran hutan 1982-1983, dampak lainnya yang berupa kabut asap dirasakan hingga ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Sebagai contoh, pada Agustus hingga Oktober, Singapura dan Malaysia terselimuti kabut asap akibat adanya angin yang membawa asap ke arah barat dan utara dari langit Indonesia. Kabut asap yang menyelimuti langit ini membuat Air Pollution Index (API) mencapai ke level yang berbahaya (hingga 849).

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh WRI, fenomena El Nino pada era ini menjadi salah satu penyebab titik kebakaran terjadi yang kemudian tersulut oleh adanya tindakan lalai dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dalam membuka lahan. Hasil citra satelit menunjukkan bahwa mayoritas titik kebakaran bermula dari areal Hutan Tanaman Industri dan perkebunan kelapa sawit. Kebakaran kemudian menjadi tidak terkendali hingga mencapai ke areal hutan di sekitarnya termasuk rawa gambut dan berbagai lahan pertanian. Saking luasnya area yang terbakar menyebabkan hujan saja tidak mampu untuk memadamkan api. Bantuan dari berbagai negara serta tekanan pemerintah terhadap industri perkebunan berhasil menurunkan jumlah titik-titik kebakaran.

 

Kebakaran hutan 2006

Berbeda dengan peristiwa kebakaran-kebakaran hutan pada tahun-tahun sebelumnya yang juga dipicu oleh fenomena iklim El Nino, pada 2006, fenomena El Nino yang terekam cukup rendah. Namun sayangnya, aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali untuk keperluan pertanian menjadi salah satu penyebab besar kebakaran melanda di Indonesia pada tahun ini. Lebih dari 3 juta ha lahan telah terbakar dan memicu terjadinya polusi udara yang levelnya berhasil terekam melalui instrumen NASA yang disebut Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT). Instrumen ini berhasil melacak level karbon monoksida di atmosfer yang menjadi salah satu indikator utama adanya polusi udara.

Selain gas karbon monoksida, gas karbon dioksida juga menjadi salah satu gas yang banyak diproduksi akibat kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia menempatkan negara ini menjadi negara terbesar ketiga dalam menyumbangkan gas rumah kaca ke atmosfer. Indonesia menyumbang sekitar 2 miliar ton gas karbon dioksida ke atmosfer akibat karhutla! Tingginya gas rumah kaca di atmosfer dikhawatirkan dapat mempengaruhi perubahan iklim dalam jangka waktu yang lama. Gambar di bawah menunjukan perbedaan kondisi indeks vegetasi di wilayah Kalimantan Tengah, sebagai salah satu provinsi yang paling terdampak kebakaran hutan pada tahun 2006. Wilayah dengan indeks vegetasi yang tinggi ditunjukkan dengan warna hijau, sedangkan wilayah berwarna merah menunjukkan indeks vegetasi  yang rendah. Nilai indeks vegetasi yang rendah menunjukkan tingkat kerapatan vegetasi yang rendah seperti pada tanah kosong, bangunan, dan unsur non-vegetasi lainnya. Sedangkan nilai indeks yang tinggi menunjukkan keberadaan area vegetasi hijau dengan kerapatan yang tinggi, seperti yang umum terjadi di wilayah hutan. Sehingga dengan menggunakan nilai indeks ini kita bisa melihat kuantitas tutupan vegetasinya. Gambar 2 menunjukan adanya perubahan tutupan vegetasi yang cukup ketara sebelum (a. Pre Fire) dan setelah (b. Post Fire) kebakaran hutan. Wilayah yang  sebelumnya memiliki tingkat indeks vegetasi yang tinggi mengalami penurunan nilai dalam kurung waktu yang relatif singkat, hal ini bisa menjadi indikasi ada perubahan lahan secara drastis yang merupakan akibat dari adanya kebakaran hutan.

Gambar 2. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2006

Kebakaran hutan 2015

Lebih dari 2.6 juta ha lahan di Indonesia telah terbakar sepanjang tahun 2015. Kebakaran melanda tidak hanya di wilayah Sumatera dan Kalimantan saja, namun juga di 29 provinsi lainnya, kecuali DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Kepulauan Riau. Kalimantan Tengah menjadi area terparah dimana titik kebakaran hutan terjadi dibandingkan titik-titik kebakaran lainnya. Faktor aktivitas manusia tetap menjadi penyebab utama si jago merah muncul dan melalap habis banyak lahan di Indonesia. Selain itu, banyaknya lahan gambut yang menjadi kering di musim kemarau semakin memudahkan si jago merah untuk menghanguskan segalanya. Fenomena El Nino yang menurunkan intensitas curah hujan juga semakin memperparah bencana kebakaran hutan yang terjadi.

Hangusnya lahan akibat dilalap si jago merah ini menyebabkan hilangnya habitat orang utan dan beberapa spesies yang terancam punah lainnya. Kerugian yang berhubungan dengan lingkungan dan ekosistem ini mencapai 295 juta dolar, sedangkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat kebakaran ini mencapai 16 miliar dolar. Tidak hanya itu, seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, emisi gas karbon dioksida di atmosfer juga meningkat sebanyak lebih dari 15.95 juta ton per harinya. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 97% dari total gas karbon dioksida yang diemisikan ke atmosfer pada 2015 berasal dari hasil kebakaran hutan dan lahan di Indonesia! Hasil riset juga menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida pada tahun ini jauh lebih besar dibandingkan pada tahun 1997. Sama seperti pada tahun 2006, terjadi perubahan indeks vegetasi wilayah Kalimantan Tengah pada tahun 2015 yang ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2015

Kebakaran hutan 2019

Kebakaran hutan yang melanda pada 2019 menyebabkan hangusnya lebih dari 850 ribu ha lahan. Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa sebanyak 42% dari total area yang terbakar merupakan lahan gambut. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut biasanya sulit untuk dipadamkan karena material organik yang berada di dalam gambut menyebabkan api menjadi lebih besar dan menghasilkan banyak kabut asap. Terbakarnya lahan gambut ini juga menimbulkan problematika iklim jangka panjang, karena satu hektar lahan gambut yang terbakar sama seperti mengemisikan 55 metrik ton karbon dioksida per tahun! Kalimantan Tengah menjadi salah satu area yang paling banyak mengalami kebakaran hutan, mengingat area ini didominasi oleh lahan gambut.

