Berita Terbaru

FGMI Eksperience Sharing Knowledge IV

Peserta ESK IV yang terdiri atas profesional muda dan mahasiswa

Jakarta, FGMI Online – FGMI kembali menyelenggarakan acara Experience Sharing Knowledge (ESK), sabtu (15/12) lalu. ESK ini digelar untuk ke empat kalinya ditahun 2012.  Acara yang dikoordinir oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan FGMI ini mengambil tema tentang pemaparan hasil tugas akhir para geosaintis muda sewaktu kuliah dulu. Karya yang susah payah dikerjakan selama berbulan-bulan, mengolah banyak data, bolak-balik menghadap dosen pembimbing, berdiskusi sampai berdebat mempertahankan argument selama kolokium hingga sidang, rasanya sayang sekali jika perjuangan selama menyelesaikan tugas akhir tersebut pada akhirnya hanya terpajang manis di pojokan lemari perpustakaan jurusan. Oleh sebab itu, FGMI mengundang teman-teman untuk mempresentasikan hasil karya tugas akhir mereka dengan tujuan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi bersama, sehingga hasil karya tugas akhir tersebut dapat semakin memberikan banyak manfaat bagi penulis ataupun para peserta ESK.
Pembicara pertama yaitu Prihatin Tri Setyobudi, dengan judul presentasi Studi Karakteristik dan Sebaran Lateral Reservoir Batuan Dasar Granitik dengan Data Sumur Pemboran dan Seismik 3-D pada Lapangan PT, sub Cekungan Jambi, Cekungan Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik batuan dasar granit, dan nantinya akan diketahui pula potensi batuan tersebut menjadi reservoir hidrokarbon. Diketahui umur batuan granit di salah satu sumur eksplorasi disana berumur Eosen Akhir, ini didapat dari hasil analisis K-Ar dating mineral biotit di granit tersebut.

Permasalahan pertama muncul, yaitu regional geologi menyebutkan bahwa pada kala Eosen Akhir, daerah penelitian mengalami proses rifting, apakah mungkin intrusi granit tersebut muncul pada saat rifting terjadi? Atau mungkin granit tersebut bukan berumur Eosen, akan tetapi berumur Cretaceous seperti sumur yang berada di dekatnya? Dengan asumsi kesalahan penarikan umur disebabkan karena biotit yang dianalisa K-Ar tersebut sudah mengalami proses alterasi. Prihatin membagi batuan dasar granit tersebut kedalam 4 kelompok, yaitu fresh granite, fractured granite, weathered granite, dan granite washed. Pengelompokan tersebut didasarkan pada data core, kurva log GR-Res-Neu-Den-Sonic, serta didukung oleh konsep-konsep geologi yang diperkuat oleh beberapa analog outcrop.

Permasalahan kedua muncul, dari data core yang dimiliki, bagaimana cara membedakan fracture yang terbentuk secara alami karena proses tektonik (natural fractured) dengan fracture yang terbentuk akibat proses pemboran (mechanical induced fractured)?.

