FGMI melakukan Audiensi dengan Komite Eksplorasi Nasional (KEN)

Suasana diskusi FGMI dengan KEN
Suasana diskusi FGMI dengan KEN

Jakarta, FGMI Online – Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) melakukan audiensi dengan Komite Eksplorasi Nasional (KEN) di Jakarta, Jumat, 22 April 2016. Audiensi dipimpin langsung Ketua KEN Dr. Ir. Andang Bachtiar, MSc. dan didampingi Sekjen, Koordinator, dan staf Bidang Riset KEN, serta staf sekretariat KEN lainya. Dari FGMI dipimpin oleh Ketua FGMI, Aveliansyah didampingi Penasehat FGMI, Ketua, dan Pengurus Divisi Litbang, Pengurus Divisi SM IAGI, Pengurus Divisi IT dan Keanggotaan,  dan Pengurus Divisi Sosial Kemasyarakatan.

KEN menyatakan kesiapannya mendukung program peningkatan kompetensi geosaintis muda dan mahasiswa yang dilakukan FGMI. Selain itu, KEN sangat mendukung riset inovatif yang selaras dengan program prioritas yang dilakukan geosaintis muda. KEN adalah suatu institusi ad-hoc yang bertugas mempercepat dan menyelaraskan proses eksplorasi di industri ekstraksi.

Kegiatan audiensi dibuka Pak Andang dan kemudian dilanjutkan Ketua FGMI dengan dimulai perkenalan serta dilanjutkan presentasi hasil survei tentang “Tantangan Geosaintis Muda Indonesia di Masa Harga Minyak Dunia yang Rendah Saat Ini”. Saat presentasi disampaikan hasil survei, implikasi, serta rekomendasi.

Hasil survei yaitu:

1. 98% responden berpendapat harga minyak mentah dunia saat ini sangat rendah. Februari 2016, harga minyak menyentuh angka $33/barel (terendah dalam 15 tahun terakhir).
2. Beban pekerjaan bervariasi ada yang bertambah, tidak ada perubahan, dan berkurang. Sedangkan jumlah tim dalam setiap pekerjaan didominasi berkurang dalam kondisi tak ada perubahan terhadap jam kerja.
3. Dominan responden (65%) menyatakan tidak ada perubahan dan 32% responden menyatakan mengalami penurunan gaji. Akan tetapi 65% mengalami pengurangan tunjangan dan fasilitas yang diterima. Selain itu jumlah pelatihan dan fieldtrip serta program beasiswa berkurang.
4. Pemutusan hubungan kerja bertambah dan penerimaan lowongan kerja berkurang.
5. Berwirausaha di bidang non migas adalah antisipasi paling banyak dipilih (60%).
Implikasi:
1. Kemungkinan ke depan akan ada generation gap antara senior dan junior di satu perusahaan.
2. Terhambatnya proses eksplorasi yang diakibatkan oleh harga minyak mentah dunia yang rendah.
3. Munculnya kampus geologi baru (28 kampus) membuat supply SDM lebih banyak dibandingkan pembukaan lowongan kerja dari industri ekstraksi.
4. Peningkatan kompetensi yang terhambat sebagai akibat dari tidak ada/berkurangnya nya pelatihan dan fieldtrip.
Saran dari FGMI:
1. FGMI merekomendasikan agar setiap perusahaan migas dan tambang membuka lowongan magang untuk para lulusan terbaru.
2. FGMI mendorong pemerintah intensif melakukan penelitian geosain dan eksplorasi energi dengan melibatkan para geosaintis muda.
3. FGMI akan menggalakkan program Experience Sharing Knowledge (ESK) sebagai alternatif program kursus yang banyak di hilangkan dari perusahaan, serta menggandeng organisasi profesi/institusi lainnya untuk bekerja sama.
4. FGMI merekomendasikan agar setiap kampus menanamkan spirit geopreneurship terhadap para mahasiswanya.
5. FGMI mendorong setiap kampus untuk memperkuat bidang geologi kelautan, geologi teknik, dan geologi lingkungan agar para lulusannya siap untuk mengisi program pembangunan pemerintahan saat ini.

FGMI dalam kesempatan ini juga mengharapkan adanya dukungan dari KEN dalam bentuk institusi/personal netwok, pemakain ruangan, dan pemateri dalam pelaksanaan Eksperience Sharing Knowledge (ESK) atau kegiatan pengembangan kemampuan geosaintis. Selain itu juga FGMI mengharapkan adanya riset/eksplorasi yang melibatkan geosaintis muda.

Pak Andang menyatakan kesiapan KEN dalam mendukung kegiatan ESK yang diadakan FGMI. Mengenai riset/eksplorasi perlu dimulai dengan memahami istilah riset dan eksplorasi adalah suatu bentuk kegiatan sama. Sehingga dengan pemahaman itu kegiatan eksplorasi/riset tidak lah harus mahal. Riset berarti menemukan data/hasil yang baru, tidak hanya selalu terpaku oleh data seismik dan sumur.

Riset dasar geologi dan teknologi sangat dibutuhkan saat ini. Sebagai contoh riset tektonik indonesia, riset model sedimentologi khas Indonesia, riset teknologi untuk pencitraan geologi bawah permukaan di bawah/di antara endapan gunung api yang sangat banyak ditemukan di Indonesia. Tema riset eksplorasi yg menjadi fokus KEN dalam bidang migas yaitu gas biogenik, Petroleum system di daerah volkanogenik dan sub-volkanik, shale gas/oil,dan batuan pra-Tersier di Indonesia bagian barat. 

Perwakilan FGMI bersama dengan KEN
Perwakilan FGMI bersama dengan KEN

 

Generasi muda sangat diperlukan untuk menyukseskan program riset di Indonesia. Ide yg out of box dan hasil penelitian inovatif mudah keluar dari dari kepala pemuda/pemudi. Sehingga program riset dari FGMI perlu disinkronisasi dengan kebutuhan riset kebumian nasional. 

Selain bidang migas, di KEN juga terdapat bidang geothermal dan bidang minerba. Dalam bidang minerba dari Mas Gayuh Putranto (Penasehat FGMI) mengusulkan adanya suatu database online yang terbuka yang bisa diinput secara berjamaah semacam wikipedia.

Di bidang pengembangan mahasiswa geosain diusulkan untuk memperkuat riset khas Indonesia dan tidak sekedar memakai text book yang diadopsi dari penelitian di luar negeri. Selain itu untuk para geosaintis muda dan mahasiswa sangat perlu dibekali dan diperdalam kemampuan geopreneur, yaitu kemampuan wirausaha yang berdasarkan atas kecintaan dan keahlian terhadap cabang ilmu kebumian sehingga dapat memiliki nilai ekonomis.

Admin2 FGMI

Leave a comment

  • Jaringan

  • Crown palace Blok C No. 28
    Jl. Prof. Dr. Supomo SH. No 231
    Tebet, Jakarta 12870

    Telp:(021) 83702848 - 83789431
    Fax: (021)83702848
    Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id