Aktivitas pembukaan lahan dengan membakar lahan untuk kebutuhan perkebunan, terutama kelapa sawit, tetap merajalela pada tahun ini sehingga tidak mampu menahan kebakaran hutan untuk tidak terjadi di Indonesia. Perubahan indeks vegetasi wilayah Kalimantan Tengah pada tahun 2019 terlihat lebih signifikan dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Karena pada tahun 2019, Provinsi Kalimantan Tengah merupakan provinsi dengan area kebakaran terluas di Indonesia. Perubahan ini terlihat jelas pada perbedaan indeks vegetasi yang ditunjukkan pada Gambar 4.

Mayoritas area yang terbakar, sebanyak 70% nya berasal dari lahan gambut yang telah terdegradasi. Akibatnya, 708 juta ton gas rumah kaca yang didominasi oleh karbon dioksida dirilis ke atmosfer. Banyaknya kandungan gas rumah kaca di atmosfer menjadi salah satu pemicu terjadinya pemanasan global yang berakhir pada peristiwa perubahan iklim. Perubahan iklim ini nantinya tidak hanya akan mempengaruhi siklus cuaca di bumi, namun juga dapat mengubah ekosistem lingkungan tempat beberapa spesies hewan dan tanaman yang mulai langka berhabitat.

Dari pemaparan mengenai kasus kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, dapat terlihat bahwa mayoritas kebakaran hutan di negara ini disebabkan oleh faktor antropogenik atau adanya campur tangan manusia. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa fenomena El Nino juga turut serta memperparah kondisi kebakaran hutan yang terjadi. Selain itu, kondisi tanah yang didominasi oleh lahan gambut juga menyebabkan hutan dan lahan menjadi lebih rentan terkena kebakaran di berbagai wilayah di Indonesia. Adanya kebijakan yang bijaksana mengenai pengelolaan hutan dan lahan gambut dipandang dapat membantu mengatasi masalah kebakaran hutan yang sering terjadi di negara ini.

Gambar 4. Perbandingan Indeks Vegetasi pra dan pasca kebakaran di Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2019

 

Kontributor: Erina Prastyani & Adillah Alfatinah

Goa Karst Buniayu: Bentang Alam Pegunungan Karst di Bawah Endapan Aliran Piroklastik

Masih ragu untuk mengunjungi goa karst Buniayu? Selain asyik, kamu juga bisa menggali ilmu tentang pembentukan kawasan karst Buniayu lho. Wisata ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk bermain sambil belajar tentang geologi pembentukan kawasan Karst Buniayu.

Kawasan karst Buniayu terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Kawasan karst Buniayu merupakan kawasan karst yang sangat dominan dengan karakteristik morfologi karst, terutama keberadaan sungai bawah tanah, gua dan deretan perbukitan di kawasan pegunungan karst. Kawasan karst Buniayu secara umum memiliki sistem aliran bawah tanah dalam bentuk peronggaan atau gua dan rekahan yang menyebabkan kawasan karst Buniayu memiliki kompleksitas morfologi dan ciri geologi yang menarik untuk geowisata.

Kawasan karst Buniayu terletak pada bagian Selatan Kabupaten Sukabumi. Pada Kawasan karst Buniayu didominasi oleh batugamping terumbu. Berdasarkan hasil pengamatan batugamping yang singkap membentuk morfologi karst terutama pada kawasan Buniayu, selain itu pada satuan ini dijumpai aliran sungai bawah tanah dan fitur-fitur yang ada pada kawasan gua karst seperti stalaktite dan stalakmite.

Berdasarkan Clements dan Hall (2007) menjelaskan aktivitas vulkanik yang terjadi pada Selatan Pulau Jawa terhenti pada kala Miosen Tengah yang dicirikan dengan tidak terbentuknya endapan hasil material vulkanik yang menyebabkan terendapkan Batugamping di Kawasan karst Buniayu pada Miosen Tengah dan tumbuh di atas Satuan Breksi pada formasi jampang pada lingkungan Neritik Tengah yang bersumber dari arah utara serta pengendapan karbonat diatas busur pegunungan selatan.

Keunikan bentang alam dan sejarah pembentukan goa karst Buniayu tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para geologis maupun mahasiswa yang ingin belajar. Selain itu keindahan alam di dalam goa juga sangat menarik bagi kamu yang memang menyukai wisata alam. Pilihan berwisata di goa karst Buniayu adalah pilihan tepat yang tentu saja anti-mainstream.

Dalam upaya peningkatan serta pengelolaan pariwisata berbasis pendidikan dan konservasi untuk melindungi sumber daya alam harus dilaksanakan dengan pelayanan yang baik bagi wisatawan yang berkunjung dengan membuat jalur geotrail yang aman dengan jalur evakuasi yang tepat karena kawasan tersebut merupakan kawasan gua dan air terjun terjal untuk mengurangi resiko bahaya. Selain itu, hasil kajian memberikan hasil interpretasi berupa papan penjelasan fitur geologi yang disertai dengan peta risiko bencana geologi.

Bagimana? Semakin tertarik untuk mengunjungi goa karst Buniayu? Tapi ingat ya, pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar sebelum kamu memutuskan untuk menjelajahi goa Buniayu ini. Menjelajahi goa karst Buniayu juga sangat aman bagi kamu yang masih pemula, karena akan ada pemandu dan fasilitas penyewaan alat untuk susur goa. Kabar baiknya, goa karst Buniayu tetap buka walau ditengah masa pandemi Covid-19. Tapi kamu harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan kebijakan pengelola kawasan wisata ya.

 

Penulis : Bagaskara Wahyu P, Eka Fitriani, Muhammad Fariz AJ

Wisata Sambil Belajar di Kawasan Geowisata Goa Karst Buniayu

Berwisata di era modern saat ini menjelma seakan menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Salah satu jenis wisata yang menjadi favorit dan hype lagi khususnya bagi kawula muda seperti kamu, iya kamu, adalah berwisata bertema alam. Ini tergambar dengan banyaknya postingan anak muda seperti kamu dengan tagline need vitamin sea “, “ sudah rindu ketinggian “, dan masih banyak lagi. Jika wisata ke gunung atau pantai sudah terlalu mainstream, kamu bisa mencoba berwisata menyusuri perut bumi di Goa Kawasan Karst Buniayu.

Beberapa goa yang ada di kawasan Karst Buniayu antara lain Goa Caringin, Goa Landak, Goa Cipicung dan Goa Buniayu. Selain menikmati keindahan struktur goa, kamu juga bisa sembari belajar geologi pembentukan goa dan hal menarik lainnya di kawasan karst Buniayu.