Diskusi berjalan dengan sangat menarik, masing-masing peserta saling melemparkan analisis dan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki, sampai akhirnya diskusi yang berjalan lebih kurang 70 menit ini ditutup dengan kesimpulan bahwa fractured granite adalah zona yang paling baik sebagai zona reservoir, ini didukung oleh data mud log, completion log, core, dan hasil DST. Ada beberapa saran yang diberikan peserta untuk penelitian ini, salah satunya untuk melihat kembali hasil DST sumur tersebut apakah sudah konklusif atau belum?. Mudweight yang digunakan berapa?. Open hole atau cased hole?.  Water yang keluar merupakan formation water atau bukan?
Sesi diskusi kedua dilanjutkan oleh Octa Vika Malda, dengan judul presentasi Geologi dan Studi Geometri Fasies Endapan Turbidit Formasi Kerek Berdasarkan Data Permukan di Daerah Kedungjati dan sekitarnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman orang terhadap karakteristik endapan turbidit laut dalam, dimana pada saat ini jarang sekali eksplorasi di Indonesia yang menargetkan reservoir pada level ini, pada umumnya reservoir target di Indonesia masih berkisar di sedimen fluvial, delta, dan karbonat.
Berbekal studi lapangan di beberapa titip pengamatan, Octa menampilkan kolom stratigrafi yang ia buat, dan mengklasifikasikannya kedalam beberapa fasies berdasarkan sumber-sumber yang ia kutip dari beberapa ahli sedimen laut dalam seperti Mutti, Walker, Shanmugam, dan Bouma. Dari hasil analisis yang ia lakukan, diperoleh kesimpulan bahwa provenace sediment Formasi Kerek ini berasal dari Utara, hal ini didapatkan dari hasil penemuan di lapangan yang menunjukkan bahwa hampir semua sedimen di lokasi penelitian tersusun atas semen karbonat. Formasi Kerek ini merupakan bagian dari Kendeng Zone, dimana pada bagian selatan merupakan pegunungan vulkanik, sehingga tidak mungkin bisa menyuplai sedimen karbonat ke formasi kerek, sedangkan di bagian utara dari zona ini merupakan carbonate platform yang diduga kuat sebagai provenance dari sedimen-sedimen di lokasi penelitian. Hal ini tentunya bertentangan dengan beberapa peneliti sebelumnya yang menyebutkan bahwa provenance Formasi Kerek berasal dari pegunungan vulkanik di bagian selatan zona kendeng. Selain itu, interpretasi octa tersebut juga didukung oleh hasil pengukuran paleocurrent dari beberapa struktur sediment yang menunjukkan arah pengendapan berasal dari arah utara.
Diskusi sesi terakhir ditutup oleh penampilah enerjik dari Tatzky Reza Setiawan yang membawakan judul Penelitian Studi Karakteristik Batuan Beku Pegunungan Schwaner Berumur Kapur-Miosen. Studi ini menggunakan data geokimia batuan.

Acara ini merupakan bagian dari program FGMI dalam memberikan tempat bagi teman-teman untuk saling berbagi pengetahuan dalam bidangnya masing-masing. Sehingga nantinya akan terbentuk komunitas saintis dalam bidang geosain yang kokoh. Kami juga mengundang temen-temen semua untuk bergabung bersama kami.  Segera daftarkan diri kami disini.  (pr/aa)

Maju terus Geosaintis Indonesia.

[shashin type=”photo” id=”12,11,10″ size=”small” columns=”max” order=”user” position=”left” crop=”y”]

Nasib Saintis: Prediksi Benar dianggap Biasa, Prediksi Salah dihujat

L’Aquila, Italia (Sumber: Wikipedia.org)

FGMI Online- Mungkin di Indonesia jarang yang tahu mengenai kasus penangkapan enam saintis Italia mantan  Komisi Nasional Bahaya Italia. Mereka didakwa karena tindak kriminal kelalaian atas gempabumi besar yang melanda kota L’Aquila di Italia Tengah yang telah menewaskan 308 orang pada 6 April 2009. Penangkapan ini termasuk kepada Profesor Franco Barberi, vulkanolog terkenal secara internasional yang pertama kali memenangkan Wager Medal dari International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI) pada tahun 1974 (Cas, 2012).

Kerusakan akibat gempa di L.Aquila, Italia (Tarantino, 2009)
(BBC news, 2011)
(My-bellavita.com, 2009)

Gempa besar telah didahului oleh banyak gempa kecil, beberapa hari sebelum kejadian itu, komisi bencana rupanya telah memberikan saran yang kurang akurat kepada Pemerintah Italia bahwa kemungkinan terjadi gempa besar itu tidak mungkin. Pada tanggal 22 Oktober 2012 mereka dihukum dengan pasal pembunuhan kemudian divonis enam tahun penjara dan harus membayar denda. Keenam saintis yang ditangkap dalam kasus pembunuhan di L’Aquila karena kelalaian dalam prediksi gempa tahun 2009 antara lain:

  • Franco Barberi, Kepala Komisi Bencana Serius Italia
  • Enzo Boschi, eks Presiden National Institute of Geophysics
  • Giulio Selvaggi, Direktur Pusat Gempabumi Nasional
  • Gian Michele Calvi, Direktur Pusat Teknologi Kegempaan Eropa
  • Claudio Eva, Ahli fisika
  • Mauro Dolce, Direktur Badan Perlindungan Sipil Terhadap Resiko Gempabumi
  • Bernardo De Bernardinis, eks Wakil Presiden Departemen Teknis Badan Perlindungan Sipil
    (Cas, 2012).