Lokasi Goa Buniayu sendiri berada di Desa Kerta Angsana, Sukabumi, Jawa Barat. Kamu harus menempuh perjalanan setidaknya satu jam untuk bisa menikmati keindahan Goa Buniayu yang berjarak 28 km dari Kota Sukabumi. Perjalanan menuju Kawasan Goa Buniayu dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi (motor dan mobil) atau menggunakan moda transportasi umum. Untuk masuk ke kawasan Goa Buniayu kamu hanya butuh merogoh kocek Rp 5.000/orang dan kamu sudah bisa menikmati pemandangan khas kawasan karst. Jika ingin mencoba masuk ke goa horizontal maka dikenai biaya Rp 20.000/orang. Sedangkan jika kamu ingin lebih menantang adrenalin, kamu bisa mencoba paket goa vertikal lengkap dengan pemandu dan perlengkapan susur goa seharga Rp 150.000/orang. Perlengkapan yang akan kamu dapatkan juga cukup lengkap seperti wear pack anti air, helm, sepatu boot, senter kepala, sarung tangan dan yang lainnya.

Saat menyusuri lorong-lorong Goa Buniayu, kamu akan disuguhkan pemandangan unik aneka ornamen goa yang cantik Seperti stalaktit dan stalagmit, drapery, gourdam, canopy, flowstone dan column. Di dalam goa kamu juga akan menemukan sungai bawah tanah sepanjang 2 meter dengan kedalaman bervariasi antara 0,5 hingga 3 meter. Dengan keunikan-keunikan tersebut, berwisata di Goa Buniayu sangat sayang untuk kamu lewatkan. Selain menarik, kamu juga bisa berwisata sambil belajar menyusuri Goa Karst Buniayu.

Berwisata di Goa Buniayu terlihat asyik dan anti mainstream, karena kamu akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan kamu temukan saat berwisata di destinasi lain. Tapi, untuk berwisata di Goa Karst Buniayu pastikan kamu dalam kondisi sehat dan bugar. Disarankan untuk berolahraga terlebih dahulu sebelum berkunjung dan menyusuri lorong-lorong Goa Buniayu. Karena kondisi goa yang cukup terjal dan berlumpur. Jadi kamu akan bisa maksimal menikmati dan mengabadikan momen menyusuri keindahan perut bumi di Goa Buniayu.

Penulis : Bagaskara Wahyu P, Eka Fitriani, Muhammad Fariz AJ

Pemanfaatan Danau Baru di Kota Kupang Pasca Badai Seroja

Empat tipe utama doline yang tidak langsung berasal dari larutan batuan di atau dekat permukaan: (A) collapse doline, akibat runtuhnya atap gua; (B) doline subsidence, dibentuk oleh pengendapan batuan tak larut mengikuti larutan batuan larut yang mendasarinya; (C) intersection doline, yang berasal dari pengosongan tambalan gua fosil tua akibat perpotongan dengan permukaan topografi; (D) cover doline, yang telah berkembang dalam batuan tidak koheren yang mengubur batuan yang larut atau sebagian mengisi depresi karst. (sumber: Sauro, Ugo. (2012). Closed Depressions in Karst Areas. 10.1016/B978-0-12-383832-2.00133-X. https://www.researchgate.net/publication/)

Peristiwa badai Seroja yang terjadi awal April lalu masih membekas di benak masyarakat kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pasalnya badai tersebut telah merenggut banyak korban jiwa dan kerugian materi lainnya. Selain itu, hal lain yang membuat takjub pasca badai Seroja ini adalah munculnya danau baru seluas 2 hektar di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Namun dari pernyatan Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG RI, Dr. Daryono bahwa danau ini hanya bersifat sementara atau temporer. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur Dr. Herry Kota yang menyatakan jenis ini merupakan danau Dolina. Danau Dolina merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di wilayah dengan topografi karst. Danau ini akan kering saat musim kemarau karena proses penguapan yang tinggi.

Potensi Usaha Baru
Tentu saja fenomena alam yang terjadi begitu cepat ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar kota Kupang. Sehingga banyak warga sekitar yang berbondong-bondong datang untuk melihat fenomena alam tersebut. Banyak warga lokal maupun luar kota yang datang untuk melihat langsung danau tersebut. Mereka berfoto dan menikmati keindahan alam yang baru saja terbentuk.
Tentu saja hal ini membuka potensi wisata baru di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Selain itu, hal ini memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Karena mereka bisa membuka usaha baru seperti warung di sekitar danau untuk memberikan kenyamanan dan kebutuhan para wisatawan.

Pemanfaatan Air Danau
Sebagian besar masyarakat masih belum memiliki pengetahuan apakah air dari danau yang baru terbentuk layak konsumsi. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Air memiliki kadar standar baku mutu untuk dapat dikonsumsi, dimana menurut PERMENKES No.492/Menkes/Per/IV/2010, standar kualitas air minum yaitu tidak boleh mengandung TDS(Total Dissolve Solid) lebih dari 500mg/l.

Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/pp822001.htm)

Melihat kondisi geografi Indonesia bagian timur yang merupakan daerah dengan dominasi adalah daratan kapur perlu dilakukan pengkajian terhadap baku mutu air konsumsi diwilayah tersebut. Air dengan kandungan kapur memiliki ciri yaitu memiliki pH lebih dari 8, dimana air konsumsi memiliki standar pH tidak boleh lebih dari 8. Air kapur apabila dimasak akan menimbulkan sisa bercak putih pada panci.
Air kapur apabila diminum akan meninggalakn rasa pahit. apabila dikonsumsi dalam jangka pendek akan minumbulkan muntaber, diare, kolera, tipus dan disentri. Sedangkan jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menyebabkan penyakit keropos tulang, kerusakan gigi, ginjal, kandung kemih bahkan kerontokan rambut. Pada tingkat kronis, jika air yang dikonsumsi mengandung kadar kapur yang tinggi bisa menyebabkan kanker.
Air yang mengandung kapur dapat dikonsumsi dengan cara direbus dengan benar. Merebus air tersebut selama sekitar 20-30 menit, saat air mendidih zat kapur akan mengendap dan ada pula yang mengambang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sumber mata air baru yang muncul pasca badai Seroja ini masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk dapat layak konsumsi bagi masyarakat. Namun dampak positif lainnya, danau yang baru terbentuk ini bisa menjadi peluang wisata dan usaha baru bagi masyarakat sekitar. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk pengairan perkebunan atau sawah di sekitar danau.

Danau Baru Pasca Badai Tropis Seroja

Pada awal Bulan April 2021 lalu, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami badai siklon tropis Seroja yang juga menerjang Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kejadian tersebut mengakibatkan bencana alam seperti tanah longsor serta banjir bandang. Pasca Badai Seroja menerjang, Di Daerah Tankolo, Sikumana dan Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, terdapat fenomena munculnya Danau baru di sekitar Permukiman warga.
Berdasarkan data yang didapatkan, faktor penyebab terjadinya kemunculan danau baru pasca badai di Kota Kupang, NTT adalah Cuaca ekstrem yang terjadi akibat adanya siklon tropis Seroja yang melanda beberapa wilayah di Indonesia terutama di Kota Kupang dengan terjadinya meningkatnya curah hujan dengan intensitas 253,9 mm/hari (Stasiun Meteorologi Eltari) dan 230,2 mm/hari (Stasiun Klimatologi Kupang) atau keduanya termasuk kedalam kategori hujan ekstrem (Sumber data: dataonline.bmkg.go.id pada 4 April 2021).

Faktor lain adanya kemunculan sumber mata air baru di kota Kupang yang membentuk danau seluas 2 hektar ini disebabkan oleh kondisi geologi dan topografi sekitar danau tersebut terbentuk pada area bentang alam karst. Air hujan dan air permukaan yang terjadi pada saat hujan berlangsung tertampung pada suatu cekungan karst berupa doline sehingga air permukaan terakumulasi pada cekungan tersebut. Selain itu daerah sekitar danau merupakan daerah yang tersusun batugamping (CaCO3) dengan bentuklahan Karst yang membentuk proses karstifikasi.
Karstifikasi adalah suatu proses sistem pembentukan daerah bentang alam karst yang pada dasarnya berkaitan dengan pelarutan geokimia. Proses ini berkaitan dengan pelarutan massa batugamping. Badai yang terjadi dengan intensitas yang ekstrem menyebabkan batuan dibawah permukaan yang mudah larut terbawa air besar bergerak, sehingga aliran air bawah permukaan menjadi berubah. Aliran sungai bawah tanah karst ini dapat berubah dan membuat sistem aliran baru, pada saat aliran air bawah tanah keluar pada lereng akan menjadikan mata air. Air yang masuk ke dalam massa batuan, khususnya pada lereng batuan, dipengaruhi oleh siklus hidrologi. Pada daerah tropis, hujan yang terjadi dengan intensitas sedang sampai tinggi dengan kategori waktu yang cukup sering terjadi menyebabkan terjadinya aliran air fluida dangkal sebagai proses prespitasi dari air hujan yang masuk melalui permukaan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemunculan Danau baru di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dipengaruhi oleh siklon badai tropis Seroja yang mengakibatkan meningkatknya curah hujan di Daerah tersebut. Selain itu faktor kondisi geologi berupa topografi sekitar Danau berupa daerah karst dengan bentuk cekungan sehingga dapat menjadi wadah terakumulasinya air permukaan maupun air bawah permukaan (air tanah) yang berkembang akibat adanya proses hidrologi karstifikasi yang mengalir di sekitar danau yang tersusun oleh batuan berupa batugamping.

Penulis : Baniarga Prabowo, Eka Fitriani, Topan Ramadhan Sanusi

Sumber : https://kabarbesuki.pikiran-rakyat.com/berita/pr-191799933/danau-baru-terbentuk-di-kupang-ntt-usai-terjadi-badai-siklus-seroja-menurut-ahli-ini-termasuk-danau-dolina

Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk menurunkan emisi CO2. Bagaimana di Indonesia?

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia juga berada di peringkat keempat sebagai penghasil Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar pada tahun 2015. Emisi CO2 berasal dari berbagai sektor seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahun 2016, Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU) memiliki emisi CO2 638.542 Gg CO2e. Dari tahun ke tahun, sektor ini merupakan penyumbang emisi terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya. Terutama pada tahun 2015 di mana emisi karbon sangat tinggi karena kebakaran lahan gambut yang sangat parah pada tahun itu. Kemudian diikuti oleh sektor energi dengan emisi 506.473 Gg CO2e. Perlu dicatat bahwa pemenuhan energi di Indonesia masih sangat tergantung pada bahan bakar fosil. Sektor lain yang juga menyumbang emisi karbon adalah Industrial Process and Product Use (IPPU) 53.892 Gg CO2e dan juga sektor limbah 2.940 Gg CO2e.

Gambar 1. Emisi GRK Nasional (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2018)

Dalam Sustainable Development Scenario (SDS), International Energy Agency (IEA) menganalisis beberapa opsi untuk mengurangi emisi karbon seperti yang terlihat pada Gambar 2. Di antara opsi-opsi ini, Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) adalah satu-satunya teknologi yang dapat menangkap CO2 yang telah dilepaskan ke atmosfer. Sementara teknologi lainnya merupakan tindakan mencegah peningkatan emisi karbon. Dengan kata lain, CCUS adalah teknologi paling menjanjikan yang perlu diterapkan di setiap negara terutama di Indonesia. Sebagaimana komitmen Indonesia yang dinyatakan dalam Intended Nationally Determined Contributions (INDCs) untuk Paris Agreement pada tahun 2015, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% hingga 41% pada tahun 2030, termasuk pengenalan energi bersih dan terbarukan dan juga konservasi energi (The 5th ASEAN Energy Outlook, 2017).

Gambar 2. Skenario Pengurangan Emisi CO2 (International Energy Agency)

Kondisi CCUS di Indonesia saat ini

Menurut Indonesia CCS Study Working Group, saat ini Indonesia masih dalam tahap Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk teknologi CCUS. Namun, kecenderungan pemanfaatan teknologi ini di Indonesia difokuskan untuk peningkatan produksi sumur-sumur tua minyak dan gas yang tersebar luas di berbagai lokasi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pemenuhan energi dari bahan bakar fosil di Indonesia masih menjadi prioritas utama. Sedangkan dengan menggunakan CO2 sebagai EOR (Enhanced Oil Recovery) atau EGR (Enhanced Gas Recovery), emisi negatif tidak akan tercapai karena akan menghasilkan emisi karbon lainnya setelah minyak dan gas diekstraksi kembali ke permukaan. Dari skema pemanfaatan CO2 yang terlihat di Gambar 3, teknologi manakah yang paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia dan juga memenuhi syarat emisi negatif? Sebagai Geosaintis, saat ini penulis sedang mendalami teknologi Mineral Carbonation (mengubah CO2 menjadi material karbonat) dan Sequestration (menginjekasikan kembali CO2 ke dalam formasi geologi tertentu). Penjelasan lebih detail mengenai perbandingan kedua teknologi ini akan dibahas lebih lanjut dalam artikel selanjutnya.