Mereka bukanlah pemula, tetapi mereka saintis terkemuka dengan pengalam bertahun-tahun di bidangnya. Menempatkan para saintis dalam kriminal karena kelalaian sangatlah tidak bermoral, karena mereka bukan yang menyebabkan gempa yang tidak bisa mereka cegah dan prediksi seakurat mungkin, lalu mengapa mereka dinyatakan bersalah atas pembunuhan?. Penangkapan ini merupakan lelucon yang menjadikan mereka sebagai kambing hitam. Kesalahan prediksi seperti ini pernah terjadi ketika bencana gempabumi di Christchruch, Selandia Baru, dimana gempa besar tidak dapat diprediksi dan kota tidak dievakusi bahkan ketika krisis gempa datang (Cas, 2012).

Prediksi waktu, magnitudo, dan memperkirakan resiko dampak dari semua bencana alam (gempabumi, letusan gunungapi, tsunami, longsor, banjir, dan lain-lain) sangatlah sulit. Mereka hanya dapat memperkirakan dengan spektrum skenario dari kasus terburuk hingga kasus terendah yang diusulkan. Para saintis memang bertanggungjawab memberikan saran berdasarkan pemahaman mereka pada situasi saat terjadi bencana dan pengalaman yang relevan dari tahun-tahun sebelumnya. Bagaimanapun juga mereka tidak bisa memberikan prediksi yang tepat setiap saat. Hal ini bukan karena ketidakmampuan teknologi atau bukan karena mereka tidak kompeten dan lalai, tetapi sederhana saja karena alam benar-benar sulit untuk diprediksi dampak dan besarnya pada setiap peristiwa bencana. Karena mereka sebenarnya telah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan dalam keadaan untuk membantu memberikan saran kepada pemerintah (Cas, 2012).

Sialnya mereka yang menjadi saintis dalam kebencanaan, saat prediksi benar itu dianggap biasa saja, bahkan tanpa ucapan terima kasih, sedangkan saat prediksi salah akan dihujat dan diingat sepanjang masa kesalahannya. Padahal tak sedikit para saintis yang “mengorbankan nyawanya” dalam penelitian-penelitian kebencanaan hanya untuk satu tujuan “menyelamatkan nyawa orang lain”.
Sedangkan kesalahan prediksi pengeboran yang dilakukan oleh perusahan migas dalam eksplorasi itu tidak diangap kriminal, padahal kesalahan prediksi besar dan dampak bencana dengan kesalahan prediksi dalam pengeboran sama-sama merugikan negara. Hal seperti ini terjadi di negara maju seperti Italia yang telah banyak melakukan penelitian secara detail dalam bidang kebencanaan seperti letusan gunungapi dan gempa. Bagaimana dengan Indonesia yang memiliki sangat banyak potensi bencana, tetapi sangat sedikit melakukan penelitian dalam bidang kebencanaan?.
Semoga hal ini tidak terjadi di Indonesia dan pemerintah terus meningkatkan penelitian di bidang kebencanaan demi mengurangi dampak dari suatu bencana yang tidak pernah kita harapkan datang. Sebagai kalangan geosaintis sebaiknya kita menjadi duta yang selalu tanggap bencana dan tetap waspada dimana pun kita berada dan bekerja dalam bidang apapun. Karena bencana datang tanpa diduga-duga.

Penulis : Arul Kamil  (Peneliti Vulkanologi Universitas Diponegoro)

Referensi
Anonim, “ L’Aquila “ <http://id.wikipedia.org/wiki/L%27Aquila>, 5 November 2012.
Anonymous, “ Calabria Mourns for L’Aquila Earthquake Victims ” <http://my-bellavita.com/2009/04/08/calabria-mourns-for-laquila-earthquake-victims/>, 5 November 2012.
Anonymous, “ Italy scientists on trial over L’Aquila earthquake “ <http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-14981921 >, 5 November 2012.
Cas, Ray, <ray.cas@monash.edu>, “ Conviction of Scientists in Italy Involved in the 2009 l’Aquila Earthquake Disaster, Italy – A Response from IAVCEI“ email from Ray Cas, 26 October 2012.
Tarantino, Alessandra, “ L’Aquila earthquake of 2009: rubble-strewn neighbourhood in the village of Castelnuovo, Italy, after the earthquake on April 6, 2009 ” <http://www.britannica.com/EBchecked/media/153572/A-man-walking-through-a-rubble-strewn-neighbourhood-in-the>, 5 November 2012.

FGMI Eksperience Sharing Knowledge III

Peserta acara FGMI ESK III yang terdiri dari para profesional muda serta mahasiswa.

Jakarta, FGMI Online – FGMI sukses menggelar Eksperince Sharing Knowledge (ESK) III di Bakrie Tower hari minggu kemarin (11/11).  Acara yang rutin diselenggarakan oleh FGMI ini menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesesama anggota FGMI. Tidak jarang juga FGMI menghadirkan pembicara yang telah berpengalaman dibidang terntentu, dalam ranah geosains, untuk berbagi pengalaman mereka.

Dalam ESK III kali ini menghadirkan tiga pembicara yang masing-masing membawakan topik yang berbeda. Antara lain, Gayuh Putranto dari PT Bumi Resource Mineral yang membawakan materi dengan judul “Porphyry Cu – Au Indonesia“, Fajar Setiawan dari MIcromine dengan tema “ Introduction to Geomodelling and Geostatistics in Mineral Deposits”, serta Aveliansyah dari Pertamina Hulu Energi ONWJ dengan tema “Deeper Exploration Target in Mature Field”.

Dalam materi yang dibawakan, Gayuh menjelaskan tentang definisi pophryry secara umum dan tektonic setting terbentuknya endapan porphyry, dan disertakan studi kasus di Batu Hijau Newmount.  Sementara Fajar Setiawan menjelaskan tentang cara membuat nilai dalam sebuah block modeling suatu endapan tubuh mineral. Dengan kata kunci yaitu bentuk,  kualitas dan kuantitas.  Dan dalam materi ketiga Aveliansyah menjelaskan tentang reinterpretasi data lama menggunakan ide dan konsep baru sehingga mendapatkan target – target baru di lapangan “X” dan “Y”.

Selama jalanya acara tampak peserta sangat antusias menyimak presentasi serta aktif dalam diskusi tanya jawab. Pertanyaan bervariasi tentang jenis mineral dan sistem porphyry, metode geostastistik yang digunakan dalam beberapa tahapan eksplorasi, serta tentang metode geofisika yang dilakukan dan interpretasi geologi.

FGMI yang dibentuk sebagai wadah bagi para profesional muda serta mahasiswa, bertekad dengan semangat yang tinggi mengadakan kegiatan positif seperti ini. Hal ini silakukan sebagai bagian dalam mewujudkan visinya, yaitu menjadi forum yang berperan terhadap pembentukan karakter, peningkatan kompetensi pemuda Indonesia, sehingga dihasilkan pemuda Indonesia yang siap bersaing di era globalisasi. Juga harapan terbesar dari FGMI yaitu kedepan semakin banyak peserta yang terlibat dalam sharing seperti ini. (aa)