Gambar 3. Alur Kerja Teknologi CCUS (Integrated CO2 Network)
Referensi
  • ASEAN Centre for Energy (ACE). (2017). The 5th ASEAN Energy Outlook (AEO5). Available at: http://www.aseanenergy.org/publications
  • Best, D., Mulyana, R., Jacobs, B., Iskandar, U. P., and Beck, B. (2011). Status of CCS Development in Indonesia. Energy Procedia 4, 6152-6156. doi:10.1016/j.egypro.2011.02.624
    COP21. (2015). COP21 Paris France Sustainable Innovation Forum 2015. Available at: http://www.cop21paris.org
  • Integrated CO2 Network (ICO2N). (2015). Fact sheet about CCUS technologies. Available at: https://www.pembina.org/reports/ccu-fact-sheet-2015.pdf
  • International Energy Agency Report. (2007). Capturing CO2. IEA Greenhouse Gas R&D Programme 2007. ISBN:978-1-898373-41-4
  • Ministry of Environment and Forestry. (2018). Indonesia Second Biennial Update Report Under the United Nations Framework Convention on Climate Change. Jakarta: Directorate General of Climate Change, Ministry of Environment and Forestry.

FLASHBACK TO 1998 : REFLEKSI HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 2020

“The foods we eat, the air we breathe, the water we drink and the climate that makes our planet habitable all come from nature.

Yet, these are exceptional times in which nature is sending us a message:
To care for ourselves we must care for nature.

It’s time to wake up. To take notice. To raise our voices.
It’s time to build back better for People and Planet.

This World Environment Day, it’s Time for Nature.

Inilah paragraf pembuka halaman website www.worldenvironmentday.global dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020.

***

Halo Sobat Geos, bagaimana kabar Anda? Semoga Anda tetap sehat fisik dan mental walau di tengah situasi pandemi yang sangat berat ini. Baik Sobat, saya akan mulai artikel ini dengan pertanyaan : apakah saat pandemi seperti ini Anda masih membutuhkan makanan untuk bertenaga? masihkah Anda butuh udara untuk bernafas? dan apakah Anda masih butuh air untuk minum menghilangkan dahaga? Jika jawabannya iya, renungkanlah pertanyaan tersebut sambil Anda membaca cerita ini!.

Anak-anak generasi milenial (termasuk saya) adalah orang menyaksikan perubahan dunia yang sangat cepat sejak penghujung abad ke-20 hingga sekarang. Perubahan tersebut terjadi pada semua aspek kehidupan kita, tak terkecuali pada aspek lingkungan hidup. Untuk mengajak Anda berpikir tentang perubahan kondisi lingkungan hidup ini, saya mau mengajak anda flashback pengalaman pribadi hidup saya. Sekitar tahun 1998an, saya tinggal di batas antara kota Tangerang dengan Jakarta. Saya masih teringat kenangan saat itu, sewaktu saya masih kanak-kanak. Setiap bangun pagi selalu disambut dengan suara burung gereja yang sedang hinggap di atap rumah. Menjelang siang banyak kupu-kupu berwarna kuning menghiasi sekitar pepohonan berbunga. Sore harinya, saya dan teman-teman sangat asik menatap burung-burung (yang belum pernah kami lihat bagaimana rupanya) dan kelelawar banyak beterbangan menghiasi langit yang berwarna jingga. Malam harinya, kaki saya disambut katak yang melompat-lompat saat saya berjalan menuju rumah sepulang dari bermain atau mengaji. Terkadang saya juga bermain di dekat kanal yang airnya bersih, mengalir dan banyak ikan-ikan kecil.

Namun kenangan indah ini perlahan benar-benar hanya tinggal kenangan. Dari tahun ke tahun, apa yang saya sebutkan diatas satu persatu menghilang. Entah apa penyebabnya, namun saya yakin bahwa ini “hanyalah” rangakaian perubahan kecil yang mampu saya lihat saat itu, dari sebuah perubahan besar yang sedang terjadi namun belum bisa saya pahami sampai saya ada di usia sekarang. Apa itu? baik, saya akan coba jelaskan pelan-pelan.

Membaiknya kondisi sosio-politik-ekonomi Indonesia pasca krisis ekonomi tahun 1998 menjadikan masyarakat kita semakin maju dan menciptakan peluang baru tumbuhnya industrialisasi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jakarta sebagai Ibukota negara yang menjadi pusat keramaian manusia, menarik perhatian para pebisnis untuk menjadikan kota ini sebagai “center of market”. Mereka kemudian memilih “pinggiran kota”, salah satunya tempat saya tinggal ini, sebagai kawasan industri baru agar dekat dan murah dalam mendistribusikan produknya ke pasaran. Pabrik-pabrik dan kompleks pergudangan pun akhirnya dibangun dengan menggusur lahan yang semulanya adalah sawah, kebun atau sekedar lahan tak berfungsi yang ditumbuhi tanaman obat dan pepohonan besar. Tak cukup sampai situ, keberadaan pabrik ini jelas memancing kedatangan kaum transmigran yang mencari lapangan pekerjaan dan kemudian bekerja sebagai pegawai kantor maupun sebagai buruh. Kedatangan mereka memaksa lahan sekitar semakin terbatas dan beralih fungsi menjadi pemukiman padat yang terdiri dari rumah pribadi maupun kontrakan untuk tempat tinggal kaum pekerja ini. Tidak hanya itu, perusahaan properti swasta pun berlomba-lomba membangun kompleks perumahan untuk menyediakan hunian kalangan eksekutif. Lahan di sekitar kami yang semulanya menghasilkan sebagian bahan makanan dan obat untuk penduduk setempat, kini sudah berubah menjadi hutan beton. Mungkin inilah sebebanya mengapa burung-burung, kelelawar, kupu-kupu sudah jarang saya ditemukan disana. Ya, karena mereka kehilangan habitat. Alih fungsi lahan adalah masalah pertama.