Karimunjawa: Serangkaian Kepulauan Karbonat di Utara Jawa

Salah satu pemandangan bawah laut di daerah Taman Nasional Karimun Jawa. Foto: Mulyadi (Karimum Jawa Nasional Park)
Karimun Jawa, FGMI Online – Taman Nasional Karimunjawa secara administratif masuk wilayah Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.  Letak Taman Nasional Karimunjawa berjarak 45 mil laut dari kota Jepara atau 60 mil laut dari Semarang. Untuk mencapai Taman Nasional Karimunjawa dibutuhkan kapal yang terdapat di Jepara.
Dari sisi geologi, Taman Nasional Karimunjawa merupakan sebuah atoll carbonate, reef build up terbentuk di sekelilingnya, dan pada bagian tengahnya (lagoonal) merupakan reefal bioklastik hasil rombakan current ward dari arus. Selain itu pada bagian lagoonal juga terbentuk patch reef yang berkembang. Dikarenakan komposisi utama pembentuknya berupa material karbonat, maka hasil endapan yang terbentuk di Taman Nasional Karimunjawa merupakan endapan hasil rombakan dari reef build up-nya, oleh karena itu endapan yang dihasilkan relatif berwarna cerah.
Taman Nasional Karimunjawa memiliki pasir berwarna putih, pantai berwarna biru dan disertai dengan terumbu karang dan fauna yang sangat beragam menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi turis asing dan domestik, sehingga tidaklah menjadi aneh jika pada masa liburan, Taman Nasional Karimunjawa menjadi salah satu tujuan wisata.(ba/aa

FGMI Mengadakan Seminar Sumpah Pemuda di Jakarta

Pembicara yang hadir dalam acara seminar.

Jakarta, FGMI Online – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) bekerjasama dengan IAGI, HMGI, dan HMGF UI, menyelenggarakan diskusi panel dengan tema “Geosaintis Muda, Dedikasi Untuk Negeri” & “Nasionalisasi Sumber Daya Alam Indonesia” kemarin (28/10) . Acara yang diadakan di Kampus FMIPA UI ini mampu menarik antusias yang tinggi dari para geosaintis muda, terbukti selama selama diskusi berlangsung ruangan terisi penuh dan diskusi berjalan hangat.

Pembicara yang hadir dalam acara ini diantaranya Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Rovicky Dwi Putrohari, Sekjen Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Mailendra, Direktur ETTI, M.Syaiful, Mantan Ketua IAGI sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina EP, Achmad Luthfi , Direktur Indonesia Resources Studies /IRESS, Marwan Batubara, Direktur SDM PT. Aneka Tambang, Achmad Ardianto, dan tokoh penting lainnya.

Acara dibuka dengan sambutan dari ketua FGMI, Bhaskara Aji, serta menampilkan video sejarah sumpah pemuda dan perjuangan selama masa penjajahan di Indonesia. Dalam sambutannya ketua FGMI juga mengajak pada kaum muda, untuk terus berjuang demi kemajuan bangsa dan negara.

Pernyataan Bersama IAGI- HAGI

Rovicky dalam materi yang dibawakannnya membahas tentang peran geosaintis muda dan ketahanan energi (migas) nasional. “Setiap gerakan pemuda itu harus ikhlas dan memerdekakan”, ujarnya. Dalam acara tersebut juga dibacakan pernyataan bersama IAGI dan HAGI tentang swakelola pengusahaan sumberdaya alam Indonesia. Pernyataan tersebut berisi enam saran konkrit bagi pemerintah Indonesia antara lain sebagi berikut:

  1. Melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi, institusi pendidikan dan organisasi profesi untuk mempertahankan kemampuan dan kaderisasi sumberdaya manusia Indonesia untuk pengelolaan sumberdaya alam secara profesional.
  2. Melibatkan organisasi profesi untuk melakukan evaluasi potensi sumberdaya alam di daerah baru atau pun di daerah yang akan habis masa kontraknya, sehingga dapat dihasilkan strategi pengelolaan sumberdaya alam yang bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat.
  3. Melakukan pembinaan yang terus menerus untuk kepatuhan pemenuhan komitmen kontrak yang sudah berjalan.
  4. Dalam kaitan kontrak kerjasama yang akan berakhir, semestinya pemerintah mengutamakan perusahaan nasional yang mampu mengelola secara profesional.
  5. Mengutamakan kegiatan eksplorasi untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya alam Indonesia, dengan menggiatkan kegiatan riset dan penelitian yang melibatkan universitas, institusi riset dan organisasi profesi terkait.
  6. Mendorong perusahaan di bidang sumberdaya alam untuk melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia dalam rangka meningkatkan partisipasi investasi nasional di bidang sumberdaya alam.