Sawah dan kebun yang hilang membuat penduduk setempat harus membeli beras dari yang semulanya mereka menanam padi sendiri. Masih ada sebagian sawah yang tersisa di antara pabrik-pabrik, namun sawah tersebut sudah tak lagi produktif karena pencemaran air dan tanah oleh limbah industri yang tidak diproses terlebih dahulu. Saya juga bingung mengapa tidak ada tindakan tegas pemerintah dalam menangani hal ini. Kanal yang semula airnya bening, kini airnya berwarna hitam pekat dan baunya sangat menyengat seperti bau pelumas. Kalau sudah seperti ini masihkah kita berharap ada ikan yang hidup disana?. Pencemaran air adalah masalah kedua.

Belum lagi sampah harian dalam jumlah banyak yang dihasilkan dari rumah tangga. Sampah tersebut dibuang di pusat pembuangan sampah lokal yang tidak resmi dan tidak terurus meski kini sudah ada pengelola dari pemerintah. Karena minimnya pendidikan, beberapa penduduk membakar sampahnya sendiri, dan ini menyebabkan pencemaran udara. Keberadaan pabrikpun berdampak pada kualitas udara. Penduduk merasakan adanya peningkatan kadar debu yang masuk ke rumah mereka. Kalau seperti ini berarti cukup banyak debu yang mengambang di udara bukan? Apa artinya? Jangan merasa aneh jika muncul penyakit pernafasan di kemudian hari! Pencemaran udara dan dampaknya ini adalah masalah ketiga.

Kalau kerusakannya sudah seperti ini siapakah yang harus bertanggung jawab? Apakah para “korban tidak langsung” ini  boleh menuntut hak mereka kepada para pemilik pabrik? Atau menyalahkan pemimpin yang mengizinkan adanya pembangunan kawasan industri disana? Dan jika sudah ditetapkan siapa yang harus bertanggungjawab, apakah kondisi lingkungan bisa dikembalikan seperti semula? Sepertinya sulit. Jadi bagaimana? Ya, penduduk disana hanya diminta untuk berdamai dengan keadaan! Mereka dipaksa menjadi korban pencemaran yang tak berdaya. Padahal air, udara dan tanah adalah elemen penting untuk mendukung  kehidupan mereka. Tapi, nampaknya itu tak akan ada di dalam benak kaum kapitalis. Ya, kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan nampaknya memang sulit untuk bersatu.

Dari kisah yang skala ruang dan waktunya sempit ini, saya mendapatkan sebuah pola dari kerusakan lingkungan, yaitu  sebagai berikut, (1) bermula dari suatu tempat menjadi tempat yang menarik perhatian orang untuk tinggal disana, (2) orang-orang berdatangan dan hampir/mencapai titik over-populated, (3) adanya perubahan fungsi lahan, dan (4) menurunnya kualitas lingkungan karena pencemaran dan sudah tidak hadirnya elemen pendukung lingkungan.

Dengan demikian, saya dapat meringkas bahwa kerusakan ini bermula dari izin yang diberikan oleh pemimpin yang berwenang kepada pebisnis untuk mengalihfungsikan lahan. Hal ini memunculkan efek domino hingga menimbulkan kerusakan lingkungan karena ulah pebisnis yang tidak bertanggungjawab selama eksekusinya.

Saya rasa apa yang saya ceritakan di atas adalah hal yang lumrah terjadi di kota-kota yang mengalami industrialisasi di Indonesia seperti Karawang, Sidoarjo, dan Pasuruan. Mungkin pinggiran kota di negara-negara Emerging 7 lainnya juga merasakan hal yang sama. Yuk kita bersuara! (YBM)

(Konten dari artikel ini menjadi tanggungjawab penulis seutuhnya)

oleh : Yan Bachtiar Muslih

Divisi LITBANG FGMI

Fakta Menarik Jatibarang

Jatibarang Sub-basin according to Amril, Sukowitono, and Supriyanto. (1991)
  • Pertama kali ditemukan pada tahun 1941
  • Hingga kini, terdapat lebih dari 140 sumur pada Sub-Cekungan Jatibarang
  • Berupa half-graben system yang berlokasi di antara Sunda microplate dengan India Australia subdcution, dengan keberadaan pada back-arc (Adnan, et.al., 1991)
  • Menurut Clements dan Hall (2007), Formasi Jatibarang sebagai formasi penghasil hidrokarbon, terbentuk pada Oligosen Awal. Formasi terbentuk pada half-graben berorientasi Utara-Selatan. Sementara menurut Martodjojo (2003), Formasi Jatibarang berumur Cretaceous-Eocene.
  • Arpandi dan Padmosoekismo (1975) dalam Martodjojo (2003) menyatakan Formasi Jatibarang menerus dari selatan Jakarta hingga lepas pantai Cierbon di sebelah timur.
  • Formasi Jatibarang memiliki ketebalan lebih dari 1200 m dan mengalami penipisan pada bagian Barat dari Cekungan Jawa Barat Utara.
  • Masih menurut Clements dan Hall (2007), pembentukan Sub-Cekungan berkaitan ekstensi yang tidak berkaitan dengan subduksi pada bagian Selatan Jawa, hal ini dikarenakan sumbu subduksi dan ekstensi pada Sub-Cekungan Jatibarang berlainan arah. Dengan demikian pula, diinterpretasikan bahwa Formasi Jatibarang merupakan hasil fissure eruption, dan bukan strato volcano pada umumnya.
  • Dalam disertasi Martodjojo (2003), disebutkan bahwa Formasi Jatibarang Yang pertama adalah batuan beku dan yang kedua adalah tufa. Batuan beku terdiri dari basalt, andesit. Batuan tufa terdiri dari tufa vitrik atau tufa gelas, tufa lithik serta tufa kristal.
  • Sistem petroleum yang dikemukakan oleh Adnan, et.al. (1991) adalah Sub-Cekungan Jatibarang sebagai reservoir dengan Formasi Talangakar hadir sebagai batuan induk. Formasi Talangakar, meskipun berumur lebih muda, yang menjadi batuan induk terletak pada bagian low dari cekungan dengan Formasi Jatibarang pada bagian high. Jalur migrasi pada cekungan adalah patahan-patahan yang hadir.
  • Jatibarang sub basin terbentuk sebagai sistem half graben yang pembentukannya di kontrol oleh patahan turun dengan arcuate pattern. Tren patahan utara – selatan terbentuk ketika subduksi berubah arah menjadi timur – barat. Ryacudu dan Bachtiar (2000) menjelaskan bahwa Jatibarang sub – basin melepaskan double bend structure dari sistem zona patahan NW-SE right-stepping strikeslip.
  • Lapangan Jatibarang sendiri merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Basin Jawa Barat Utara. Formasi Jatibarang ditutupi oleh Formasi Talang Akar dengan sedimen fluvio – deltaic yang tersusun atas sandstones, shale, dan coal. Formasi ini mengisi posisi terendah cekungan, oleh karena itu jarang ditemukan di basement high(Sinclair et.al. 1995).