Acara seminar ini merupakan serangkaian agenda kegiatan dari FGMI dalam tahun ini, FGMI sendiri merupakan wadah konumikasi kaum muda dalam bidang geosaintis yang telah dibentuk dalam acara PIT IAGI ke-41 di Yogjakarta beberapa waktu yang lalu. (aa/aa)

Gempa Menggoyang Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com – Gempa menggoyang Jakarta, Kamis (1/11/2012) sekitar pukul 21.15 WIB. Getaran gempa terasa hanya beberapa detik saja. Sejumlah orang melaporkan merasakan gempa tersebut di Twitter. Di lantai 5 Gedung Kompas Gramedia, getaran gempa.juga terasa beberapa saat dan menggoyang barang-barang yang tergantung dan di atas meja. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir gempa yang terasa di Jakarta berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR). Pusat gempa berjarak sekitar 136 kilometer dari Jakarta atau sekitar 24 kilometer tenggara Cianjur. Tepatnya pada koordinat 7.25 Lintang Selatan (LS) dan 107.35 Bujur Timur (BT) serta pada kedalaman 163 kilometer.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/01/21241474/Gempa.Menggoyang.Jakarta

The Wave: Batu Merah yang Menakjubkan

Jakarta, venturacountytrails.org- “The Wave” yang terletak di perbatasan Utah dan Arizona, Amerika, merupakan salah satu keajaiban dunia. “The Wave” yang merupakan rekaman stratigrafi ideal batu pasir Formasi Navajo. Batu pasir Navajo merupakan endapan eolian yang membentuk struktur mega crossbedding. “The Wave” menunjukan ke eksotisannya dengan setiap lekuk lekuk crossbedding yang tersingkap di setiap lembah”nya. Terbayang sebuah kejadian yang fantastis sehingga bisa membuat kenampakan yang se eksotis ini. Sebuah gelombang angin yang sangat besar sehingga mampu memindahkan pasir- pasir  tersebut yang kemudian terendapkan pada suatu tempat, yang kemudian diatasnya diendapkan pasir yang baru dan terjadi secara terus menerus.(ba/aa).

Sumber : http://venturacountytrails.org

Kondisi Terumbu Karang Indonesia Yang Semakin Baik

Jakarta, FGMI Online – Saat ini Coral Reef Information and Training Center (CRITC) sudah melakukan program rehabilitasi terumbu karang di Indonesia. Program ini dinamakan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP). Program ini dilakan dengan memberikan stasiun pengamatan sejumlah 234 stasiun pengamatan di seluruh Indonesia. Untuk program ini, Indonesia dibagi menjadi dua bagian, Barat dan Timur. Indonesia Barat yang terdiri dari delapan lokasi, termasuk Nias, Mentawai, dan Kepulauan Riau, disponsori Asia Development Bank. Sedangkan Indonesia Timur yang terdiri dari tujuh lokasi termasuk di antaranya Selayar, Wakatobi, dan Raja Ampat, didukung World Bank. COREMAP sudah dilakukan dua fase, fase pertama dimulai sejak tahun 1998 hingga 2004 dan fase kedua pada tahun 2004 sampai 2011. Hingga akhir fase kedua, sudah terlihat adanya peningkatan implementasi di daerah sehingga diharapkan dengan adanya peningkatan ini, maka fase ketiga dapat dilaksanakan kembali.(ba/aa).

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/11/kondisi-terumbu-karang-indonesia-tunjukkan-peningkatan

IAGI : Indonesia Mampu Mengelola PSC yang Habis Kontrak

Kepercayaan terhadap kemampuan dan potensi yang dimiliki anak bangsa harus diperlihatkan oleh pemerintah. Salah satunya adalah memberikan hak pengelolaan blok migas asing yang sudah selesai masa kontraknya kepada perusahaan minyak nasional.

‘’Kita memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, sangat mampu untuk mengelola blok migas dimanapun,’’ kata Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari di Jakarta, Selasa (23/10/12). Persoalan finansial juga tidak menjadi masalah, karena semua fasilitas untuk memproduksi minyak yang sudah habis masa kontraknya, sudah terbayar.

Dalam beberapa pekan belakangan ini, muncul perdebatan mengenai siapa yang pantas untuk mengelola Blok Mahakam yang akan berakhir pada 31 Maret 2017 nanti. Meskipun masih cukup lama tetapi ancang-ancang untuk memperebutkan pengelolaan blok tersebut sudah dimulai.

Di satu sisi ada kelompok kritis yang menginginkan agar pengelolaan blok yang habis masa kontraknya diberikan sepenuhnya kepada perusanaan nasional, khususnya Pertamina. DI pihak lain, banyak orang pemerintah yang masih berpikir untuk tetap memberikan blok tersebut kepada asing.

Menyikapi perdebatan tersebut, Rovicky tetap berpendirian bahwa semestinya diberikan ke perusahaan nasional. Bagi dia tidak alasan kontrak pengelolaan blok itu diperpanjang atau diberikan kembali ke perusahaan asing.

Menurut Rovicky, banyak keuntungan yang diperoleh jika pengelolaan dipegang oleh perusahaan nasional. Pertama dari sisi pendapatan, karena dikelola oleh perusahaan nasional, maka hasil keuntungan tidak akan lari keluar negeri. Apalagi jika pengelolaan diberikan kepada Pertamina, maka negara dan rakyat yang akan diuntungkan.

Kedua dengan pengelolaan di tangan perusahaan nasional berarti memberikan peluang kerja yang lebih luas kepada tenaga kerja Indonesia. Ketiga yang tidak kalah penting adalah menjamin bahwa produksi minyak dan gas itu untuk kepentingan domestic. ‘’Security of supply akan lebih terjamin,’’ kata Rovicky.

Dalam konteks yang lebih luas, Rovicky memandang bahwa pengelolaan sumberdaya alam oleh persauaan domestic itu sekaligus juga merupakan strategi untuk mencapai ketahanan energi. Masa depan dunia salah satunya adalah ketahanhan energi, sehingga kita perlu mengamankan penggunaan energi dalam negeri kita sendiri.

Secara hukum, blok yang sudah habis masa kontraknya itu dikembalikan kepada negara. Di sini pemerintah akan menentukan apakah kontrak tersebut diperpanjang atau tidak. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, hampir semua kontrak yang habis masa kontraknya diperpanjang lagi, termasuk Blok Mahakam yang dulu berakhir pada 31 Maret 1997 dan kemudian diperpanjang.

Kini, kata Rovicky, dalam masa pemerintahan yang demokratis ini saatnya menempatkan nasionalisme digaris terdepan sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat. ‘’Nasionalisme itu kita buktikan dengan memberikan blok yang habis masa kontraknya ke perusahaan nasonal,’’ katanya.

Terkait dengan itu, IAGI akan mengadakan diskusi panel bertajuk ‘Nasionalisasi Sumberdaya Alam’ pada 28 Oktober 2012 di Aula Mandiri Kampus UI Depok. Diskusi yang mengusik nasionalisme di bidang migas itu sekaligus untuk memperingati hari Sumpah Pemuda ke 84.

Peresmian FGMI di PIT IAGI ke-41

Ketua FGMI Bhaskara Aji memberikan sambutan pada Peresmian FGMI di PIT IAGI ke-41 di Yogyakarta. (Foto oleh: Rizqi Syawal).

Yogjakarta, FGMI Online – Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) secara resmi telah dideklarasikan pada Pertemuan Ilmiah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (PIT IAGI) ke -41 di Yogyakarta,  17 september 2012 lalu. Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Ketua BPMIGAS Ir. R Priyono, Wakil Ketua BPMIGAS Widjonarko, serta pengurus dan mantan pengurus IAGI. Peresmian ini ditandai dengan pidato peresmian oleh Ketua IAGI Rovicky Dwi Putrohari dan Ketua Formatur FGMI Bhaskara Aji. Selengkapnya

  • Jaringan

  • Follow Us On Instagram

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id