 

Jatibarang Fm. Depositional environment according to Clements and Hall (2007)

 

Selayang Pandang Tanah Jo Kincai : Potensi Geowisata dan Mitigasi Bumi Sakti Alam Kerinci

Kerinci merupkan suatu wilayah berbagai bentukan alam khas geologi seperti kawah gunung api, sungai dan air terjunya, goa dan lain dengan berbagai keunikanya semua dimiliki kerinci sebagai sebuah anugerah potensi wisata geologi yang sangat melimpah. Namun Kerinci memiliki potensi bencana gunung api seperti debu vulkanik dan gempabumi maka diperlukan mitigasi bencana untuk dapat meminimalisir korban dengan adanya titik evakuasi.

Tugu Macan dan Gunung Kerinci. Sumber : Kerinci Paradise

Apa itu Geowisata?

Geowisata adalah suatu kegiatan wisata berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologi permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal. Indonesia adalah negara yang memiliki daya tarik geologi yang khas di berbagai wilayah dan dapat dijadikan sebagai objek geowisata.

Salah satu potensi yang sangat besar dari Kabupaten Kerinci adalah menjadikan keindahan alam Kerinci sebagai objek wisata, terutama objek wisata alam. Melihat banyaknya potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Kerinci. Letak wilayah Kabupaten Kerinci secara geografis adalah di antara 01 41’ sampai 02 26’ lintang selatan dan 101 08’ sampai 101 40’ bujur timur. Luas kabupaten Kerinci sebesar 420.000 Ha. Ibu  kota Kerinci yaitu Sungai Penuh berjarak 418 km dari Kota Jambi.Dari wilayah Kerinci keseluruhan, 52 % merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, hanya sekitar 48% merupakan kawasan budidaya.

                Peta Geowisata Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

 

POTENSI GEOWISATA

Kabupaten Kerinci memiliki keanekaragaman geologi (geodiversity) berupa bentang alam yang indah sebagaimana layaknya sebuah, mata air panas sebagai indikasi fenomena panas bumi, air terjun, gua, dan berbagai jenis singkapan batuan gunungapi.

Daerah kerinci memiliki potensi geowisata diantaranya :

Gunung Kerinci (S01o41’50” dan E101o15’52”) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Kerinci merupakan gunung api aktif bertipe stratovulkanik dengan ketinggian 3.805 mdpl dan memiliki letusan bersifat eksplosif. Gunung api ini muncul di dalam suatu struktur graben yang merupakan bagian dari sesar Sumatra, tubuh gunung api ini muncul didasar suatu graben vulkano tektonik regak lurus pada garis tektonik bukit barisan yang mengalami penurunan waktu patahan besar terjadi.  Beberapa kegiatan terakhir gunung kerinci adala tahun 2008 berupa letusan abu disertai asap hitam.

Goa Kasah (E01  49.103’ S101  21.655’) terletak dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dekat Desa Renah Kasah Kacamatan Kayu Aro. Disepanjang perjalanan terdapat banyak batuan vulkanik yang merupakan hasil dari letusan gunung api. Didalam goa ini terdapat beberapa jejak peninggalan terdahulu seperti tengkorak, tulisan kuno, dan didinding terdapat wujud wanita yang sedang sholat .

Mata Air panas Semurup (E: 01  59.167’  S: 101  21.306). Merupakan salah satu objek wisata yang terletak  di kabupaten kerinci, jambi. Tepatnya di Desa  Air Panas Baru Semurup ini memiliki luas 76 m². Mata air panas semurup pada umumnya berada di batuan sedimen namun ada pengaruh dari aktivitas magmatic. dimensi dan keadaan geologi air panas semurup yang berupa kolom ini memiliki 15 meter persegi. menurut warga setempat ,dahulu suhu air mencapai 100̊ C, tempat tersebut tetap mengagumkan dan sangat menarik ketika membayangkan ada titik sepanas ini di dataran tinggi 800 mdpl.

Bukit kayangan merupakan rangkaian panorama Negeri diatas awan dari bukit barisan yang mengelilingi sebagian daerah kerinci. lokasinya berada di desa Renah Kayu Embun, tidak begitu jauh dari pusat kota sungai penuh, puncak bukit kayangan (±1500mdpl).

Selain itu terdapat banyak air terjun di Kerinci, diantaranya adalah Air Terjun Talang Kemulun (E02  03.975’ S101  32.409’) dan Air Terjun Saluang Bersisik Emas  (E02 03.975’ S101 32.409’) dimana terdapat batuan basalt yang menjadi aliran air terjun.

Rawa lempur (E02 17.462’ S101 31.946’) ini merupakan sebuah geowisata yang belum terekspose bagi banyak orang dimana dapat di amati dengan sajian pemandangan bukit-bukit dan tanaman-tanaman liar.

Danau kerinci (N02̊ 08’ 58,72” E101̊ 29’ 19,02”). Danau Kerinci merupakan danau yang terbentuk akibat pergeseran sesar Sumatra yang membentuk cekungan Pull apart basin, cekungan ini kemudian terisi oleh air dan membentuk danau purba.

Danau Kaco terletak di Desa Lempur di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat  Danau kaco memang mempunyai air yang sangat bening kebiruan. Terletak di ketinggian 1289 diatas permukaan air laut, danau ini tergolong danau yang kecil tidak seperti danau-danau pada umumnya. Hanya berukuran luas sekitar 30 x 30m, namun danau ini bisa menyuguhkan keindahan geomorfologi di sekitarnya.

 

GEOHAZARD / MITIGASI BENCANA

Kerinci memiliki kekhasan geologi yang unik. Potensi geowisata dapat dimaksimalkan jika pengelolaan terhadap keruangan dan ekosistem dikelola dengan  baik. Beberapa potensi geowisata di Kerinci belum dikelola dengan baik seperti pada lokasi air terjun, danau kaco dan rawa lempur. Potensi geowisata yang tidak terkelola dengan baik dapat memungkinkan terjadi kebencanaan. Seperti banjir dan longsor.

Peta Geohazard Kabupaten Kerinci. Sumber: Tim Geowisata Teknik Geofisika Univ. Jambi

Bahwa terdapat beberapa lokasi yang berpotensi mengalami bencana longsor seperti di air terjun talang kemulun, air terjun seluang bersisik emas, dan di Goa Kasah. Karena sebagian besar lokasi wisata berada dalam wilayah TNKS maka tak jarang ditemukan binatang buas maupun melata yang dapat membahayakan wisatawan, seperti di Goa kasah, Gunung Kerinci, Danau Kaco dan air terjun Talang Kemulun.

 

Menyingkap Rahasia Calon Geopark Plato Dieng : Jejak Harta Karun Tersembunyi dari Warisan Gunung Dieng

Landscape Dieng Plateu dari Gunung Prau. Foto: Deni Sugandi

Kawasan Dataran Tinggi Dieng atau lebih dikenal dengan Dieng Plateau merupakan suatu wilayah di tengah-tengah Pulau Jawa, terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kawasan Dataran Tinggi Dieng terletak pada beberapa wilayah administratif, yaitu sebagian besar masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Kawasan Dataran Tinggi Dieng menjadi suatu daya tarik tersendiri dengan ketinggian daerah mencapai ± 2000 mdpl dengan dianugerahi berbagai macam potensi.

Apa itu Geopark?

Geopark atau yang sering disebut sebagai Taman Bumi merupakan sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki Situs Warisan Geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek Warisan Geologi (Geoheritage), Keragaman Geologi (Geodiversity), Keanekaragaman Hayati (Biodiversity), dan Keragaman Budaya (Cultural Diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan Pemerintah Daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.

Keragaman geologi (geodiversity) Kawasan Dataran Tinggi Dieng berkaitan erat dengan aktivitas gunungapi yang diiinterpretasikan oleh para ahli geologi mengenai Pembentukan Plato Dieng dengan membaginya 3 episode letusan Gunungapi Dieng berdasarkan umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan. Singkatnya, pada fase awal terjadi letusan besar dari Gunung Dieng yang menimbulkan Depresi Batur sebagai kaldera raksasa dataran tinggi (plato) dieng. Sisa morfologi yang paling terlihat adalah dengan adanya morfologi Gunung Prau sebagai salah satu pagar dari kaldera tersebut.

Gambaran Kaldera Raksasa akibat Depresi Batur. Foto: Google Maps

Kemudian Pada episode letusan kedua akibat menimbulkan terbentuknya morfologi tinggian yang menjadi perbukitan kerucut vulkanik dan morfologi rendahan akibat depresi membentuk suatu cekungan. Perbukitan vulkanik yang dihasilkan membentuk beberapa bukit yang sering dikenal sebagai Bukit Sikunir, Gunung Pakuwaja, Gunung Bisma dan Komplek Batu Ratapan Angin. Kemudian dari morfologi rendahan yang dihasilkan terisi oleh air yang membetuk beberapa telaga yang kita kenal sebagai Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Menjer, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Sewiwi. Kemudian ada Sumur Jalatunda yang secara morfologi dan genesa diinterpretasikan pembentukanya sama dengan danau. Pada beberapa daerah juga terbentuk patahan-patahan yang membentuk curug (air terjun) yang diantara nya yang sering kita kenal ada Curug Sikarim, Curug Sirawe, Curug Sigenting dan Curug Merawu.

Kenampakan Gunung Pakuwaja, Curug Sikarim, Batuan Beku Andesit dan Telaga Dringo. Foto: Gilang Agatra

Kemudian Pada episode letusan ketiga terjadi letusan muda pada titik-titik kawah aktif dari letusan sebelumnya. Hal ini sebagai pertanda masih aktifnya Gunung Dieng sampai saat ini. Kawah aktif yang di ditemukan disana diantaranya ada Kawah Sikendang, Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan Kawah Candradimuka serta Kawah Timbang yang diidentifikasi paling beracun dari semuanya. Batuan yang ada pada kawah tersebut sebagian besar sudah terubahkan menjadi batuan alterasi akibat adanya aktivitas vulkanik yang mengubah batuan tersebut. Pada bagian kawah juga dihiasi dengan adanya geyser (semburan mataair panas).

Kenampakan Kawah Candradimuka, Batuan Ubahan, dan Geyser. Foto: Gilang Agatra

Dari sisi keragaman hayati (bodiversity), Dieng dengan cagar alamnya menjadi rumah bagi hewan-hewan dan tetumbuhan endemik Jawa. Beberapa di antaranya ada yang menjadi produk pertanian yang menjadi unggulan dari daerah Dieng (purwaceng, terong belanda, cabe dieng dan carica). Dieng memiliki 3 cagar alam yang ditetapkan oleh BKSDA Jawa Tengah pada tahun 2018 yang diantaranya yaitu Taman Wisata Alam Tlogo Warno dan Pengilon, Cagar Alam Tlogo Semurup dan Cagar Alam Tlogo Dringo.

Purwaceng, Domdi (Domba Dieng), dan Carica. Foto: Par Par Priatna/Badan Geologi

Kemudian dari sisi keragaman budayanya (cultural divesity), Dieng sangat kaya dengan tradisi dan tinggalan budaya seperti tarian, kompleks percandian dan lain-lain. Diantaranya ada Kompleks Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Lennger Topeng dan Ruwat Rambut Gimbal yang biasanya masuk dalam rangkaian Dieng Cultural Festival disetiap tahunnya.

Kompleks Candi Arjuna (Foto: Par Par Priatna), Ruwat Rambut Gembel (Foto: Dowisata), dan Tarian Lengger Topeng (Foto: travel.masifan)

Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025. Peraturan tersebut kemudian dipertegas menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP) Jawa Tengah yang masuk dalam Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) lima cakupan wilayah Borobudur-Dieng sekitarnya dalam Peraturan Gubernur nomor 6 tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012–2027.

Hal ini menjadikan Kawasan Dataran Tinggi Dieng telah siap dengan potensi nya dan dapat segera untuk diajukan sebagai bagian dari Geopark Nasional maupun jaringan UNESCO Global Geopark.

 

Gilang Agatra

Divisi Media & Jurnalistik

FGMI 2019-2021

  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id